Latar Belakang Berdirinya KAMMI
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia lahir sebagai respons historis atas krisis multidimensional yang melanda Indonesia pada akhir dekade 1990-an. Krisis tersebut tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga mencakup krisis politik, hukum, dan legitimasi kekuasaan yang berpuncak pada runtuhnya rezim Orde Baru. Dalam situasi tersebut, gerakan mahasiswa tampil sebagai aktor utama perubahan, namun masih terdapat kebutuhan akan wadah gerakan mahasiswa Islam yang terorganisasi secara nasional, independen, dan memiliki garis ideologis yang jelas.
KAMMI dideklarasikan pada 29 Maret 1998 di Malang, bertepatan dengan pelaksanaan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia. Forum ini menghimpun aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang pada saat itu telah aktif dalam gerakan moral, dakwah intelektual, dan konsolidasi Reformasi. Deklarasi KAMMI menandai transformasi penting dari gerakan dakwah kampus yang bersifat kultural–spiritual menuju gerakan mahasiswa Islam yang juga berperan dalam arena sosial dan politik kebangsaan.
Secara historis, kelahiran KAMMI tidak dapat dilepaskan dari peran sejumlah tokoh mahasiswa Islam generasi Reformasi, yang kemudian dikenal luas di tingkat nasional, seperti Fahri Hamzah, Anis Matta, serta sejumlah aktivis FS-LDK lainnya. Para inisiator ini berasal dari berbagai latar kampus dan daerah, namun disatukan oleh kesadaran bersama bahwa mahasiswa Muslim harus tampil sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang berkontribusi langsung dalam perubahan sistemik bangsa.
Sejak awal pendiriannya, KAMMI dirumuskan sebagai organisasi kader sekaligus organisasi perjuangan. Artinya, KAMMI tidak hanya berorientasi pada pembinaan individu kader, tetapi juga pada transformasi sosial yang lebih luas. Islam dijadikan sumber nilai dan etika gerakan, mahasiswa diposisikan sebagai agen perubahan (agent of change), sementara masyarakat dan bangsa menjadi orientasi akhir dari seluruh aktivitas perjuangan.
Dalam perkembangannya pasca-Reformasi, KAMMI tumbuh menjadi salah satu organisasi mahasiswa Islam berskala nasional dengan struktur yang relatif mapan. Hingga kini, KAMMI memiliki lebih dari 30 Pengurus Wilayah (PW) yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia, ratusan Pengurus Daerah (PD) di tingkat kabupaten dan kota, serta ribuan Pengurus Komisariat (PK) yang berbasis di kampus-kampus negeri maupun swasta. Struktur ini menjadikan KAMMI sebagai salah satu organisasi mahasiswa dengan jaringan kaderisasi dan advokasi paling luas secara nasional.
Tidak hanya di dalam negeri, KAMMI juga mengembangkan jejaring kader di luar negeri, khususnya di negara-negara dengan konsentrasi mahasiswa Indonesia. Jejaring ini berfungsi sebagai ruang konsolidasi intelektual, penguatan identitas keislaman dan kebangsaan, serta pengembangan kapasitas kepemimpinan kader di tingkat global.
Dengan latar belakang historis tersebut, KAMMI sejak awal hingga kini menegaskan dirinya sebagai gerakan mahasiswa Islam yang independen, sah secara konstitusional, dan konsisten dalam satu garis kepemimpinan nasional, yang bergerak dalam kerangka dakwah, intelektualisme, dan perjuangan sosial demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kepengurusan Pengurus Pusat KAMMI (2025–2027)
Pada periode 2025–2027, Pengurus Pusat KAMMI dipimpin oleh Muhammad Amri Akbar, S.T., M.E. sebagai Ketua Umum. Kepemimpinan nasional ini hadir dalam konteks tantangan baru gerakan mahasiswa menguatnya pragmatisme politik, fragmentasi gerakan sipil, serta tuntutan profesionalisme organisasi di era digital dan pasca-reformasi.
