Viral! Kisah Najib Nadir, seorang guru muda yang mengajar di pelosok Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Membagikan momen mengharukan di akun instagram @najib_nadir pada tanggal 14/04/2026 menunjukkan bahwa Sejumlah siswa SD di Negeri terpencil pulang terburu buru melewati derasnya air sungai dan disaat hujan.
Hal ini dilakukan bukan karena tanpa alasan, para siswa harus segera bergegas untuk mengejar waktu sebelum air sungai meluap.Video tersebut viral saat anak anak sedang berlarian melawan derasnya air sungai, hingga saat ini video tersebut telah diputar sebanyak 8,7jt penonton pada tanggal 15/04/2026. “cepat, cepat sebelum banjir. Nyebrang nyebrang nyebrang. Pelan pelan pelan pelan” ucap najib sambil berteriak untuk memberi himbauan dan menemani para siswa saat melawan arus air sungai.
Dalam video tersebut juga terlihat bahwa baju mereka basah kuyup akibat turunya hujan. Saat melawan arus sungai para siswi terlihat bergandengan tangan agar tidak terbawa arus sungai. “Mari berdoa semoga proses pembangunan jembatan kami tidak ada kendala, supaya bisa segera selesai,” tulisnya.
Setelah beberapa kali video tersebut viral dengan mengeluhkan akses jalan menuju sekolah, akhirnya pemerintah mulai membangun jembatan “Alhamdulillah jembatan untuk siswa kami sudah dibangun,” tulisnya dalam unggahan videonya pada 8/04/2026 lalu.
“Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh pembayar pajak, pemerintah pusat hingga daerah, Pak Wawan dan tim dari TNI, pemerintah dan warga desa, doa dan dukungan warga IG dan TikTok,” ujarnya. Najib juga menyebutkan bahwa memiliki kekhawatiran karena potensi sungai yang menjadi akses menuju sekokah meluap.
Menuai keprihatinan dan dukungan kepada warganet, unggahan tersebut mendapati komentar hingga 19,6rb pada tanggal 15/04/2026.
Viralnya kisah Najib memang membawa dampak positif, seperti perhatian pemerintah terhadap pembangunan jembatan. Namun, perbaikan seharusnya tidak bergantung pada viralitas semata. Banyak daerah lain yang menghadapi kondisi serupa, tetapi belum mendapatkan perhatian.
Pada akhirnya, kisah ini adalah pengingat bahwa pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan besar. Negara tidak boleh terus mengandalkan pengorbanan individu. Akses yang aman, infrastruktur yang layak, dan kesejahteraan guru adalah hal mendasar yang harus dipenuhi tanpa harus menunggu kisah serupa menjadi viral terlebih dahulu.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































