Setiap tahun, kita menunggu Ramadan seperti menunggu tamu agung. Tapi setiap tahun pula, sebelum tamu itu tiba, kita sibuk berdebat soal tanggal kedatangannya.
Tahun 2026 ini, skenarionya tak jauh berbeda. Muhammadiyah mulai tahun ini menerapkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), menyatakan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari. Sementara NU, Persis, dan Pemerintah masih setia pada rukyat dan sidang isbat, yang kemungkinan besar menetapkan Kamis, 19 Februari. Dua kubu. Satu tujuan. Tapi seringnya, yang menonjol bukan persaudaraan, melainkan ego sektoral.
Perbedaan Itu Manusiawi, yang Berlebihan Itu yang Aneh
Islam tidak pernah memaksa kita untuk seragam. Justru dalam perbedaan, ada ruang ijtihad yang menunjukkan bahwa agama ini hidup, bernalar, dan tidak anti-akal. Mazhab lahir dari perbedaan. Ilmu falak lahir dari kebutuhan menakar waktu. Maka jika saat ini kita berseteru hanya karena tanggal, sesungguhnya kita telah memiskinkan makna ibadah itu sendiri.
Belajar dari Mereka yang Tak Pernah Gaduh
Lihatlah saudara kita dari tradisi Kristen Ortodoks. Mereka merayakan Natal di bulan Januari, sementara Katolik dan Protestan di bulan Desember. Apakah umat Kristiani saling membatalkan Natal satu sama lain? Apakah mereka sibuk membuat meme ejekan? Tidak. Mereka diam, merayakan, dan tetap bersaudara.
Berdasarkan pemantauan di media sosial umat Kristiani tidak saling sindir dengan perbedaan tanggal Natal. Mereka paham bahwa perbedaan kalender bukan ancaman persatuan. Justru kita, umat Islam Indonesia, yang terlalu sering latah mengklaim diri paling toleran, ternyata masih mudah tersinggung oleh saudara sendiri yang berbeda pilihan metode. Ironis.
Toleransi Itu Dimulai dari Rumah Sendiri
Kita suka bangga bicara toleransi antar umat beragama. Tapi saat sesama muslim berbeda pendapat, tak jarang keluar kata-kata seperti “mereka itu ngawur”, “puasanya nanggung”, atau “yang penting kan duluan”. Sering kali kita lupa, bahwa toleransi sejati bukan hanya soal memberi tempat pada yang berbeda agama, tapi juga memberi maaf pada yang seiman tapi tak sejalan.
Jika kita bisa tersenyum kepada pemeluk agama lain, mengapa kepada saudara sendiri kita justru melontarkan sindiran tajam?
Ramadan: Bulan Menahan, Termasuk Menahan Hawa Nafsu Berdebat
Ramadan adalah madrasah pengendalian diri. Bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari rasa “aku paling benar”. Puasa mengajarkan lapar untuk menundukkan ego. Tapi apa jadinya jika sebelum puasa dimulai, kita sudah kenyang oleh prasangka?
Kita terlalu sibuk menjadi wasit bagi orang lain, padahal kita sendiri belum tentu lolos dari penilaian-Nya. Kita sibuk mengecek awal Ramadan di langit, tapi lupa mengecek awal kesombongan di hati.
Selamat menyambut Ramadan. Mari berlapang hati, meski langkah kaki tak selalu seirama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































