Setiap kali hilal Ramadhan menjelang, diskursus mengenai “kapan mulai puasa” selalu menghiasi ruang publik kita. Tahun ini pun tak jauh berbeda, di mana Muhammadiyah melalui metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal kerap memulai langkah lebih awal dalam menapak bulan suci ini dibanding sebagian saudara kita yang lain.
Bagi sebagian orang, perbedaan ini dianggap sebagai masalah atau tanda ketidakkompakan. Namun, bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), perbedaan ini seharusnya menjadi momentum refleksi diri (muhasabah) sekaligus edukasi mengenai visi besar masa depan umat Islam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
1. KHGT, Solusi Atas Ketidakpastian
Muhammadiyah konsisten memulai puasa lebih awal bukan demi ingin tampil beda, melainkan sebagai bentuk kepatuhan terhadap sistem yang terukur. Di sinilah relevansi Kalender Global Muhammadiyah. Kita sedang berupaya mengakhiri utang peradaban umat Islam yang selama ini belum memiliki kesatuan kalender tunggal yang berlaku secara internasional.
Sama halnya dengan kalender Masehi yang seragam di seluruh dunia, KHGT adalah upaya intelektual agar umat Islam memiliki kepastian waktu ibadah. Ini bukan sekadar urusan teknis tanggal, tapi urusan martabat dan keteraturan peradaban Islam di mata dunia.
2. Ramadhan sebagai Madrasah Karakter
Di luar perdebatan tanggal, Ramadhan tetaplah sebuah “Bulan Pendidikan” (Syahrul Tarbiyah). Sebagai mahasiswa dan aktivis, kita harus melihat Ramadhan bukan hanya sebagai ritual menahan lapar dari fajar hingga magrib.
a. Pendidikan Kejujuran, Puasa adalah satu-satunya ibadah yang paling privat. Hanya kita dan Allah yang tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak. Ini adalah latihan integritas yang paling murni.
b. Pendidikan Empati, Rasa lapar yang kita rasakan adalah pengingat nyata bagi kita, kaum terpelajar, bahwa di luar sana masih banyak kaum mustad’afin (orang-orang yang tertindas/lemah) yang merasakan lapar bukan karena ibadah, tapi karena keadaan ekonomi.
3. Muhasabah di Tengah Hiruk-Pikuk
Ramadhan adalah momen yang tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivisme organisasi dan urusan duniawi. Kita perlu melakukan audit diri. Apakah selama satu tahun ke belakang, gerakan kita sudah memberikan manfaat bagi masyarakat Kota Tasikmalaya? Ataukah kita hanya terjebak dalam rutinitas formalitas?
Jadikan perbedaan awal puasa ini sebagai ajang untuk mempertebal toleransi (tasamuh). Kita menghargai saudara kita yang menunggu hasil rukyat, sebagaimana kita memegang teguh keyakinan hisab kita. Fokus utama kita bukanlah kapan kita memulai, tapi bagaimana kita mengisi hari-hari tersebut dengan kualitas ketakwaan yang meningkat.
Penutup
Mari kita jalankan Ramadhan ini dengan penuh kegembiraan. Perbedaan adalah rahmat yang mendewasakan, dan kalender global adalah ikhtiar kemajuan. Semoga selepas Ramadhan nanti, kita tidak hanya lulus sebagai orang yang menahan lapar, tetapi lulus sebagai pribadi yang memiliki ketajaman spiritual dan kepedulian sosial yang lebih tinggi.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 H. Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat.
Oleh: Mohammad Fadillah
(Bendahara Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Tasikmalaya)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































