Peran ayah dalam kehidupan anak perempuan memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap kondisi kesehatan mentalnya. Dalam pembahasan psikologi perkembangan, pengasuhan tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif ayah. Bagi anak perempuan, ayah merupakan figur laki-laki pertama yang ia kenal dan jadikan acuan dalam memahami dirinya, hubungan sosial, serta rasa aman. Kualitas interaksi antara ayah dan anak perempuan dapat memberikan dampak jangka panjang yang terbawa hingga masa dewasa.
Kesehatan mental anak perempuan sangat berkaitan dengan sejauh mana ia merasa diterima, dicintai, dan dihargai dalam keluarganya. Ayah yang hadir secara emosional itu antara lain yang mau mendengarkan, memberikan perhatian, dan menunjukkan dukungan atau membantu anak membangun rasa aman dari dalam dirinya. Ketika seorang ayah memberikan apresiasi atas usaha anak, sekecil apa pun itu, anak belajar bahwa dirinya memiliki nilai. Secara psikologis, pengalaman ini berperan besar dalam pembentukan harga diri yang positif. Anak perempuan dengan harga diri yang baik cenderung lebih percaya diri, tidak mudah merasa rendah diri, serta lebih mampu menghadapi tekanan sosial tanpa kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.
Sebaliknya, kurangnya keterlibatan ayah, baik karena kesibukan, hubungan emosional, maupun konflik keluarga, dapat meninggalkan dampak tertentu pada kondisi psikologis anak. Anak perempuan mungkin merasa kurang diperhatikan atau tidak cukup berarti. Jika perasaan ini berlangsung lama, hal tersebut dapat berkembang menjadi keraguan terhadap kemampuan diri, kebutuhan akan pengakuan dari luar secara berlebihan, atau kesulitan membangun kepercayaan terhadap orang lain. Dalam beberapa situasi, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko munculnya kecemasan atau perasaan kesepian.
Selain berpengaruh pada harga diri, ayah juga berperan dalam membantu anak perempuan belajar mengelola emosi. Anak memperoleh contoh bagaimana menghadapi masalah melalui respons orang tuanya. Jika ayah mampu merespons kesalahan atau konflik dengan sikap tenang dan komunikasi yang terbuka, anak akan belajar bahwa emosi dapat diselesaikan dan diselesaikan secara sehat. Pola interaksi seperti ini membantu anak mengembangkan kemampuan regulasi emosi yang baik, sehingga ia tidak mudah terjebak dalam ledakan emosi atau menekan perasaan secara berlebihan. Kemampuan ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kestabilan mental.
Kehadiran ayah yang suportif juga memberikan rasa aman bagi anak perempuan dalam menghadapi dunia luar. Ketika anak merasa memiliki dukungan yang konsisten, ia cenderung lebih berani mencoba hal-hal baru dan mengeksplorasi potensinya. Dorongan dari ayah dalam bidang pendidikan, kegiatan sosial, atau minat pribadi memberi pesan bahwa ia mampu berkembang dan mencapai tujuan. Hal ini sangat penting terutama saat memasuki masa remaja, di mana tekanan sosial dan tuntutan lingkungan menjadi lebih kompleks.
Lebih jauh lagi, hubungan antara ayah dan anak perempuan sering kali mempengaruhi cara anak membangun hubungan di masa depan. Pengalaman awal bersama ayah dapat menjadi gambaran tidak langsung tentang bagaimana ia mengharapkan perlakuan dari orang lain. Jika hubungan tersebut memenuhi rasa hormat, perhatian, dan kehangatan, anak perempuan cenderung memiliki standar hubungan yang sehat. Ia lebih mampu mengenali hubungan yang tidak baik dan menjaga batasan dirinya. Sebaliknya, jika hubungan dengan ayah dipenuhi hubungan emosional atau konflik, hal itu dapat mempengaruhi cara anak memaknai kedekatan dan kepercayaan.
Meski demikian, perlu disadari bahwa kesehatan mental anak perempuan tidak hanya ditentukan oleh satu faktor. Dukungan ibu, suasana keluarga, kondisi lingkungan, serta hubungan sosial juga turut berperan. Namun, interaksi ayah yang positif tetap menjadi salah satu faktor pelindung yang kuat dalam perkembangan psikologis anak. Bahkan dalam situasi keluarga yang penuh tantangan, kehadiran ayah yang empatik dan konsisten dapat membantu anak menjaga keseimbangan emosinya.
Pada akhirnya, peran ayah tidak sebatas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis anak perempuan. Keterlibatan yang hangat, komunikasi yang terbuka, serta dukungan yang tulus akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, tangguh, dan memiliki kesehatan mental yang lebih stabil. Hubungan yang sehat antara ayah dan anak perempuan menjadi bekal berharga yang akan mempengaruhi kualitas kehidupan di masa depan.
Ditulis oleh : Azzahra Indra Wijaya
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































