Belt and Road Initiative (BRI), yang juga dikenal sebagai One Belt One Road (OBOR), merupakan strategi ambisius pembangunan infrastruktur dan kerjasama ekonomi yang diprakarsai oleh Tiongkok. Pertama kali diumumkan oleh Presiden Xi Jinping pada tahun 2013, inisiatif ini memiliki dua komponen utama. Komponen pertama adalah Silk Road Economic Belt, yang menghubungkan Tiongkok dengan Eropa melalui jalur darat. Komponen kedua adalah 21st Century Maritime Silk Road, yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa melalui jalur laut. Inisiatif ini sering dipuji karena kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur di berbagai negara, meskipun juga menuai kritik atas praktik “debt-trap diplomacy” serta kekhawatiran terhadap pengaruh politik Tiongkok.
Nigeria, sebagai ekonomi terbesar di Afrika, menunjukkan pemulihan yang menggembirakan sejak reformasi besar-besaran pada 2023. Reformasi ini mencakup penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan pengetatan kebijakan moneter. Meskipun masih dihadapkan pada tantangan seperti inflasi tinggi dan ketergantungan pada sektor minyak, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3,9% pada 2025. Pada 2026, Nigeria diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar ketiga di Afrika dengan PDB mencapai sekitar $334 miliar, didorong oleh sektor non-minyak dan rebound produksi minyak.
Inflasi di Nigeria telah menurun drastis setelah menyentuh lebih dari 30% pada 2024, diprediksi turun ke kisaran 14,45–15,15% pada akhir 2025. Proyeksi untuk 2026 menunjukkan penurunan lebih lanjut menjadi 11–14%, berkat stabilisasi nilai tukar naira dan penurunan harga pangan. Namun, tantangan struktural seperti ketergantungan pada impor masih menjadi hambatan utama. Tingkat pengangguran di kalangan pemuda diperkirakan mencapai 22,6%, dengan sektor informal yang dominan, meskipun ada potensi perbaikan melalui pertumbuhan sektor tertentu dan reformasi investasi.
Meskipun menghadapi isu ketergantungan pada minyak serta ketidakamanan, reformasi struktural dan proyek infrastruktur mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Tahun 2026 dianggap sebagai momen transformasi bagi Nigeria, dengan harapan pertumbuhan di atas 4% jika inflasi terkendali dan reformasi terus berlanjut.
Kerjasama BRI China-Nigeria dalam Infrastruktur Kereta Api
Kerjasama Belt and Road Initiative antara China dan Nigeria secara khusus fokus pada pengembangan infrastruktur kereta api, yang dikerjakan oleh China Civil Engineering Construction Corporation (CCECC) dengan pendanaan dari China Development Bank (CDB). Nigeria resmi bergabung dengan BRI pada 2018, dengan prioritas pada koridor Lagos-Kano untuk meningkatkan konektivitas dan perdagangan regional.
Proyek utama dalam kerjasama ini meliputi:
1. – Abuja–Kaduna Rail Line (187 km): Selesai dan beroperasi sejak Juli 2016, menjadi proyek kereta api berkecepatan standar (SGR) pertama yang sukses di Nigeria.
2. – Lagos–Ibadan Rail Line (157 km): Mulai beroperasi penuh sejak 2021, menghubungkan dua kota besar dan meningkatkan efisiensi logistik secara signifikan.
3. – Kaduna–Kano Rail Line (203 km): Konstruksi dimulai pada Juli 2021, dengan progres hampir 56% pada akhir 2025 dan target penyelesaian pada 2026.
Kerjasama ini tidak hanya mengurangi waktu perjalanan dan biaya transportasi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja serta transfer teknologi melalui pelatihan tenaga kerja lokal dan pengenalan teknologi modern. Meskipun ada tantangan seperti keterlambatan pendanaan dan kekhawatiran utang, proyek kereta api tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah Nigeria.
Kerjasama ini mempercepat transformasi Nigeria sebagai ekonomi terbesar ketiga di Afrika, dengan proyeksi PDB $334 miliar, meskipun menghadapi tantangan seperti inflasi, utang, dan ketergantungan minyak. Proyek infrastruktur tidak hanya mengurangi biaya transportasi, tetapi juga mentransfer teknologi dan keterampilan ke tenaga kerja lokal. Meski dikritik soal “debt-trap diplomacy”, reformasi struktural Nigeria sejak 2023—seperti penghapusan subsidi BBM—sinergis dengan BRI untuk pertumbuhan berkelanjutan, asal inflasi terkendali di bawah 14% dan ketidakamanan teratasi.

Penulis:
Rifqi Adi Praditya
Program Studi Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Cenderawasih
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































