Gampong Rayeuk Kareung menyimpan berbagai kisah sejarah yang hingga kini masih dipercaya dan diceritakan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian penting dari identitas dan warisan budaya lokal yang terus dijaga oleh warga. Salah satu peninggalan sejarah yang hingga saat ini masih menarik perhatian masyarakat adalah keberadaan kapal-kapal tua yang diyakini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi bagi Gampong Rayeuk Kareung. Keberadaan kapal-kapal ini tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai simbol kehidupan sosial dan adat istiadat masyarakat pada zamannya.
Berdasarkan penuturan Umi Karima selaku narasumber pertama, pada masa lampau terdapat kapal yang dikenal dengan sebutan Kapal Putroe Satu dan Kapal Kafe (Yahudi). Menurut cerita orang-orang terdahulu di desa, kapal-kapal tersebut kerap dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat meminjam peralatan makan, seperti piring dan perlengkapan lainnya, terutama ketika hendak mengadakan kenduri, pesta adat, atau kegiatan sosial lainnya. Tradisi meminjam peralatan ini mencerminkan adanya rasa saling percaya dan kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat pada masa itu. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut perlahan terhenti akibat adanya warga yang tidak mengembalikan peralatan yang telah dipinjam. Akibat kejadian tersebut, kapal-kapal itu tidak lagi memberikan peralatan kepada masyarakat untuk keperluan kenduri atau pesta.

Sementara itu, narasumber kedua, Ibrahim Gadeng, menyampaikan keterangan yang melengkapi cerita tersebut. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya terdapat tiga kapal di kawasan Gampong Rayeuk Kareung. Menurutnya, satu kapal dikenal sebagai kapal Islam, sedangkan dua kapal lainnya dikenal sebagai kapal Kafe (Yahudi). Ketiga kapal tersebut pada masanya memiliki peran penting dalam membantu masyarakat, khususnya dengan meminjamkan peralatan dapur untuk keperluan kenduri dan kegiatan adat lainnya. Namun, permasalahan yang sama kembali terjadi, yaitu banyaknya peralatan yang tidak dikembalikan oleh peminjam. Kondisi tersebut menyebabkan kapal-kapal itu tidak lagi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan pesta maupun kegiatan adat.

Kisah mengenai kapal-kapal tua ini hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat Gampong Rayeuk Kareung. Cerita tersebut terus dipercaya dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari sejarah dan budaya gampong. Selain memiliki nilai historis, kisah ini juga mengandung pesan moral tentang pentingnya menjaga kepercayaan, tanggung jawab, serta kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, cerita tentang kapal-kapal tua tersebut tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi sekarang dan mendatang untuk terus melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang ada di Gampong Rayeuk Kareung.

Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































