Siaran Berita, Bone, (17/1/2026) – Di tengah lanskap dakwah yang terus berubah, sebuah nama perlahan menempati ruang perhatian publik, terutama kalangan muda Sulawesi Selatan. Aidil Fadli hadir bukan dengan retorika keras atau gaya menggurui, melainkan melalui tutur yang tenang dan bahasa yang akrab. Dari Bone, ia membangun dakwah sebagai ruang perjumpaan nilai, menghadirkan pesan agama yang selaras dengan denyut kehidupan generasi muda.
Aidil Fadli adalah seorang da’i muda dan penceramah kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, pada 24 Desember 2007. Di usianya yang masih remaja, ia telah dikenal sebagai figur pendakwah yang aktif menyampaikan pesan keislaman melalui berbagai forum, baik kegiatan keagamaan masyarakat maupun ruang media. Aidil tumbuh dalam lingkungan yang mendorong kecintaan terhadap ilmu agama, membentuk ketekunan belajar dan keberanian berbicara di hadapan publik sejak dini. Ia tidak hanya memahami dasar-dasar keislaman, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi yang kuat, menjadikannya mudah diterima oleh generasi seusianya.
Keterlibatan Aidil dalam dunia dakwah mulai mendapat sorotan lebih luas ketika ia dipercaya tampil sebagai narasumber dalam program Tapari, Tausiyah Pagi Hari, yang disiarkan NET TV Sulawesi Selatan. Dalam tayangan tersebut, Aidil menyampaikan tausiyah dengan pendekatan yang sederhana, kontekstual, dan menyentuh persoalan keseharian. Penampilannya mencerminkan karakter da’i muda yang tenang, artikulatif, dan mampu membangun kedekatan emosional dengan audiens, tanpa kehilangan substansi pesan agama.

Bagi Aidil, dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara di mimbar, melainkan proses panjang membangun keteladanan. Ia menempatkan dirinya sebagai bagian dari generasi muda yang juga terus belajar, berproses, dan memperbaiki diri. Materi dakwah yang ia sampaikan banyak berangkat dari pengalaman sosial anak muda, kegelisahan moral, serta tantangan menjaga nilai keimanan di tengah derasnya perubahan zaman. Pendekatan ini menjadikan dakwahnya terasa relevan dan tidak berjarak.
Di luar layar televisi, Aidil Fadli tetap aktif menjalankan peran dakwahnya dalam lingkup masyarakat dan komunitas pemuda. Ia konsisten memperluas wawasan keilmuan, memperdalam pemahaman agama, serta membangun jejaring dakwah yang sehat dan inklusif. Kesadaran bahwa dakwah membutuhkan kesiapan ilmu dan akhlak menjadi prinsip yang ia pegang dalam setiap langkah.
Kehadiran Aidil Fadli menghadirkan gambaran baru tentang peran da’i muda. Ia membuktikan bahwa usia tidak membatasi kontribusi, selama disertai niat yang tulus dan kesungguhan dalam belajar. Di tengah tantangan generasi muda yang kerap dipersepsikan jauh dari nilai-nilai agama, Aidil justru hadir sebagai jembatan, memperlihatkan bahwa dakwah dapat tumbuh seiring perkembangan zaman.

Harapan masyarakat pun mengiringi perjalanannya. Aidil Fadli dipandang sebagai bagian dari generasi pendakwah masa depan yang mampu menjaga keseimbangan antara tradisi keilmuan dan cara komunikasi yang modern. Dengan langkah yang perlahan namun konsisten, ia menegaskan bahwa dakwah tidak selalu harus keras untuk didengar, cukup jujur, tulus, dan relevan untuk dirasakan.
Dari Bone, Aidil Fadli terus menapaki jalannya. Sebuah perjalanan dakwah yang masih panjang, namun telah menunjukkan arah yang jelas, bahwa pesan kebaikan akan selalu menemukan jalannya ketika disampaikan dengan hati dan kesadaran zaman.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































