Ada lembaga yang tampak rapi, tertib, dan saleh. Kata katanya penuh nilai. Wajahnya teduh. Jubahnya tampak bersih. Tapi di balik kain yang disetrika moral itu, ada tangan yang bekerja tanpa rasa bersalah. Bukan satu tangan. Sebuah sistem.
Keputusan di lembaga ini tidak lambat. Justru terlalu cepat. Terlalu pasti. Seolah tidak perlu nalar organisasi. Ada struktur di dalam struktur. Ada lingkaran yang tidak tercantum di bagan, tapi menentukan segalanya. Sekali diputuskan, ia menjelma kebenaran. Tidak bisa ditanya. Tidak bisa digugat. Siapa yang bertanya dianggap tidak paham amanah. Siapa yang meminta penjelasan dicurigai tidak satu barisan.
Di atas kertas, jabatan berlapis lapis. Dewan ada. Pengawas ada. Direksi ada. Komite ada. Chief di mana mana. Tampak profesional. Padahal lapisan itu lebih sering berfungsi sebagai peredam. Yang mengawasi dan yang diawasi duduk di meja yang sama, minum legitimasi dari gelas yang sama. Pengawasan berubah menjadi seremoni. Akuntabilitas jadi pajangan.
Disiplin moral diterapkan tajam ke bawah. Bukan lewat teladan, tapi lewat ketakutan. Karyawan diingatkan tentang dosa, azab, dan hukuman. Operasional yang dianggap berlebihan bisa dilabeli maling. Kesalahan kecil dibesarkan. Nada suara meninggi. Ancaman halus dibungkus nasihat. Diam menjadi pilihan paling aman.
Ke atas, moral berubah elastis. Lentur. Bisa ditarik sejauh apa pun tanpa putus. Ketika para petinggi menyentuh entitas bisnis yang dibentuk di bawah payung kesucian, logika tata kelola menguap. Keputusan investasi bisa turun secepat kilat. Seperti wahyu dadakan. Tanpa kajian yang bisa diuji. Tanpa risiko yang dibagi secara adil. Ketika hasilnya gagal dan uang menguap, tanggung jawab mendadak kolektif. Kita tanggung bersama. Kalimat suci untuk menenggelamkan jejak.
Kerja sama besar dijual dengan narasi luhur. Dana terkumpul lama. Angkanya membuat orang biasa menelan ludah. Lalu fondasinya runtuh karena kelalaian yang seharusnya bisa dicegah. Sengketa. Pengadilan. Kekalahan. Uang lenyap. Pihak luar menagih kembali. Mereka memilih menyelamatkan diri, tidak mau ikut tenggelam bersama kesalehan yang retak.
Respons lembaga selalu rapi. Tidak ada pengakuan telanjang. Yang ada manuver. Utang diambil. Skema dirapikan. Cicilan berjalan. Lalu pertanyaannya sederhana. Dari mana napasnya diambil. Jawabannya tidak pernah diucapkan lantang. Dari sumber yang paling patuh. Dari dana rutin internal yang dipotong dengan label zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Tulang punggung yang paling diam dijadikan bantalan untuk menutup lubang kebijakan elite.
Skemanya canggih. Tidak kasar. Program tetap ada. Spanduk tetap berkibar. Laporan tetap cantik. Namun sebagian penerimaan dialihkan menjadi proyek proyek yang dikerjakan entitas bisnis mereka sendiri. Dari sana uang bergerak. Sunyi. Rapi. Dan di ujung tahun, fasilitas tetap dinikmati. Akses tetap terbuka. Proposal dari lingkaran dalam jarang ditolak. Angkanya melayang ringan. Sementara kerja sama lewat jejaring bisa bernilai puluhan sampai ratusan juta, seolah itu hal biasa.
Di sisi lain, ada wajah yang jarang dihitung. Pegawai yang menggantungkan hidupnya pada lembaga ini. Ada yang bekerja hampir dua tahun, tapi statusnya masih relawan. Digaji seperti uang jajan. Angkanya terdengar seperti lelucon pahit di kota dengan biaya hidup yang kejam. Jauh di bawah kelayakan. Jauh di bawah standar. Tapi mereka diminta ikhlas. Diminta sabar. Diminta takut. Sementara para pengambil keputusan bekerja seenaknya, menikmati posisi, fasilitas, dan akses yang tidak pernah dirasakan oleh mereka yang memeras tenaga.
Inilah kejahatan kerah putih. Tidak ada teriakan. Tidak ada borgol. Tidak ada adegan dramatis. Yang ada rapat. Tanda tangan. Stempel. Bahasa nilai yang terus diulang. Kesucian dipakai sebagai alibi. Struktur dipakai sebagai tameng.
Ada ironi yang lebih menyakitkan. Lembaga ini pelan pelan menjelma sekoci bagi kasta tertentu. Mereka yang tersingkir dari industri, dipensiunkan, atau diparkir, dikumpulkan kembali. Diberi kursi. Diberi jabatan. Diberi akses. Dalihnya pengabdian. Sementara mereka yang benar benar bekerja, yang memikul operasional harian, diperlakukan seperti lapisan paling bawah. Diminta patuh. Diminta diam. Diminta jangan banyak tanya.
Tulisan ini tidak menyebut nama. Tidak menunjuk wajah. Ia hanya memotret pola. Karena masalahnya bukan satu dua orang. Masalahnya sistem yang terlalu ramah pada kekuasaan, terlalu keras pada yang lemah, dan terlalu percaya bahwa jubah suci bisa menutup tangan yang kotor.
Kesucian yang dipamerkan tanpa koreksi hanya akan menjadi dekor. Amanah yang terus diucapkan tanpa pembatasan diri akan berubah menjadi privilese. Dan selama itu dibiarkan, tangan di balik jubah akan terus bekerja. Rapi. Sunyi. Tanpa pernah merasa salah.
Oleh : Indonesia Zakat and Philanthropy Watch (IZPW)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































