Peran guru tidak pernah berhenti pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru adalah figur teladan, penjaga nilai, sekaligus pembentuk karakter generasi masa depan. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk terus meng-upgrade diri dan meningkatkan kemampuan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Belajar bagi guru bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Akhir-akhir ini, dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kasus seorang guru yang dianggap membuat konten mengarah pada child grooming. Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa tantangan guru di era digital tidak hanya berkaitan dengan metode pembelajaran, tetapi juga menyangkut etika, batasan profesional, dan pemahaman psikologis terhadap anak. Guru tidak lagi hanya berhadapan dengan siswa di kelas, melainkan juga dengan ruang digital yang penuh risiko dan pengawasan publik.
Di sinilah pentingnya seorang guru mempelajari psikologi, meskipun secara mandiri. Psikologi membantu guru memahami tahap perkembangan anak, cara berpikir, emosi, serta batas-batas interaksi yang sehat antara pendidik dan peserta didik. Tanpa pemahaman ini, niat yang awalnya dianggap biasa saja bisa disalahartikan, bahkan berpotensi melanggar norma sosial dan hukum.
Pemahaman psikologi juga membuat guru lebih peka dalam bersikap. Guru mampu membedakan mana bentuk perhatian yang mendidik dan mana yang sudah melewati batas kewajaran. Dengan bekal psikologi, guru akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial, sehingga tidak terjebak dalam perilaku yang dapat merugikan diri sendiri, siswa, maupun institusi pendidikan.
Selain itu, mempelajari psikologi membantu guru menghadapi beragam karakter siswa. Tidak semua anak dapat diperlakukan dengan pendekatan yang sama. Ada siswa yang membutuhkan penguatan emosional, ada yang memerlukan batasan tegas, dan ada pula yang perlu pendampingan khusus. Guru yang memahami psikologi akan lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah terbawa emosi atau prasangka.
Belajar psikologi secara mandiri bukanlah hal yang mustahil, bahkan menjadi semakin relevan di tengah perubahan zaman yang cepat. Di era keterbukaan informasi saat ini, guru memiliki banyak pintu untuk memperkaya pemahaman dirinya. Buku-buku psikologi pendidikan, jurnal ilmiah yang mudah diakses, pelatihan daring, webinar, hingga forum diskusi profesional antarpendidik dapat menjadi sarana pembelajaran yang berkelanjutan. Semua sumber tersebut dapat dimanfaatkan tanpa harus menunggu program formal, selama ada kemauan dan kesadaran untuk terus bertumbuh.
Kemauan untuk belajar inilah yang menjadi kunci utama kualitas seorang guru. Guru yang terus meng-upgrade diri menunjukkan bahwa ia memahami betul tanggung jawab moral dan sosial yang melekat pada profesinya. Ia tidak berhenti pada apa yang telah ia pelajari di bangku kuliah, tetapi menyadari bahwa dinamika peserta didik terus berubah. Dengan memperdalam psikologi, guru mampu membaca situasi kelas dengan lebih jernih, bersikap lebih empatik, serta mengambil keputusan yang lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan peserta didik.
Kasus-kasus yang mencuat ke permukaan seharusnya tidak hanya menjadi bahan kecaman atau penghakiman semata, melainkan menjadi cermin refleksi bersama bagi dunia pendidikan. Setiap peristiwa yang terjadi mengingatkan bahwa profesionalisme guru tidak hanya diukur dari penguasaan materi, tetapi juga dari kedewasaan sikap dan kendali diri. Dunia pendidikan membutuhkan guru yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan psikologis agar mampu menjaga batasan, etika, serta nilai-nilai luhur dalam menjalankan tugasnya.
Dengan terus belajar dan memperdalam pemahaman diri, guru akan mampu menjaga marwah profesi pendidik. Ia dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bermartabat, di mana siswa merasa dilindungi, dihargai, dan diarahkan secara tepat. Lingkungan seperti inilah yang memungkinkan proses belajar berjalan secara optimal dan manusiawi.
Pada akhirnya, guru yang terus belajar adalah guru yang memahami bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan membimbing manusia seutuhnya. Untuk membimbing manusia, guru harus terlebih dahulu mengenali cara manusia berpikir, merasa, dan berkembang. Kesadaran inilah yang menjadikan profesi guru tetap mulia dan relevan di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Penulis: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