Di bawah kepemimpinan ini, Pengurus Pusat KAMMI menegaskan tiga fokus strategis utama. Pertama, penguatan ideologi dan sistem kaderisasi agar KAMMI tetap konsisten sebagai gerakan dakwah dan perjuangan mahasiswa Islam. Kedua, konsolidasi struktural dan tata kelola organisasi, termasuk penguatan jaringan wilayah dan daerah, disiplin administrasi, serta peningkatan kapasitas kepemimpinan kader. Ketiga, penguatan peran sosial-kebangsaan, dengan mendorong kader terlibat aktif dalam kajian kebijakan publik, advokasi isu strategis nasional, dan kerja pengabdian masyarakat.
Arah kepemimpinan ini menegaskan bahwa KAMMI tidak boleh berhenti pada politik jalanan yang simbolik, melainkan harus tumbuh sebagai gerakan mahasiswa berbasis gagasan, data, dan keberpihakan nyata kepada kepentingan rakyat.
Kepengurusan Pengurus Wilayah KAMMI Sumatera Utara (2025–2027)
Di tingkat regional, Pengurus Wilayah KAMMI Sumatera Utara dipimpin oleh Irham Sadani Rambe, S.H. sebagai Ketua Umum PW KAMMI Sumut periode 2025–2027. Terpilih melalui Musyawarah Wilayah, kepemimpinan ini mencerminkan mandat kader daerah untuk memperkuat posisi KAMMI sebagai aktor mahasiswa Islam yang kontekstual dan responsif terhadap persoalan Sumatera Utara.
Dengan latar belakang akademik di bidang hukum, Irham Sadani Rambe membawa orientasi gerakan yang kuat pada advokasi kebijakan publik, supremasi hukum, dan pengawasan tata kelola pemerintahan daerah. PW KAMMI Sumut diarahkan bukan sekadar sebagai struktur administratif, melainkan sebagai pusat koordinasi ide, kaderisasi, dan gerakan bagi seluruh Pengurus Daerah dan komisariat.
Di bawah kepemimpinannya, PW KAMMI Sumut menitikberatkan pada peningkatan kualitas kader, penguatan kapasitas analisis kebijakan daerah, serta keterlibatan aktif dalam isu strategis seperti pendidikan, kemiskinan, korupsi, lingkungan hidup, dan pelayanan publik. Pendekatan yang dikembangkan adalah gerakan yang produktif, adaptif, dan berbasis kajian, tanpa melepaskan fondasi ideologis Islam dan nilai perjuangan mahasiswa.
Peran Strategis Pengurus Daerah KAMMI Medan
Sebagai ibu kota provinsi dan pusat konsentrasi perguruan tinggi di Sumatera Utara, Kota Medan memiliki posisi strategis dalam peta gerakan mahasiswa. Dalam konteks ini, Pengurus Daerah KAMMI Medan menjadi simpul penting kaderisasi, produksi wacana, dan advokasi publik.
Pada periode kepengurusan saat ini, KAMMI Medan dipimpin oleh Amin Siregar S.T sebagai Ketua Umum Pengurus Daerah. Kepemimpinan ini memosisikan KAMMI Medan sebagai organisasi mahasiswa Islam yang berhadapan langsung dengan kompleksitas persoalan perkotaan mulai dari kebijakan pendidikan, kemiskinan struktural, tata kelola kota, hingga dinamika sosial-politik lokal.
KAMMI Medan berfungsi sebagai ruang kaderisasi sekaligus laboratorium gerakan, tempat militansi aksi dipadukan dengan penguatan intelektual, advokasi kebijakan, dan kerja sosial berbasis masyarakat kampus dan kota.
Posisi KAMMI sebagai Mitra Kritis Pemerintahan
Dalam kerangka gerakan mahasiswa dan sesuai mandat AD/ART, KAMMI menempatkan diri bukan sebagai oposisi permanen, melainkan sebagai mitra kritis pemerintahan. KAMMI berkomitmen untuk mendukung kebijakan publik yang berpihak pada keadilan sosial, kepentingan rakyat, dan nilai konstitusional, sekaligus memberikan kritik terbuka, objektif, dan berbasis kajian terhadap kebijakan yang tidak sejalan dengan prinsip tersebut.
Bagi KAMMI Sumatera Utara dan KAMMI Medan, posisi ini diwujudkan melalui advokasi kebijakan, kajian publik, pernyataan sikap, serta aksi konstitusional yang bertujuan menjaga agar arah kebijakan pemerintah daerah tetap berada dalam koridor keadilan, transparansi, dan keberpihakan kepada masyarakat. Kritik dipahami sebagai kontribusi intelektual dan moral mahasiswa, bukan sebagai antagonisme politik.
