Bagi kebanyakan orang Indonesia, nasi adalah makanan pokok yang hampir tak bisa digantikan. Namun, ada kabar menarik: ternyata nasi yang sudah didinginkan bisa memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik dibanding nasi hangat. Fenomena ini berkaitan dengan terbentuknya pati resisten (resistant starch), yaitu jenis karbohidrat yang bekerja mirip serat.
Apa Itu Pati Resisten?
Pati resisten adalah bagian dari karbohidrat yang tidak mudah dicerna di usus halus. Alih-alih langsung diubah menjadi gula darah, pati ini melewati saluran pencernaan atas lalu difermentasi oleh bakteri baik di usus besar. Proses ini membuatnya memiliki fungsi serupa serat pangan.
Menurut Nugent (2005), “pati resisten bertindak sebagai serat pangan yang dapat difermentasi, dengan manfaat utama bagi metabolisme glukosa, kesehatan usus besar, dan rasa kenyang.”
Beberapa makanan yang diketahui mengandung pati resisten antara lain pisang yang masih agak mentah, kacang-kacangan, kentang dingin, dan tentu saja nasi yang sudah disimpan semalaman di lemari es.
Kenapa Nasi Dingin Lebih Sehat?
Saat nasi dimasak lalu didinginkan, struktur pati di dalamnya mengalami perubahan yang disebut retrogradasi. Perubahan ini membuat sebagian pati lebih sulit diurai oleh enzim pencernaan, sehingga otomatis menurunkan lonjakan gula darah setelah makan.
Seperti dijelaskan oleh Sajilata et al., (2006), “pemanasan dan pendinginan menyebabkan retrogradasi pati, menghasilkan pati resisten tipe 3 (RS3) yang memiliki efek menurunkan indeks glikemik makanan.”
Manfaat Pati Resisten untuk Kesehatan
Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi pati resisten membawa berbagai manfaat:
• Mengontrol gula darah: baik untuk penderita diabetes atau orang yang ingin menjaga kestabilan energi.
• Meningkatkan kesehatan usus: karena bertindak sebagai prebiotik yang memberi makan bakteri baik.
• Membuat kenyang lebih lama: fermentasi pati resisten menghasilkan senyawa yang membantu menekan rasa lapar.
• Menurunkan risiko kanker usus besar: melalui produksi asam lemak rantai pendek, terutama butirat, yang menyehatkan sel usus.
Birt et al., (2013) menulis: “Resistant starch consistently leads to increased production of butyrate, a short-chain fatty acid with protective effects on colon health.”
Sementara Higgins (2014) menegaskan: “Mengonsumsi pati resisten dapat membantu pengaturan berat badan dengan meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi asupan energi.”
Cara Sederhana Meningkatkan Asupan Pati Resisten
Tidak perlu mencari bahan makanan mahal untuk mendapatkan manfaat ini. Beberapa trik mudah bisa dicoba di rumah:
• Simpan nasi yang baru matang di lemari es selama semalaman, lalu panaskan kembali sebelum dimakan.
• Konsumsi kentang rebus dingin, misalnya dalam bentuk salad kentang.
• Pilih pisang yang masih sedikit hijau karena kadar pati resistennya lebih tinggi.
Penutup
Nasi dingin mungkin terdengar biasa saja, bahkan sering dianggap kurang enak. Namun, di balik kesederhanaannya, ada “rahasia kesehatan” yang jarang diketahui banyak orang. Dengan cara memasak dan menyimpan yang tepat, nasi bisa menjadi sumber energi sekaligus membantu menjaga kesehatan usus dan metabolisme.
Jadi, lain kali jangan buru-buru menganggap nasi sisa di kulkas sebagai makanan basi — bisa jadi justru itulah karbohidrat sehat yang tubuh Anda butuhkan.
Referensi Ilmiah
Birt, D. F., Boylston, T., Hendrich, S., Jane, J. L., Hollis, J., Li, L., … & Whitley, E. M. (2013). Resistant starch: promise for improving human health. Advances in nutrition, 4(6), 587–601.
Haralampu, S. G. (2000). Resistant starch — a review of the physical properties and biological impact of RS3. Carbohydrate polymers, 41(3), 285–292.
Higgins, J. A. (2014). Resistant starch and energy balance: impact on weight loss and maintenance. Critical reviews in food science and nutrition, 54(9), 1158–1166.
Lockyer, S., & Nugent, A. P. (2017). Health effects of resistant starch. Nutrition bulletin, 42(1), 10–41.
Masotti, A. I., Buckley, N., Champagne, C. P., & Green-Johnson, J. (2011). Immunomodulatory bioactivity of soy and milk ferments on monocyte and macrophage models. Food research international, 44(8), 2475–2481.
Nugent, A. P. (2005). Health properties of resistant starch. Nutrition Bulletin, 30(1), 27–54.
Dong, H., Bao, X., & Zeng, H. (2025). Resistant starch: advances and applications in nutrition for disease prevention. Frontiers in Nutrition, 12, 1636551.
Sajilata, M. G., Singhal, R. S., & Kulkarni, P. R. (2006). Resistant starch–a review. Comprehensive reviews in food science and food safety, 5(1), 1–17.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































