Pada suatu sore di tahun 2015, seorang pemuda bernama Robert duduk di depan meja kayu kecil di kamar kosnya. Tumpukan buku dan kertas memenuhi hampir seluruh permukaan meja. Laptop yang sudah mulai usang menyala dengan kipas yang berbunyi lirih seperti sedang mengeluh. Di layar itulah Robert menatap masa depannya, sebuah skripsi yang harus ia selesaikan agar bisa lulus kuliah.
Robert dikenal oleh teman-temannya sebagai orang yang baik hati. Ia mudah tersenyum, jarang marah, dan hampir tidak pernah menolak permintaan orang lain. Banyak yang mengatakan bahwa Robert adalah tipe orang yang tulus membantu tanpa pamrih. Namun hanya sedikit yang memahami bahwa kebaikan yang terlalu luas terkadang membuat seseorang kehilangan batas.
Robert sebenarnya bukan berasal dari keluarga berada. Ia hidup sederhana dan harus mengatur keuangan dengan sangat hati-hati. Bahkan untuk membeli bensin sepeda motornya saja, ia sering harus menghitung sisa uang di dompet berkali-kali. Tetapi di balik kesederhanaan itu, Robert memiliki satu hal yang tidak bisa dibatasi oleh keadaan: keinginannya untuk membantu orang lain.

Awalnya Robert hanya ingin fokus menyelesaikan skripsinya sendiri. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, membaca buku metodologi penelitian dan mempelajari cara menyusun karya ilmiah yang benar. Lambat laun, beberapa teman mulai datang kepadanya untuk bertanya.
“Robert, kamu sudah sampai bab berapa?” tanya seorang teman suatu hari.
“Sudah mulai bab tiga,” jawabnya sambil tersenyum.
“Boleh minta bantuannya sedikit?”, Robert mengangguk tanpa ragu.
Sejak saat itu, satu per satu orang mulai datang meminta bantuan. Ada yang sekadar bertanya tentang judul, ada yang ingin dibantu menyusun proposal, bahkan ada yang membawa skripsi hampir selesai tetapi tidak tahu bagaimana merapikannya. Robert menerima semuanya. Awalnya ia merasa senang karena bisa membantu. Ia merasa ilmunya bermanfaat bagi orang lain. Namun tanpa disadari, permintaan bantuan itu semakin banyak dan semakin berat. Waktunya tidak lagi hanya untuk skripsinya sendiri, tetapi juga untuk skripsi orang lain.

Tua dan muda silih berganti datang kepadanya. Ada mahasiswa yang lebih muda darinya, ada pula yang sudah bekerja bahkan memiliki jabatan penting. Namun di hadapan skripsi, semuanya tampak sama: bingung, cemas, dan berharap ada seseorang yang bisa membantu. Robert menjadi orang yang mereka cari. Di antara sekian banyak kisah yang dialami Robert, ada satu peristiwa yang tidak pernah ia lupakan.
Suatu hari, seorang Kepala TK datang kepadanya. Seorang perempuan paruh baya yang tampak ramah dan penuh semangat. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya yang sudah lama tertunda.
“Mas Robert, saya mohon bantuannya ya. Saya benar-benar ingin cepat lulus,” katanya dengan nada memohon.
Robert mengangguk.
Ia membantu menyusun skripsi dari awal. Mulai dari menentukan judul, membuat latar belakang, menyusun teori, hingga mengolah data. Tidak hanya itu, Robert juga membantu memperbaiki kesalahan penulisan, mencetak halaman demi halaman, hingga akhirnya skripsi itu siap dijilid.
Hari itu Robert membawa skripsi yang sudah rapi dengan sepeda motornya. Ia harus mengantarkannya langsung ke rumah Kepala TK tersebut. Perjalanan cukup jauh, tetapi Robert menjalaninya dengan perasaan lega karena pekerjaannya telah selesai. Sesampainya di rumah, ibu itu tampak sangat senang.
“Alhamdulillah… akhirnya selesai juga,” katanya sambil menerima skripsi tersebut. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan kembali dengan membawa sebuah amplop. Robert sempat merasa harapannya mulai tumbuh. Ia membayangkan uang itu bisa digunakan untuk membeli bensin dan kebutuhan beberapa hari ke depan. Namun ketika amplop itu hendak diberikan, Robert berkata secara spontan, “Gak apa-apa, Bu.” Kalimat itu keluar begitu saja, seperti kebiasaannya yang tidak enak menolak atau menerima pemberian.
Ibu itu langsung tersenyum lega. “Alhamdulillah… terima kasih ya, mas Robert,” katanya.
Amplop itu pun kembali disimpan. Robert hanya bisa tersenyum kaku. Perasaannya campur aduk antara bingung, menyesal, dan pasrah. Ia pamit pulang.

