Riau (MAN 1 Yogya) — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh tenaga pendidik MAN 1 Yogyakarta. Suci Ambar Wati, S.Pd., guru sejarah di madrasah tersebut, berhasil meraih Juara I dalam ajang Olimpiade Sejarah (OASE) XIV Bidang Esai Kesejarahan Nasional Tingkat Guru yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Riau. Kompetisi ini diikuti oleh para guru sejarah dari berbagai daerah di Indonesia dan berlangsung melalui beberapa tahapan seleksi. Pengumpulan karya esai ditutup pada 25 Maret 2026, dilanjutkan dengan pengumuman lima besar pada 31 Maret 2026. Para finalis kemudian mengikuti technical meeting pada 4 April 2026 dan melaju ke babak final berupa presentasi pada 8 April 2026.
Dalam kompetisi tersebut, panitia membatasi jumlah peserta maksimal 30 orang. Seluruh karya diseleksi oleh dewan juri yang terdiri dari Prof, Dr. Isjoni, M.Si., Dr. Asyrul Fikri, M. Pd., dan Dr. Bunari, M. Si. Penilaian meliputi aspek kebahasaan, keakuratan sumber data, kekuatan gagasan, serta kesesuaian dengan tema. Lima esai terbaik kemudian dipilih untuk dipresentasikan di babak final.
Berbeda dari peserta lainnya, Suci Ambar Wati mengikuti presentasi secara daring, sementara finalis lain hadir secara langsung di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Ia menjadi satu-satunya peserta yang mempresentasikan karyanya secara online dengan menyertakan surat tugas resmi. Dalam babak final, setiap peserta diberikan waktu 10 menit untuk memaparkan gagasan, diikuti sesi tanya jawab selama 5 menit. Penilaian difokuskan pada kualitas media presentasi, kemampuan penyampaian, kekuatan argumentasi, serta gaya bahasa.
Mengusung tema peran tenaga pendidik dalam mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan mutu pendidikan di era digital, Suci mengangkat judul esai “Konsistensi Guru Sejarah di Balik Layar TikTok: Merangkai Pengalaman Berkarya menjadi Ruang Belajar Digital.” Dalam karyanya, ia menyoroti praktik nyata pemanfaatan platform digital sebagai media pembelajaran sejarah.
Sejak awal 2024, Suci secara konsisten mengembangkan konten edukatif berbasis video pendek melalui aplikasi TikTok. Hingga kini, lebih dari 300 konten telah diproduksi dengan memanfaatkan lokasi-lokasi bersejarah sebagai sumber belajar langsung. Pendekatan ini, menurutnya, menjadi upaya untuk mengubah paradigma bahwa pelajaran sejarah cenderung membosankan.
“Sejarah bukan pelajaran yang membosankan. Yang diperlukan adalah cara penyampaian yang tepat agar murid dapat merasakan kedekatan dengan peristiwa masa lalu,” ujarnya.
Saat pengumuman lima besar, Suci berada di peringkat keempat. Posisi tersebut mendorongnya untuk tampil maksimal di babak final. Ia memilih pendekatan storytelling secara penuh dalam presentasi untuk memperkuat penyampaian gagasan. Strategi tersebut membuahkan hasil. Dewan juri menetapkan Suci Ambar Wati sebagai Juara I, mengungguli finalis lainnya dan menegaskan kualitas inovasi pembelajaran berbasis digital yang diusungnya.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga inovator dalam pembelajaran. Apa yang dilakukan Ibu Suci menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara kreatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




























































