Internet of Things (IoT) bukan lagi sekadar istilah futuristik yang terdengar jauh. Lampu yang bisa diatur dari ponsel, sensor suhu di gudang pabrik, kamera keamanan yang terhubung ke cloud semuanya sudah berjalan di banyak tempat. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: infrastruktur jaringan yang menopangnya.
Tanpa perangkat jaringan yang tepat, perangkat IoT hanyalah benda mati yang tidak bisa “berbicara” satu sama lain. Tiga perangkat yang paling krusial dalam ekosistem ini adalah router, switch, dan access point. Ketiganya punya peran yang berbeda, tapi saling bergantung.
Router: Penjaga Gerbang Jaringan
Bayangkan router sebagai kepala pos di persimpangan jalan. Tugasnya bukan sekadar membiarkan data lewat, melainkan memastikan data itu pergi ke arah yang benar. Dalam konteks teknis, router menghubungkan dua jaringan yang berbeda paling umum adalah jaringan lokal (LAN) dengan internet (WAN).
Router bekerja berdasarkan alamat IP. Setiap data yang masuk akan diperiksa tujuannya, lalu diarahkan lewat jalur paling efisien. Selain itu, router modern umumnya dilengkapi fitur DHCP yang otomatis memberikan alamat IP kepada setiap perangkat yang terhubung, termasuk perangkat IoT seperti sensor atau kamera.

Dalam jaringan IoT skala besar misalnya di gedung perkantoran atau fasilitas industri router juga sering difungsikan sebagai lapisan keamanan pertama. Fitur NAT (Network Address Translation) dan firewall bawaan membantu melindungi perangkat-perangkat IoT dari ancaman luar yang masuk lewat internet.
Switch: Pengatur Lalu Lintas di Dalam Jaringan
Kalau router mengurusi koneksi ke luar, switch justru bertugas mengatur komunikasi di dalam jaringan lokal itu sendiri. Switch menghubungkan berbagai perangkat komputer, server, printer, hingga access point dalam satu jaringan yang sama.
Yang membuat switch lebih unggul dari pendahulunya (hub) adalah cara kerjanya yang lebih presisi. Switch mengirimkan data langsung ke perangkat tujuan berdasarkan alamat MAC, bukan menyebarkannya ke semua perangkat sekaligus. Ini membuat lalu lintas data lebih efisien dan tidak boros bandwidth.
Dalam ekosistem IoT, peran switch cukup signifikan. Bayangkan sebuah rumah sakit dengan ratusan sensor pasien yang terhubung ke jaringan. Semua sensor itu perlu berkomunikasi dengan server pusat secara cepat dan stabil. Switch yang tepat memastikan data dari masing-masing sensor sampai ke tujuan tanpa saling mengganggu.

Access Point: Jembatan ke Dunia Nirkabel
Sebagian besar perangkat IoT tidak menggunakan kabel. Sensor lingkungan, perangkat wearable, kamera Wi-Fi semuanya bergantung pada koneksi nirkabel. Di sinilah access point (AP) mengambil perannya. Access point pada dasarnya memperluas jaringan kabel menjadi jaringan nirkabel. Perangkat ini terhubung ke switch atau router melalui kabel Ethernet, lalu memancarkan sinyal Wi-Fi yang bisa diakses oleh perangkat-perangkat di sekitarnya.
Perlu dicatat, router rumahan memang sering sudah punya fungsi access point bawaan. Tapi dalam jaringan yang lebih luas kantor berlantai banyak, kampus, atau fasilitas industri access point terpisah diperlukan agar cakupan sinyal merata dan tidak ada titik buta. Semakin banyak perangkat IoT yang terhubung, semakin penting perencanaan penempatan access point ini.
Bagaimana Ketiganya Bekerja Bersama
Dalam skenario nyata, ketiga perangkat ini membentuk sebuah rantai koneksi. Router menerima koneksi internet dari ISP, lalu mendistribusikannya ke switch. Switch kemudian menghubungkan berbagai perangkat dalam jaringan lokal, termasuk access point. Access point bertugas menjangkau perangkat IoT nirkabel yang tersebar di berbagai sudut ruangan.
Ambil contoh sederhana: sebuah kantor yang ingin mengintegrasikan sistem IoT untuk pemantauan energi. Sensor konsumsi daya dipasang di setiap ruangan, terhubung ke jaringan melalui Wi-Fi. Access point yang tersebar di tiap lantai menerima data dari sensor-sensor itu, meneruskannya ke switch, lalu switch mengirimkan data ke server pemantauan. Router memastikan laporan bisa diakses oleh tim manajemen dari luar kantor melalui internet. Tanpa salah satu dari ketiga perangkat ini, rantai itu putus.
Mengapa Pemisahan Fungsi Itu Penting
Satu hal yang sering diabaikan dalam perancangan jaringan IoT adalah pentingnya memisahkan fungsi setiap perangkat. Router yang merangkap terlalu banyak tugas routing, DHCP, firewall, sekaligus access point akan lebih mudah kewalahan ketika jumlah perangkat IoT bertambah.
Dengan memisahkan fungsinya secara jelas, setiap perangkat bisa bekerja pada kapasitas optimalnya. Router fokus mengatur koneksi dan keamanan. Switch mengelola lalu lintas internal. Access point memaksimalkan distribusi sinyal nirkabel. Hasilnya, jaringan lebih stabil, lebih mudah dikelola, dan lebih mudah dikembangkan ketika infrastruktur IoT perlu diperluas.

Infrastruktur yang Sering Disepelekan, Tapi Paling Menentukan
Ada ironi yang cukup umum dalam proyek IoT: anggaran besar dihabiskan untuk sensor canggih dan platform cloud yang mahal, tapi infrastruktur jaringannya dipilih asal-asalan. Hasilnya mudah ditebak perangkat sering putus koneksi, data terlambat masuk, dan tim IT sibuk memadamkan masalah yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Router, switch, dan access point memang tidak terlihat “seksi” dibanding perangkat IoT itu sendiri. Tidak ada yang memamerkan switch di ruang pamer. Tapi justru di sinilah letak persoalannya karena tidak terlihat, ketiganya sering diperlakukan sebagai keputusan teknis kelas dua.
Padahal kenyataannya terbalik. Perangkat IoT bisa diganti kapan saja seiring perkembangan teknologi. Infrastruktur jaringan yang salah sejak awal jauh lebih mahal untuk dibenahi belakangan, apalagi kalau jaringan itu sudah melayani ratusan titik perangkat yang tersebar.
Sumber:
https://jakarta.telkomuniversity.ac.id/perangkat-jaringan-router-switch-dan-access-point/
https://blog.unnes.ac.id/ayukwitantri/2016/03/10/
Hubungan Switch, Router, dan Access Point dalam Jaringan Komputer
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