Beberapa ratus meter dari rumah itu, sepeda motor Robert mulai tersendat. Mesin mati. Ia mencoba menyalakannya kembali, tetapi tidak berhasil. Bensinnya habis. Robert akhirnya turun dan mulai mendorong motornya di sepanjang jalan. Matahari sudah mulai condong ke barat. Angin sore berhembus pelan, tetapi tidak cukup untuk menghapus perasaan berat di dadanya.
Di sepanjang jalan, Robert hanya diam. Ia tidak marah kepada ibu itu. Ia juga tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya bertanya-tanya dalam hati, apakah kebaikan memang harus selalu dibayar dengan keikhlasan yang diuji seperti ini. Namun jauh di dalam hatinya, ia masih menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti ibu itu akan mengingat jasanya. Waktu terus berjalan. Tidak lama kemudian, datang sebuah keluarga yang memiliki tiga orang anak. Ketiganya sedang menyusun skripsi dan ingin segera lulus.
“Mas Robert, kami mohon bantuannya ya. Kalau bisa selesai dalam seminggu,” kata orang tua mereka.
Robert kembali mengangguk.
Selama satu minggu penuh, ia hampir tidak memiliki waktu istirahat. Siang dan malam ia membantu menyusun, memperbaiki, dan membimbing ketiga mahasiswa itu secara bergantian. Ia memastikan semuanya siap menghadapi sidang.
Ketika pekerjaan itu selesai, Robert merasa sangat lelah tetapi juga puas.
Ia membayangkan bahwa jerih payahnya akan dihargai dengan layak.
Namun ketika keluarga itu datang menemuinya, mereka hanya memberikan sebuah plastik berisi sepuluh bungkus kopi kesukaannya.
“Ini sedikit tanda terima kasih dari kami,” kata mereka.
Robert tersenyum.
Ia menerima kopi itu dengan tangan gemetar halus. Bukan karena marah, tetapi karena ia sedang berusaha menenangkan perasaannya sendiri.
Sepuluh bungkus kopi itu memang benda yang ia sukai. Tetapi ia tahu, nilai kopi itu tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang telah ia berikan.

Malam itu Robert duduk sendirian di kamarnya. Ia menatap sepuluh bungkus kopi yang tersusun rapi di meja.
Ia tidak menangis.
Ia hanya tersenyum kecil.
Di dalam hatinya muncul sebuah kesadaran baru.
Bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Bahwa tidak semua orang memahami arti perjuangan orang lain.
Bahwa empati bukanlah sesuatu yang dimiliki semua orang.
Namun Robert juga memahami satu hal yang lebih penting.
Kebaikan tidak pernah benar-benar sia-sia.
Setiap pengalaman yang ia lalui membuatnya semakin kuat. Ia belajar bahwa membantu orang lain adalah hal yang mulia, tetapi menjaga diri sendiri juga tidak kalah penting.
Ia mulai belajar mengatakan tidak.
Bukan karena ia berubah menjadi orang yang tidak peduli, tetapi karena ia mulai memahami bahwa kebaikan juga membutuhkan batas.
Bertahun-tahun kemudian, Robert sering mengenang masa-masa itu. Masa ketika ia hidup di antara tumpukan skripsi orang lain. Masa ketika ia belajar tentang manusia lebih dari sekadar teori di buku kuliah.
Ia pernah merasa tidak dihargai.
Ia pernah merasa dimanfaatkan.
Ia pernah pulang dengan mendorong motor tanpa bensin.
Namun semua pengalaman itu membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih bijak.
Robert menyadari bahwa dunia skripsi bukan hanya tentang penelitian dan teori. Di dalamnya ada cerita tentang harapan, perjuangan, dan juga sisi gelap empati manusia.
Di balik lembar demi lembar skripsi yang berhasil diselesaikan, tersimpan kisah seorang pemuda yang belajar tentang arti keikhlasan dengan cara yang tidak mudah.
Kini Robert tidak lagi menjadi pemuda yang terlalu mudah berkata, “Gak apa-apa.”
Ia masih membantu orang lain, tetapi dengan cara yang lebih bijaksana.
Karena ia telah belajar satu pelajaran penting, bahwa kebaikan memang harus tulus, tetapi menghargai diri sendiri juga merupakan bagian dari kebaikan.
Dan setiap kali ia mencium aroma kopi favoritnya, Robert selalu teringat pada masa lalu. Masa yang mengajarkannya bahwa hidup tidak selalu memberikan balasan yang seimbang, tetapi selalu memberikan pelajaran yang berharga.
Penulis: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































