Siaran-Berita.Com//LAMONGAN — SABTU, 7 Februari 2026, pukul 12.15 WIB. Di bawah langit cerah yang membentang di atas perairan tenang Lamongan, seorang pria berdiri di atas perahu kayu sederhana. Di tangannya, joran pancing terayun pelan mengikuti arus. Tak hanya ikan yang ia nantikan, tetapi juga ketenangan batin—ruang sunyi untuk berdialog dengan diri sendiri tentang hidup, perjalanan, dan takdir.
Ia menggenggam masa depan yang tak kasat mata. Tak tahu ke mana langkah akan membawanya, namun di antara sunyi, ia mendengar bisikan lembut: bahwa tangan yang paling mencintainya telah menulis setiap lembar kisah hidupnya dengan penuh kasih. Dalam ketidakpastian, ia merasa ada keteraturan yang tak tampak—jalan yang dipijak seakan telah diatur agar kaki tak tergelincir.

Perjalanan memancing hari itu bukan sekadar hobi. Ia menjadi metafora tentang hidup: melempar umpan harapan ke perairan luas, menunggu dengan sabar, menerima apa pun yang datang. Kadang tarikan kuat, kadang senyap. Seperti hidup—kadang memberi kejutan, kadang menguji ketabahan.
“Aku melangkah tanpa kepastian,” ujarnya pelan, “namun setiap persimpangan selalu membawaku ke tempat yang tepat.” Seperti kapal di samudra yang menemukan pelabuhannya meski badai tak henti menerpa. Ia bertanya dalam hati, apakah ia yang memilih jalannya, ataukah jalannya yang telah dipilihkan untuknya. Pertanyaan itu tak menuntut jawaban segera. Ia cukup menjadi teman perjalanan.

Baginya, takdir bukan belenggu. Ia adalah kisah yang dituliskan dengan cinta. Ia memilih mempercayainya seperti seorang anak percaya bahwa ibunya tak akan membiarkannya tersesat. Ia melihat hidup sebagai daun yang terbang mengikuti angin—bukan angin biasa, melainkan hembusan takdir yang diatur oleh tangan yang lebih besar dari yang bisa ia pahami.
Sesekali hujan turun, membasahi langkah. Ragu menyelinap: apakah ini bagian dari kisah yang ditulis untuknya, ataukah ia hanya salah memilih jalan? Namun di sepanjang jalur itu, ia melihat bunga-bunga kecil tumbuh—tanda bahwa setiap tetes hujan pun memiliki tujuan. Seperti benang halus dalam kain, ia merasa menjadi bagian dari pola besar yang belum utuh terlihat.
Ia tak menafikan keinginan untuk memberontak—mencari jalan lain, menuliskan kisahnya sendiri. Namun setiap kali melawan arah, ia selalu kembali ke titik di mana semuanya terasa benar. Seperti sungai yang akhirnya tiba di laut, tak peduli seberapa banyak bebatuan menghadang.
Hari itu, di atas perahu yang bergoyang pelan, ia mengingat luka-luka lama: kehilangan yang hampir mematahkan harapan, impian yang luruh satu per satu seperti dedaunan gugur. Ia pernah bertanya, mengapa semua terasa begitu berat. Kini, ia melihat jawabannya: setiap kehilangan mengajarkan arti menerima; setiap kegagalan membentuk kesabaran; setiap luka menempa kekuatan.
Seperti malam gelap sebelum fajar, ia harus melewati kelam untuk mengenali cahaya. Mungkin takdir bukan garis lurus yang kaku, melainkan labirin dengan banyak cabang—dan setiap pilihan, baik atau buruk, tetap membawa ke tujuan yang telah disiapkan. Bukan tentang menghindari apa yang tertulis, tetapi tentang menjalaninya dengan keberanian.

Ia belajar bahwa hidup tak selalu memberi apa yang diinginkan, tetapi selalu menyediakan apa yang dibutuhkan. Meski jalannya berkelok, setiap tikungan membawa pelajaran. Meski badai datang, pelangi menanti. Kini ia melangkah bukan dengan ketakutan, melainkan keyakinan; bukan lagi bertanya “mengapa ini terjadi padaku?”, tetapi “apa yang bisa kupelajari dari ini?”
Di sela hembusan angin dan bunyi riak air, ia menyadari: jawaban seringkali tak berada di luar sana, melainkan di dalam hati—tersembunyi dalam kepercayaan, penerimaan, dan keberanian untuk terus melangkah. Ia memilih merangkul ketidakpastian, mempercayakan langkah pada Sang Penulis cerita hidupnya.

“Langit tak pernah meminta burung tahu ke mana ia harus terbang,” katanya, “karena angin telah menuntunnya sejak awal.” Ia pun memilih berjalan dengan tenang, menerima setiap hari sebagai halaman baru dari cerita yang belum selesai. Meski akhir belum terlihat, ia percaya kisah ini akan berujung indah—sebagaimana yang telah direncanakan sejak awal.
Di tepian Lamongan, di antara perahu kayu dan joran pancing, ia menemukan makna sederhana: takdir bukan rantai, melainkan jembatan. Bukan ketakutan, melainkan harapan. Bukan beban, melainkan kasih yang membimbing.
“Aku merangkul takdir yang bahkan tidak kuketahui isinya apa. Lalu aku mendengar bahwa yang paling mencintaiku lah yang menuliskan isinya.”
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Allah Maha Mengetahui kebenaran.
Cerpen — Al-fakir @ Sunariyanto
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































