Surakarta, 5 November 2025 — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir membawa perubahan besar di berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Di tengah kemajuan digital yang pesat, para pelajar kini hidup dalam era di mana mesin bukan hanya sekadar alat bantu, tetapi juga sumber informasi, asisten belajar, bahkan penulis otomatis.
Fenomena ini menciptakan peluang baru dalam proses pembelajaran. Namun di sisi lain, muncul pula kekhawatiran bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat menggerus kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kejujuran akademik di kalangan pelajar.
Transformasi Pola Belajar di Era AI
Kemunculan berbagai platform berbasis AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude telah mengubah cara pelajar memperoleh pengetahuan. Jika sebelumnya siswa harus mencari jawaban melalui buku atau penjelasan guru, kini mereka cukup mengetik pertanyaan di layar dan mendapatkan jawaban lengkap dalam hitungan detik.
AI mampu menyajikan informasi dengan gaya penjelasan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman pengguna. Hal ini membuat proses belajar menjadi lebih interaktif dan personal. Pelajar dapat memanfaatkan teknologi ini untuk memahami materi sulit, melakukan terjemahan teks, hingga menyusun laporan atau presentasi.
“AI membantu saya belajar lebih cepat. Saat menemui pelajaran yang sulit, saya bisa langsung bertanya dan mendapatkan penjelasan yang mudah dipahami,” ujar Rani (17), siswi SMA di Jakarta, kepada Kompas Edukasi.
Dari sisi guru, penggunaan AI juga memberikan manfaat dalam proses pembelajaran. Beberapa sekolah telah memanfaatkan sistem berbasis AI untuk menganalisis kemampuan siswa, menilai hasil belajar, dan memberikan rekomendasi materi tambahan secara otomatis. Inovasi ini dinilai dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, terutama di sekolah-sekolah dengan jumlah siswa yang besar.
Ketergantungan dan Penurunan Kemampuan Analisis
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan serius. Banyak pelajar yang mulai bergantung pada AI bukan sebagai alat bantu belajar, tetapi sebagai “pengganti berpikir.”
Beberapa siswa menggunakan AI untuk menulis esai, mengerjakan tugas, bahkan menyusun skripsi tanpa memahami isi materi. Kondisi ini dikhawatirkan akan menurunkan kemampuan berpikir kritis dan daya analisis.
“AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Jika siswa hanya menyalin jawaban dari AI tanpa memahami konteksnya, mereka tidak belajar apa pun,” ujar Dr. Rudi Prasetyo, pakar pendidikan teknologi dari Universitas Indonesia, saat dihubungi Minggu (9/11).
Menurut Rudi, kebiasaan bergantung pada AI dapat membuat siswa kehilangan rasa ingin tahu dan inisiatif dalam belajar. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar tentang hasil, melainkan tentang proses memahami dan berpikir.
Hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Riset Transformasi Digital Indonesia tahun 2025 mendukung kekhawatiran ini. Dari 1.500 pelajar SMA dan mahasiswa yang menjadi responden, sekitar 64 persen mengaku sering menggunakan AI untuk mengerjakan tugas sekolah. Sementara 37 persen di antaranya mengakui tidak selalu memeriksa ulang kebenaran informasi yang dihasilkan AI.
Survei ini menunjukkan bahwa penggunaan AI yang tidak disertai pemahaman kritis dapat berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran.
Dampak Etika dan Keamanan Data
Selain persoalan akademik, penggunaan AI juga menimbulkan tantangan etika. Salah satu isu yang mencuat adalah plagiarisme digital. Hasil tulisan atau ide yang dihasilkan AI bukanlah karya manusia, namun sering digunakan pelajar seolah-olah hasil pemikiran sendiri.
Beberapa lembaga pendidikan kini mulai memperketat pengawasan dengan menerapkan deteksi AI-generated content untuk memastikan keaslian tugas siswa. Langkah ini diambil guna menjaga integritas akademik di tengah kemajuan teknologi.
Selain itu, isu privasi data juga menjadi perhatian. Saat menggunakan layanan AI, data pengguna—seperti alamat email, lokasi, hingga pola penggunaan—dapat terekam dan disimpan oleh sistem. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa menimbulkan risiko kebocoran data pribadi.
“Pemerintah dan sekolah harus memberikan literasi digital yang memadai. Siswa perlu memahami cara kerja AI, manfaatnya, sekaligus potensi risikonya,” kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sri Wulandari. Menurutnya, pelajar tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus dibekali dengan kesadaran etika dan tanggung jawab.
Mengintegrasikan AI dalam Sistem Pendidikan
Menyadari bahwa AI tidak dapat dihindari, sejumlah sekolah mulai mengadopsi pendekatan baru yang disebut AI-assisted learning. Dalam metode ini, siswa diajarkan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu analisis, bukan sebagai sumber jawaban utama.
Misalnya, siswa diminta menggunakan AI untuk mencari referensi atau ide, kemudian menulis kesimpulan dan analisis berdasarkan pemahaman sendiri. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif di tengah kemajuan teknologi.
Selain di tingkat sekolah, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga tengah menyiapkan kebijakan integrasi AI dalam kurikulum nasional. Program ini bertujuan agar pelajar tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga memahami dasar-dasar logika dan etika dalam penggunaan teknologi.
“Anak muda perlu disiapkan bukan hanya untuk menghadapi teknologi, tetapi juga untuk mengendalikan dan memanfaatkannya. Itulah arah pendidikan di masa depan,” ujar Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, Ahmad Yusuf.
Menyiapkan Generasi Melek AI
AI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia modern. Bagi dunia pendidikan, teknologi ini dapat menjadi peluang besar untuk mempercepat proses belajar dan menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif. Namun, tanpa pengawasan dan pemahaman yang tepat, AI juga bisa menjadi ancaman terhadap nilai-nilai dasar pendidikan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan pemikiran kritis.
“Pelajar masa kini harus menjadi pengguna AI yang cerdas. Mereka perlu tahu kapan harus memanfaatkan teknologi dan kapan harus berpikir sendiri,” tegas Dr. Rudi.
Pada akhirnya, AI bukanlah pengganti guru maupun siswa, melainkan mitra dalam proses belajar. Pelajar yang mampu menggunakan teknologi ini dengan bijak akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan. Namun, mereka yang hanya mengandalkan AI tanpa memahami substansi pengetahuan berisiko kehilangan kemampuan berpikir yang menjadi ciri khas manusia.
Kesimpulan
Penggunaan AI di kalangan pelajar merupakan fenomena yang tak terelakkan di era digital. Teknologi ini menghadirkan manfaat besar bagi dunia pendidikan, mulai dari peningkatan efisiensi belajar hingga akses terhadap sumber informasi tanpa batas.
Namun, dibutuhkan pendekatan yang bijak dan berimbang agar kemajuan teknologi tidak justru menggerus esensi dari proses belajar itu sendiri.
Seperti yang dikatakan Dr. Rudi Prasetyo, “AI adalah alat yang luar biasa. Tapi kecerdasan sejati tetap datang dari manusia yang mau belajar, berpikir, dan berinovasi.”
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































