Ramadan bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan ruang pembentukan karakter: ketekunan, disiplin, dan kecintaan pada ilmu. Dalam sejarah Islam, sosok yang memantulkan nilai-nilai itu dengan amat terang adalah Imam Syafi’i, pendiri salah satu mazhab fikih besar yang hingga kini menjadi rujukan jutaan umat.
Sejak dini dan di usia sangat muda, Imam Syafi’i telah menunjukkan kecemerlangan yang luar biasa. Beliau mampu menghafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun, suatu pencapaian yang luar biasa. Tidak hanya itu, Imam Syafi’i juga menguasai Al-Muwaththa’ karya Imam Malik dalam hitungan hari ketika berusia sepuluh tahun. Lebih menakjubkan lagi, pada umur lima belas tahun telah dipercaya gurunya, Muslim bin Khalid az-Zanji, untuk berfatwa. Keistimewaan ini bukan sekadar karunia, melainkan buah dari kesungguhan belajar yang dijaga dengan disiplin luar biasa.
Di bulan Ramadan, karena sangat menarik, etos kerja Imam Syafi’i bisa menjadi contoh kebaikan dan keteladanan. Dalam berbagai riwayat disebutkan, Imam Syafi’i mampu mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali selama bulan suci Ramadan, bahkan hingga puluhan kali, di luar shalat. Angka itu bukan untuk dibanggakan, melainkan cermin hubungan yang sangat intim dengan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan penuntun hidup. Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Imam Syafi’i mempunyai pemahaman yang luar biasa terhadap ayat ini. Memurut Imam Syafi’i, ayat ini bukan hanya sebagai ajakan memperbanyak bacaan, tetapi sebagai panggilan menjadikan Al-Qur’an pusat pembelajaran. Bagi beliau, ilmu dan ibadah bukan dua jalur terpisah, keduanya saling menguatkan. Bacaan yang khusyuk menumbuhkan kejernihan berpikir, dan pencarian ilmu yang jujur menumbuhkan kedalaman iman.
Ketekunan Imam Syafi’i juga tampak dalam cara beliau menjaga waktu. Ia mengurangi aktivitas yang tak perlu dan memusatkan diri pada ibadah serta belajar. Pelajaran ini terasa relevan bagi dunia pendidikan hari ini. Di tengah derasnya distraksi gawai dan media sosial, Ramadan dapat menjadi latihan pengendalian diri dan manajemen waktu, sebuah detoks yang menyehatkan jiwa dan akal.
Bagi para pendidik, kisah Imam Syafi’i menegaskan bahwa keteladanan adalah metode pendidikan paling efektif. Murid belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan, tetapi dari laku hidup yang ditampilkan. Ketika guru memperlihatkan kecintaan pada Al-Qur’an, menjaga shalat, dan bersungguh-sungguh menuntut ilmu, nilai-nilai itu akan menetes perlahan ke dalam jiwa peserta didik.
Bagi para siswa, semangat Imam Syafi’i membantah anggapan bahwa usia muda adalah alasan untuk bermalas-malasan. Justru pada usia belia, beliau menanamkan fondasi kecerdasan dan kesungguhan. Ramadan bisa menjadi titik balik untuk menata niat belajar, bukan semata mengejar nilai, melainkan mencari keberkahan ilmu. Ilmu yang diberkahi melahirkan akhlak mulia dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Di lingkungan madrasah, semangat Ramadan seharusnya hidup melampaui ruang kelas yaitu melalui budaya literasi, halaqah Al-Qur’an, diskusi ilmiah, dan pembiasaan akhlak. Ramadan adalah madrasah karakter, tempat melatih sabar, jujur, disiplin, dan kepedulian sosial.
Imam Syafi’i pernah berpesan, siapa yang menginginkan dunia hendaklah dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat pun harus dengan ilmu. Ramadan mengajarkan bahwa iman dan ilmu mesti berjalan beriringan. Ketekunan membaca Al-Qur’an seyogianya berbuah pada kelembutan hati, keluasan pikiran, dan kedewasaan sikap.
Pada akhirnya, Ramadan bukan soal berapa kali kita khatam, melainkan seberapa dalam Al-Qur’an membentuk diri. Meneladani Imam Syafi’i berarti menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an, menata niat belajar, dan memperbaiki akhlak. Semoga dari ruang-ruang kelas dan lingkungan madrasah, lahir generasi berilmu yang bercahaya, cerdas di kepala, dan hidup di hati. (plk)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