Arah Kebijakan dan Tantangan Ke Depan
Ke depan, KAMMI dituntut untuk memperkuat konsistensi ideologis, meningkatkan kualitas kader intelektual, serta menjaga disiplin organisasi di tengah tantangan zaman. Literasi kebijakan publik, kemampuan riset, dan etika gerakan menjadi kebutuhan mendesak agar KAMMI tetap relevan dan berdaya guna.
Pada saat yang sama, perlu ditegaskan secara terang bahwa KAMMI berdiri tanpa dualisme kepemimpinan. KAMMI adalah satu organisasi, satu komando, dan satu garis perjuangan, yang secara nasional berada di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammad Amri Akbar, dan di tingkat Sumatera Utara berada di bawah kepemimpinan Ketua Umum PW KAMMI Sumut Irham Sadani Rambe. Seluruh gerak organisasi berjalan berdasarkan AD/ART dan mekanisme yang sah.
Visi KAMMI
“Terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Visi ini menegaskan orientasi KAMMI yang bersifat transformatif, mengintegrasikan nilai keislaman, keadilan sosial, dan komitmen kebangsaan.
Misi KAMMI
– Membina dan melahirkan kader mahasiswa Muslim yang beriman, berilmu, dan beramal.
– Mengembangkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial kebijakan publik.
– Mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil, demokratis, dan berkeadaban.
– Mengaktualisasikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hymne dan Mars KAMMI
Hymne KAMMI berfungsi sebagai narasi spiritual dan ideologis gerakan,
berikut teks Hymne KAMMI:
Puji Syukur Ya Allah Maha Kuasa
Limpah Karunia Indonesia Pusaka
Kami Telah Berhimpun Dalam Satu Tujuan
Menjaga Cita-Cita Indonesia Merdeka
Tauhidkan Indonesia Ijtihad Kami
Bersatu Dan Bergerak Memimpin Negeri
Kepada Indonesia Bakti Abadi Kami
Ciptakan Generasi Muslim Sejati
Bangun Persaudaraan Penuh Berkah
Menjaga Cita-Cita Jayakan Indonesia
Tegaklah Islamku
Daulat Bangsaku
Jayalah Negeriku
Bakti Abadi KAMMI
Bakti Abadi KAMMI
sedangkan Mars KAMMI merepresentasikan semangat juang, militansi, dan disiplin kolektif kader. Berikut Teks Lirik Mars KAMMI:
Cipt : MAUKUF
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2x
Berjuang Tegakkan Ketauhidan
Untuk Kemuliaan
Berbekal Ilmu Iman Yang Mendalam
Mahasiswa Muslim Indonesia
Intelektual Masyarakat Beriman
Islam Jiwa Perjuangan
Kebatilan Adalah Musuh Insan
Islam Jalan perjuangan
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2x
Berjuang Tegakkan Ketauhidan
Untuk Kemuliaan
Berbekal Ilmu Yang Mendalam
Mahasiswa Muslim Negarawan
Perbaikan Tradisi Dalam Berjuang
Memimpin Umat Gapai Kemenangan
Persaudaraan Watak Dalam Berjuang
Solusi Islam Dalam Perjuangan
Keduanya menjadi sarana internalisasi nilai, konsolidasi ideologis, dan penguatan identitas organisasi dalam setiap forum resmi KAMMI.
Kredo Gerakan KAMMI
Kredo Gerakan KAMMI menegaskan jati diri kader sebagai aktivis dakwah, intelektual, dan pejuang sosial yang berpihak pada kebenaran dan keadilan, menjunjung tinggi integritas moral, serta menjaga independensi gerakan dari kepentingan pragmatis.
Berikut teks Kredo Gerakan KAMMI:
1. Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.
2. Kami adalah orang-orang pemberani. Hanyalah Allah yang kami takuti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggentarkan hati kami, atau membuat kami tertunduk apalagi takluk kepadanya. Tiada yang kami takuti, kecuali ketakutan kepada-Nya.
3. Kami adalah para petarung sejati. Atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Kami bukan golongan orang yang melarikan diri dari medan pertempuran atau orang-orang yang enggan pergi berjihad. Kami akan memenangkan setiap pertarungan dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam.
4. Kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko. Syahid adalah kemuliaan dan cita-cita tertinggi kami. Kami adalah para perindu surga. Kami akan menyebarkan aromanya di dalam kehidupan keseharian kami kepada suasana lingkungan kami. Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, zikir, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat.Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kukuh.
5. Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.
6. Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, prajurit yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.
Refleksi Pribadi: Proses Kaderisasi dan Kebanggaan Menjadi Kader KAMMI
Secara personal, perjalanan dua tahun bergabung dengan KAMMI merupakan fase penting yang membentuk cara pandang, sikap, dan orientasi saya sebagai mahasiswa. Proses tersebut tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui tahapan yang menuntut kesungguhan, kedisiplinan, serta kesediaan untuk ditempa oleh nilai dan tradisi organisasi. Pengalaman awal itu dimulai dari kaderisasi Dasar Mahasiswa (DM I) di Komisariat KAMMI Garuda, di Komisariat Universitas Negeri Medan Pada Tahun 2024. yang menjadi pintu masuk pertama saya mengenal KAMMI bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter dan kesadaran perjuangan.
Dalam proses kaderisasi tersebut, saya menemukan bahwa KAMMI tidak sekadar menawarkan aktivitas organisasi atau forum diskusi, melainkan menghadirkan sebuah tradisi berpikir dan bersikap. Nilai keislaman, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial tidak diajarkan sebagai slogan, tetapi ditanamkan melalui proses dialog, pembiasaan, dan keteladanan. Kaderisasi mengajarkan bahwa menjadi mahasiswa tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial, keberanian moral, dan komitmen terhadap perubahan.
Perjalanan itu juga menyadarkan saya bahwa perubahan diri dan perubahan sosial tidak pernah lahir dari jalan pintas. Ia menuntut proses yang panjang, kesabaran dalam belajar, serta konsistensi dalam berproses. Sebagaimana pepatah sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit, setiap tahapan dalam KAMMI baik dalam forum kaderisasi, diskusi, maupun keterlibatan gerakan perlahan membentuk pola pikir yang lebih kritis, sikap yang lebih bertanggung jawab, dan keberanian untuk mengambil peran secara sadar dan terukur.
Seiring waktu, KAMMI tidak hanya menjadi ruang aktivitas, tetapi juga ruang pembelajaran nilai dan kedewasaan berpikir. Di dalamnya, saya belajar bahwa keberpihakan kepada kebenaran harus dibarengi dengan etika, bahwa kritik harus disertai tanggung jawab intelektual, dan bahwa militansi gerakan harus tetap berpijak pada kedalaman gagasan. Proses ini membentuk kesadaran bahwa menjadi kader KAMMI berarti siap ditempatkan sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton atau pengkritik tanpa arah.
Pada titik inilah tumbuh rasa bangga menjadi kader KAMMI sebuah kebanggaan yang tidak lahir dari simbol, atribut, atau pengakuan eksternal, melainkan dari proses panjang yang membesarkan nilai dan karakter kadernya. Kebanggaan itu bersumber dari keyakinan bahwa KAMMI adalah ruang yang mendidik kader untuk berpikir jernih, bersikap adil, dan tetap teguh pada nilai Islam dalam menghadapi kompleksitas realitas sosial dan kebangsaan.
Pengalaman dua tahun ini mungkin masih merupakan tahap awal, namun cukup untuk menegaskan bahwa KAMMI bukan sekadar persinggahan organisasi, melainkan ruang pembentukan arah hidup dan tanggung jawab intelektual sebagai mahasiswa Muslim. Dalam proses inilah saya belajar bahwa menjadi kader KAMMI berarti siap terus berproses, menjaga integritas, dan menempatkan perjuangan dalam kerangka nilai, bukan sekadar emosi sesaat.
Penutup dan Ajakan Bergabung
KAMMI Sumatera Utara dengan simpul strategisnya di KAMMI Medan merupakan manifestasi lokal dari spirit Reformasi 1998 yang tetap relevan hingga hari ini. Namun relevansi tersebut tidak lahir secara otomatis, melainkan harus terus dirawat melalui konsistensi ideologis, ketajaman analisis, dan keberanian bersikap dalam merespons dinamika kebijakan publik. Dalam konteks ini, keberlanjutan gerakan KAMMI tidak diukur dari intensitas aksi semata, tetapi dari kedalaman gagasan, kualitas kader, dan keberpihakan nyata kepada kepentingan rakyat.
