Iran kembali menutup Selat Hormuz, Sabtu (20/6/2026), tak lama setelah jalur minyak dunia itu baru dibuka pekan sebelumnya. Militer Iran menuding Amerika Serikat melanggar nota kesepahaman damai karena gagal menjalankan klausul gencatan senjata, termasuk di Lebanon. Bagi Indonesia, kabar ini bukan cuma soal geopolitik jauh di Timur Tengah—tapi soal isi dompet, dari harga bensin sampai ongkos angkut barang di pasar.
Penutupan kali ini dipicu serangan Israel di Lebanon selatan yang dianggap Iran sebagai pelanggaran kesepakatan damai yang baru ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Di sisi lain, Komando Pusat AS membantah klaim itu, dengan juru bicara Angkatan Laut AS menyebut Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz dan lalu lintas kapal tetap berjalan.
Ironisnya, penutupan ini terjadi hanya beberapa hari setelah jalur tersebut sempat dibuka kembali. Selat Hormuz, yang menjadi rute utama sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, dibuka kembali menyusul nota kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani Kamis lalu. Lalu lintas kapal pun mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat anjlok lebih dari 90 persen selama perang AS/Israel-Iran yang berlangsung sekitar 100 hari.
Bagi yang belum familiar, Selat Hormuz adalah jalur sempit di selatan Iran yang jadi “leher botol” pelayaran minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global lewat di sana, diekspor produsen-produsen besar seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, terutama ke kawasan Asia. Saat selat ini macet, harga minyak dunia biasanya langsung bereaksi.
Pengalaman penutupan sebelumnya jadi contoh nyata. Harga minyak mentah dunia sempat melonjak mendekati US$120 per barel, dengan minyak WTI naik 26,5 persen dan Brent naik 23 persen dalam waktu singkat—lonjakan terbesar sejak 1983. Di dalam negeri, dampaknya merembet ke ongkos logistik. Founder dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, memperkirakan kenaikan harga minyak global sebesar USD 25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga solar sekitar Rp750-2.000 per liter, yang berimbas pada biaya angkut truk.
Pemerintah pun sudah punya pengalaman menghadapi situasi serupa. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan stok BBM nasional masih aman untuk sekitar 20 hari, kategori yang menurutnya tergolong aman. Sebagai antisipasi, pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor minyak dan LPG ke negara yang tidak terkait Selat Hormuz, sembari memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite tidak naik selama belum ada kebijakan baru.
Yang menarik, normalisasi pasar ternyata tidak instan meski selat dibuka. Analis memperkirakan harga minyak bisa membutuhkan waktu empat hingga delapan pekan untuk benar-benar stabil, karena antrean kapal tanker yang menumpuk, premi asuransi pengiriman yang masih tinggi, dan persediaan yang terkuras selama masa penutupan. Kini, dengan penutupan baru yang diumumkan, proses itu kemungkinan harus dimulai lagi dari awal.
Bagi masyarakat awam, dampaknya mungkin baru terasa beberapa minggu ke depan—lewat harga BBM non-subsidi, ongkos kirim barang, atau harga sembako yang ikut terseret biaya logistik. Untuk sementara, yang bisa dilakukan hanyalah menunggu apakah ketegangan ini akan menemukan jalan damai lagi seperti pekan lalu, atau berlarut lebih panjang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































