Masa perkuliahan sering dianggap sebagai fase transisi dari remaja menuju dewasa. Pada tahap ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk berkembang secara akademik, tetapi juga secara sosial dan emosional. Lingkungan kampus menghadirkan beragam latar belakang, pola pikir, gaya hidup, dan standar kesuksesan yang berbeda-beda. Di tengah keberagaman tersebut, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya memilih untuk “ikut arus”. Fenomena ini tampak sederhana, namun sebenarnya memiliki akar psikologis dan sosial yang cukup dalam.
Tekanan sosial adalah salah satu faktor utama yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tekanan ini bisa muncul secara eksplisit, seperti ajakan langsung dari teman, maupun secara implisit, seperti norma kelompok yang tidak tertulis. Dalam kehidupan mahasiswa, tekanan sosial bisa berbentuk tuntutan untuk aktif organisasi, mengikuti tren gaya hidup tertentu, memilih jurusan yang dianggap menjanjikan, atau bahkan menentukan topik skripsi berdasarkan popularitasnya.
Salah satu alasan mendasar mengapa mahasiswa sering ikut arus adalah kebutuhan untuk diterima. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang memiliki dorongan kuat untuk menjadi bagian dari kelompok. Ketika seseorang merasa diterima, ia akan merasakan keamanan dan kenyamanan psikologis. Sebaliknya, rasa terasing atau dikucilkan dapat menimbulkan kecemasan. Oleh karena itu, banyak mahasiswa memilih menyesuaikan diri agar tetap dianggap “sejalan” dengan lingkungan sekitarnya.
Selain kebutuhan akan penerimaan, ada pula faktor ketidakpastian identitas. Masa kuliah sering kali menjadi periode pencarian jati diri. Tidak semua mahasiswa sudah memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan hidup, minat, dan nilai-nilai pribadinya. Dalam kondisi ini, mengikuti pilihan mayoritas terasa lebih aman dibandingkan mengambil keputusan yang berbeda. Ikut arus menjadi semacam strategi untuk menghindari risiko kesalahan atau penyesalan.
Media sosial juga memperkuat fenomena ini. Di era digital, mahasiswa terus-menerus terpapar pencapaian orang lain. Foto kegiatan organisasi, prestasi akademik, bisnis yang sukses, hingga gaya hidup yang tampak ideal sering kali membentuk standar tidak tertulis tentang “mahasiswa yang berhasil”. Tanpa disadari, muncul dorongan untuk menyesuaikan diri dengan gambaran tersebut, meskipun belum tentu sesuai dengan kapasitas dan tujuan pribadi.
Dampak dari terlalu sering ikut arus tidak selalu langsung terlihat. Pada awalnya, seseorang mungkin merasa baik-baik saja karena berhasil menyesuaikan diri. Namun dalam jangka panjang, keputusan yang diambil tanpa pertimbangan nilai pribadi dapat menimbulkan kebingungan identitas. Mahasiswa bisa merasa kehilangan arah, menjalani aktivitas tanpa makna, atau mengalami kelelahan emosional karena terus-menerus berusaha memenuhi ekspektasi orang lain.
Tekanan sosial juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Ketika seseorang merasa harus selalu tampil sesuai standar kelompok, muncul rasa takut melakukan kesalahan. Perasaan ini dapat berkembang menjadi stres, kecemasan, bahkan rendah diri. Ironisnya, semakin kuat keinginan untuk diterima, semakin besar pula tekanan yang dirasakan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua bentuk penyesuaian diri bersifat negatif. Dalam konteks tertentu, kemampuan beradaptasi justru merupakan keterampilan sosial yang penting. Menyesuaikan diri dengan aturan kampus, bekerja sama dalam tim, atau menghormati norma sosial adalah bagian dari proses pendewasaan. Yang menjadi masalah adalah ketika penyesuaian tersebut membuat seseorang mengabaikan nilai dan tujuan pribadinya.
Lalu bagaimana cara agar mahasiswa tidak terjebak dalam arus yang salah? Langkah pertama adalah melakukan refleksi diri secara berkala. Luangkan waktu untuk bertanya: Apa yang benar-benar saya minati? Apa tujuan jangka panjang saya? Nilai apa yang ingin saya pegang? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu memperkuat fondasi identitas pribadi.
Langkah kedua adalah membangun keberanian untuk berbeda. Berbeda bukan berarti menentang semua orang, melainkan berani mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang. Setiap individu memiliki keunikan pengalaman dan potensi. Ketika seseorang percaya pada kemampuannya sendiri, tekanan sosial tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan.
Langkah ketiga adalah memilih lingkungan yang suportif. Lingkungan pertemanan yang sehat akan menghargai perbedaan dan mendukung perkembangan individu. Dalam suasana seperti ini, mahasiswa dapat bertumbuh tanpa merasa harus menyembunyikan jati dirinya.
Pada akhirnya, fenomena ikut arus dalam kehidupan mahasiswa adalah hal yang wajar. Setiap orang pernah berada pada posisi ragu dan membutuhkan arahan. Namun yang terpenting adalah kesadaran untuk tidak kehilangan kendali atas pilihan hidup sendiri. Menjadi mahasiswa bukan tentang siapa yang paling mirip dengan standar sosial, melainkan tentang proses mengenal diri, belajar dari pengalaman, dan bertumbuh secara autentik.
Dengan memahami dinamika tekanan sosial, mahasiswa diharapkan mampu lebih bijak dalam mengambil keputusan. Ikut arus boleh saja, selama arus tersebut membawa kita menuju tujuan yang kita pilih sendiri. Sebab pada akhirnya, perjalanan hidup adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada opini orang lain.
Ditulis oleh: Irene Maharani
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya 2025
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































