Kemajuan zaman membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Teknologi semakin canggih, informasi datang begitu cepat, dan gaya hidup global makin mudah diakses. Namun, di balik segala kemudahan itu, ada satu hal yang perlahan mulai terkikis: tradisi. Modernisasi yang awalnya bertujuan untuk memudahkan manusia, kini justru menjadi arus besar yang menelan banyak nilai budaya dan kebiasaan lokal yang dulu begitu dijaga.
Mungkin tanpa sadar, kita sering lebih memilih hal yang praktis dan modern dibandingkan menjaga tradisi. Dulu, masyarakat masih terbiasa bergotong royong, mengenal satu sama lain, dan menjunjung nilai sopan santun yang kuat. Kini, kehidupan serba cepat dan individualistis mulai menggantikan kebiasaan itu. Anak muda lebih akrab dengan dunia digital ketimbang kegiatan sosial di lingkungannya sendiri. Bahkan dalam hal berpakaian, berbicara, hingga cara berpikir, banyak yang lebih meniru budaya luar karena dianggap lebih keren dan relevan.
Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2023), sekitar 62% generasi muda di Indonesia mengaku lebih mengenal budaya luar dibanding budaya daerahnya sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya tradisional sedang mengalami tantangan besar di tengah modernisasi. Tradisi yang dulunya menjadi identitas kini mulai dianggap sebagai hal kuno dan tidak menarik. Padahal, di balik setiap tradisi ada nilai-nilai luhur yang membentuk karakter bangsa dan juga nilai yang tidak bisa digantikan oleh modernitas.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), saya melihat fenomena ini bukan hanya persoalan budaya, tapi juga persoalan karakter dan moral warga negara. Dalam PPKn, kami belajar bahwa budaya merupakan bagian penting dari jati diri bangsa dan sumber nilai moral yang membentuk perilaku warga negara. Ketika tradisi mulai ditinggalkan, bukan hanya kesenian yang hilang, tapi juga nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan rasa hormat yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.
Permainan tradisional seperti engklek, gobak sodor, dan egrang kini hampir tak dikenal oleh anak-anak generasi sekarang. Mereka lebih memilih bermain mobile games di ponsel ketimbang berinteraksi langsung di lapangan. Di satu sisi, kemajuan teknologi memang memberi hiburan yang cepat dan praktis. Tapi di sisi lain, interaksi sosial dan nilai kebersamaan yang dulu tumbuh dari permainan tradisional itu perlahan hilang.
Bukan hanya permainan, banyak juga kesenian daerah yang kehilangan penontonnya. Tari-tarian daerah, musik tradisional, dan pakaian adat kini lebih sering ditampilkan hanya saat lomba atau perayaan tertentu seolah-olah budaya hanya “dikeluarkan” ketika dibutuhkan. Bahkan, tak sedikit generasi muda yang tidak tahu arti di balik tradisi yang dijalankan. Misalnya, upacara adat yang dulu dijalankan dengan penuh makna kini sekadar menjadi tontonan tanpa pemahaman mendalam.
Namun, modernisasi sebenarnya tidak selalu menjadi musuh tradisi. Masalahnya bukan pada kemajuan itu sendiri, tetapi pada cara kita menyeimbangkannya. Budaya bisa tetap hidup di tengah modernitas jika kita mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Misalnya, banyak kreator muda yang mulai memperkenalkan budaya lokal melalui media digital, dari konten TikTok bertema batik, vlog budaya daerah, hingga musik modern yang memadukan alat tradisional. Upaya ini menunjukkan bahwa modernisasi justru bisa menjadi alat untuk melestarikan tradisi jika digunakan dengan bijak.
Pelestarian budaya lokal tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah atau seniman. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai budaya yang diwariskan. Bentuknya bisa sederhana: menggunakan produk lokal, mempelajari bahasa daerah, atau mengenalkan budaya Indonesia melalui media sosial. Hal-hal kecil itu mungkin tampak sepele, tapi jika dilakukan bersama, bisa menjadi langkah besar dalam menjaga identitas bangsa di tengah globalisasi.
Pendidikan juga memegang peran penting. Sekolah dan kampus bisa menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami nilai budaya, bukan hanya lewat teori, tetapi juga praktik nyata. Misalnya, melalui kegiatan seni, proyek budaya, atau kolaborasi antar daerah yang menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan bangsa.
Modernisasi memang tidak bisa dihindari, tetapi kita bisa memilih bagaimana menghadapinya. Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita kehilangan akar budaya sendiri. Tradisi bukan penghalang kemajuan, melainkan penuntun agar kita tidak kehilangan arah. Dengan menjaga budaya memiliki arti yang sama dengan menjaga moral, karakter, dan identitas bangsa.
Kemajuan akan terus berjalan, tetapi budaya adalah kompas yang menjaga arah perjalanan kita. Tanpa budaya, kita hanya menjadi peniru di negeri sendiri. Namun dengan budaya, kita bisa menjadi bangsa yang maju tanpa kehilangan jati diri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































