Hari ini, menjadi pelajar aktif itu seperti standar tidak tertulis. Kalau tidak ikut organisasi, dianggap kurang update. Kalau tidak jadi panitia, terasa kurang berkontribusi. Kalau tidak punya segudang kegiatan, seolah-olah tidak berkembang.
Tapi izinkan saya jujur sebagai guru: tidak semua kesibukan adalah kemajuan.
Saya pernah mengamati seorang murid yang hampir selalu ada di setiap kegiatan. Pagi belajar, siang rapat, sore latihan, malam menyelesaikan proposal atau revisi laporan. Namanya sering disebut dalam berbagai forum. Ia terlihat percaya diri, dikenal banyak orang, dan menjadi representasi “murid aktif”.
Namun menjelang ujian semester, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda. Ia lebih sering menunduk di kelas. Beberapa kali tertidur saat pelajaran berlangsung. Ketika saya ajak berbicara, ia berkata pelan, “Saya belum sempat belajar, Bu. Kemarin rapat sampai sore, malamnya lanjut revisi.”
Ia bukan murid yang kurang cerdas. Justru potensinya besar. Tetapi energinya habis sebelum waktunya. Fokusnya terpecah. Ia mulai berada pada titik di mana ia harus memilih: tanggung jawab organisasi atau tanggung jawab akademik.
Dan inilah yang sering tidak terlihat dari luar.
Kalian mungkin terlihat produktif di media sosial. Feed penuh dokumentasi kegiatan. Story rapat, story event, story latihan. Tapi tidak ada yang mem-posting rasa lelah, tekanan, atau kebingungan saat harus memilih prioritas.
Masalahnya bukan pada organisasi. Bukan pada ekskul. Bahkan bukan pada padatnya kegiatan. Masalahnya adalah ketika kita mengambil semuanya tanpa bertanya, “Apakah saya sanggup menjalaninya dengan seimbang?”
Banyak pelajar ingin menjadi segalanya sekaligus; pemimpin organisasi, juara lomba, murid berprestasi, panitia andal. Itu ambisi yang baik. Tapi tanpa manajemen waktu dan kedewasaan memilih, ambisi bisa berubah menjadi beban.
Yang lebih mengkhawatirkan, sering kali ibadah menjadi yang pertama dikorbankan. Dilakukan terburu-buru. Tanpa kekhusyukan. Padahal di situlah pusat kekuatan sebagai pelajar madrasah.
Keseimbangan bukan berarti pasif. Keseimbangan adalah kemampuan menentukan mana yang prioritas dan mana yang bisa menunggu. Berani mengatakan “cukup” ketika sudah melewati batas. Berani memilih kualitas daripada kuantitas.
Percayalah, menjadi murid yang stabil, fokus, dan sehat jauh lebih hebat daripada terlihat sibuk tetapi diam-diam kelelahan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan?
Setelah menyadari bahwa tidak semua kesibukan adalah pertumbuhan, pertanyaannya bukan lagi “Haruskah saya berhenti aktif?”, melainkan “Bagaimana agar tetap aktif tanpa kehilangan diri sendiri?”
Berikut beberapa langkah yang bisa mulai dicoba.
Pertama, buat peta prioritas, bukan sekadar jadwal padat. Tuliskan semua tanggung jawab: akademik, organisasi, keluarga, dan ibadah. Tandai mana yang wajib, mana yang penting, dan mana yang sebenarnya bisa ditunda atau bahkan dilepaskan. Tidak semua peluang harus diambil. Belajar memilih adalah bagian dari kedewasaan.
Kedua, terapkan prinsip “cukup”. Tidak perlu menjadi panitia di semua acara. Tidak perlu hadir di setiap rapat jika memang tidak mendesak. Kadang kontribusi terbaik justru lahir ketika kita fokus pada satu atau dua peran dan menjalankannya dengan maksimal.
Ketiga, jadwalkan waktu istirahat dengan sengaja. Istirahat bukan kemalasan. Tubuh dan pikiran yang lelah tidak akan mampu menyerap ilmu dengan baik. Tidur cukup, kurangi begadang yang tidak perlu, dan beri ruang bagi diri untuk bernapas.
Keempat, jaga ibadah sebagai pusat, bukan sisa waktu. Sebagai pelajar madrasah, ibadah bukan tambahan aktivitas, tetapi fondasi. Ketika jadwal mulai padat, justru di situlah kita perlu memperkuat hubungan dengan Allah. Dari situlah ketenangan dan kejernihan berpikir berasal.
Kelima, belajar mengatakan “tidak” dengan santun. Menolak bukan berarti tidak peduli. Menolak bisa menjadi bentuk tanggung jawab agar tidak setengah-setengah dalam menjalankan amanah yang sudah ada. Orang yang dewasa bukan yang menerima semua tugas, tetapi yang tahu batas kemampuannya.
Dan terakhir, lakukan evaluasi diri secara berkala. Tanyakan dengan jujur:
Apakah saya masih menikmati proses ini?
Apakah nilai akademik saya terjaga?
Apakah ibadah saya tetap berkualitas?
Jika jawabannya mulai mengkhawatirkan, mungkin itu tanda untuk menata ulang prioritas.
Menjadi pelajar aktif itu baik. Berorganisasi melatih kepemimpinan. Mengikuti kegiatan memperluas pengalaman. Tetapi semua itu akan bermakna jika dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar mengikuti arus.
Jadi sebelum menambah satu kegiatan lagi ke dalam jadwalmu, coba tanyakan dengan jujur: ini untuk bertumbuh, atau hanya untuk terlihat aktif?
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa padat jadwalmu, tetapi seberapa utuh dirimu tetap terjaga.
Ditulis oleh : Deti Prasetyaningrum, S.Pd
Guru Bahasa Inggris MAN 1 Yogyakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































