Jakarta – Ancaman krisis iklim global yang kian nyata menuntut langkah konkret dalam konservasi laut. Menanggapi tantangan tersebut, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) memperkuat implementasi strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan menempatkan 5.500 Concrete Reef Unit (CRU) di perairan Gili Meno, Lombok Utara.
Proyek yang dilaksanakan sejak Oktober 2025 ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara perusahaan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I. Langkah ini difokuskan pada penyelamatan ekosistem pesisir dari ancaman abrasi yang kian mengkhawatirkan di Gili Meno.
Mitigasi Abrasi dan Restorasi Terumbu Karang
Wilayah pesisir Gili Meno saat ini tengah menghadapi tekanan lingkungan yang serius. Berdasarkan data teknis, pesisir timur kawasan ini mengalami abrasi hingga 2,1 meter per tahun, dengan pergeseran garis pantai mencapai 25 meter dalam periode 2011-2021.
Sebagai solusi mitigasi, WIKA Beton menerapkan teknologi Concrete Reef Unit (CRU), yakni beton pracetak berbentuk kubus berongga seberat 1 ton dengan dimensi 100 x 100 x 100 cm. Inovasi ini dirancang untuk menjalankan fungsi ganda: sebagai struktur pemecah gelombang guna melindungi garis pantai, sekaligus menjadi habitat buatan (artificial reef) bagi biota laut.
“Concrete Reef Unit WIKA Beton dirancang untuk memperkaya keanekaragaman hayati laut sekaligus melindungi pesisir Gili Meno dari abrasi,” jelas Sekretaris Perusahaan WIKA Beton, Yushadi, dalam keterangan resminya pada siaran pers.
Mendukung Target Biodiversitas Global
Inisiatif ini sejalan dengan komitmen global untuk memulihkan ekosistem laut. Riset menunjukkan bahwa perlindungan terhadap 30 persen wilayah terumbu karang dunia dapat meningkatkan stok ikan global hingga 28 persen. Sebagai negara yang mengelola sekitar 18 persen terumbu karang dunia, aksi konservasi di Indonesia memiliki dampak signifikan terhadap ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi nasional.
Saat ini, kondisi terumbu karang di Indonesia memerlukan perhatian khusus. Sekitar 83 persen terumbu karang yang tereksploitasi telah kehilangan sebagian besar biomassa ikannya, dengan estimasi waktu pemulihan alami mencapai puluhan tahun. Kehadiran CRU diharapkan mampu mengakselerasi proses pemulihan ekosistem yang rusak akibat aktivitas manusia maupun faktor alam.
Inovasi Produksi dan Dampak Berkelanjutan
Produksi 5.500 unit CRU ini dilakukan di Pabrik Produksi Beton (PPB) Pasuruan dan Unit Operasi 3 WIKA Beton, sebelum akhirnya dikirim melalui pelabuhan Gresik menuju lokasi penempatan. Desain rongga pada CRU memungkinkan aliran air lewat dengan hambatan minimal, sehingga struktur beton tetap stabil meski diterjang gelombang besar.
Lima bulan pasca-pemasangan, WIKA Beton optimis penempatan CRU memberikan indikasi positif terhadap pemulihan ekosistem di kawasan konservasi Gili Meno. Proyek ini juga menegaskan posisi WIKA Beton dalam ekosistem Danantara dan BUMN untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang selaras dengan prinsip pelestarian alam.
Melalui integrasi teknologi pracetak dan kepedulian lingkungan, proyek ini menjadi bukti bahwa sektor industri material konstruksi dapat berperan aktif dalam menjaga kekayaan alam Indonesia sebagai bagian dari paru-paru dunia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