Sebagai organisasi mahasiswa Islam, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia menempatkan dirinya secara sadar dalam posisi mitra kritis pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah. KAMMI tidak menutup mata terhadap kebijakan yang progresif dan berpihak pada keadilan sosial, namun pada saat yang sama tidak segan memberikan kritik terbuka, objektif, dan berbasis kajian terhadap kebijakan yang dinilai menyimpang dari prinsip keadilan, transparansi, dan keberpihakan kepada masyarakat luas.
Di tingkat nasional, KAMMI secara aktif terlibat dalam kajian dan advokasi isu-isu strategis kebangsaan mulai dari demokrasi, penegakan hukum, pendidikan, hingga kesejahteraan sosial. Peran ini dijalankan bukan untuk mencari kedekatan kekuasaan, melainkan untuk memastikan bahwa suara mahasiswa dan aspirasi rakyat tetap hadir dalam proses pengambilan kebijakan publik. KAMMI memandang bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga arah pembangunan agar tidak menjauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan.
Pada tingkat wilayah, khususnya di Sumatera Utara, KAMMI hadir sebagai aktor mahasiswa Islam yang konsisten mengawal tata kelola pemerintahan daerah. Berbagai kebijakan publik baik di sektor pendidikan, pelayanan publik, tata kelola anggaran, maupun isu sosial menjadi objek kajian dan kritik KAMMI Sumut. Sikap kritis ini bukan dimaksudkan sebagai penolakan tanpa solusi, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab intelektual mahasiswa dalam memastikan kebijakan daerah tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
Lebih spesifik lagi, di Kota Medan, KAMMI Medan menempatkan diri sebagai pengawas sosial (social control) yang aktif dan berkelanjutan. Kompleksitas persoalan perkotaan mulai dari kebijakan pendidikan, kemiskinan struktural, tata ruang, hingga kualitas pelayanan publik menuntut kehadiran gerakan mahasiswa yang tidak hanya lantang, tetapi juga cermat dan berbasis data. Dalam konteks inilah, KAMMI Medan terus melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah kota yang dinilai tidak transparan, tidak partisipatif, atau tidak berpihak kepada rakyat, sembari tetap mendorong dialog kebijakan yang sehat dan konstruktif.
Seluruh peran tersebut dijalankan dalam kerangka organisasi yang sah, satu komando, dan bebas dari dualisme kepemimpinan. KAMMI secara nasional berada di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammad Amri Akbar, dan di tingkat Sumatera Utara berada di bawah kepemimpinan Ketua Umum PW KAMMI Sumut Irham Sadani Rambe. Setiap sikap, gerakan, dan pernyataan KAMMI berlandaskan AD/ART serta mekanisme organisasi yang konstitusional, sehingga kritik yang disampaikan memiliki legitimasi moral dan institusional yang kuat.
Dengan posisi tersebut, KAMMI menegaskan bahwa gerakan mahasiswa Islam tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu atau sekadar simbol perlawanan. KAMMI harus terus hadir sebagai kekuatan intelektual yang kritis, etis, dan solutif, yang mampu menjembatani nilai Islam, realitas kebijakan publik, dan kepentingan rakyat.
Bagi mahasiswa Muslim yang ingin tumbuh sebagai intelektual, aktivis, dan pemimpin masa depan, KAMMI membuka ruang perjuangan yang jelas, terarah, dan berlandaskan nilai Islam. Bergabung dengan KAMMI berarti siap berproses, siap ditempa oleh kaderisasi, dan siap mengambil peran dalam mengawal kebijakan publik secara bertanggung jawab. Mari bergabung bersama KAMMI, menjadi bagian dari gerakan mahasiswa Islam yang sah, satu komando, dan konsisten memperjuangkan perubahan nyata bagi umat, daerah, dan bangsa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”






































































