Humanisme merupakan ideologi yang lahir pada era Renaisans ketika para intelektual Italia mulai belajar lebih dalam terhadap karya-kaya para intelektual Yunani kuno. Pada era ini Humanisme, yang sering dipanggil dengan sebutan Humanisme Renaisans adalah perayaan potensi dan kreativitas manusia dalam pandangan dunia yang sebagian besar bersifat Kristen. Hal ini sangat seraras dengan Renaisans, yang dapat disebut sebagai masa emas Kristen.
Sedangkan pada era Pencerahan, pengertian terhadap Humanisme berubah, hal ini dikarenakan para intelektual pada masa ini berusaha untuk menjauh dari ajaran Kristus, baik Katolik maupun Protestan. Maka mereka mengubahnya lebih ke arah untuk memberontak terhadap ajaran tersebut, terutama, rasionalitas, hak asasi manusia, kesetaraan, dan progres, yang mereka anggap sebagai senjata untuk bebas dari tirani agama.
Meskipun begitu, ketika kita melihat sejarah, di mana ideologi ini diilhami oleh seorang pemerintah, hal yang dia terapkan bukanlah rasionalitas, hak asasi manusia, kesetaraan, dan progres, akan tetapi sebaliknya. Hal ini dapat ditampilkan pada era revolusi di Prancis, dan bagaimana kebutaan mereka terhadap hal tersebut, tidak memberikan mereka pencerahan, akan tetapi hanya melahirkan ribuan penderitaan.
Bagaimana kita dapat mempercayai seorang pemerintah yang berkata bahwa dia lebih menjunjung akal atas iman? Mungkin gagasan yang diberikan cukup membingungkan, akan tetapi jika menerima dengan pandangan Machiavelli, yang di mana menghalakan segala cara, maka akal atas iman akan sangat bahaya. Karena ketakutan terhadap penghakiman Tuhan tidak ada lagi dalam hatinya, maka segala hal yang terjadi di dunia harus memberikan hasil bagus, walaupun dengan jalan yang berdarah; Tujuan menghalalkan cara.
Salah satu contohnya dapat kita lihat pada Pemerintahan Teror, saat Robespiere memerintah Republic of Virtue, yang di mana serangkaian pembantaian dan eksekusi publik terhadap mereka yang dituduh sebagai pengkhianat oleh Komite Keamanan Publik. Apakah ini dapat dilihat sebagai produk akal? Hak asasi Manusia? Mungkin dapat dikatakan sebagai kesetaraan, maka ia hanya ada di antara mayat-mayat politik.
Kemunafikan ini juga terlihat pada keinginan mereka untuk progres, dengan kata lain menjauh dari agama. Namun secara tidak sadar mereka sendiri membentuk agama baru yaitu agama-ateis yang bernama Cult of Reason, yang memiliki rival yaitu Cult of the Supreme Being, yang merupakan agama deis. Bahkan ini dapat di lihat sebagai kontradiksi terhadap salah satu gagasan Humanisme, yaitu akal.
Dikatakan mereka telah melanggar salah satu gagasan mereka, yakni akal dikarenakan segala hal yang di lakukan di era revolusi Prancis sebelum Napoleon menjadi Emperor adalah perilaku masyarakat umum yang telah kehilangan akal mereka. Tidak ada yang merasa aman di dalam republik baru tersebut, semuanya menjadi musuh antara satu sama lain, yang menyebabkan teori Hobbes mengenai Leviathan menjadi benar, yang di mana tidak adanya pemerintahan utama membuat manusia kembali ke asal hewaninya.
Jean-Jacques Rousseau, salah satu tokoh filsafat yang melahirkan ide bahwa setiap manusia lahir dengan hak dan harus bersatu untuk membebaskan sesama dari genggaman tirani agama yang tidak mengenal kata hak, juga tidak lepas dari dosa kemunafikan ini. Hak seorang anak adalah untuk orang tuanya merawat dan mengasihi mereka, yang tidak pernah dia berikan kepada kelima anaknya, yang mati dia tinggalkan di rumah anak yatim. Fakta sejarah ini meninggalkan jejak kemunafikan dalam kehidupan pribadi sang Humanis.
Di Indonesia, tepatnya pada era Hindia Belanda juga di tampilkan kemunafikan tersebut. Tentunya semua rakyat Indonesia mengenal peristiwa Tanam Paksa, yang di mana sangat di cekam oleh kaum liberal dan humanis. Akan tetapi untuk menggantikannya mereka membuat UU agraria. Pergantian UU ini tidak membantu rakyat pribumi, malahan dapat dikatakan lebih memberikan penderitaan kepada mereka.
Saat era Tanam Paksa hanya pemerintah Hindia dan para bupati yang menaruh penderitaan kepada rakyat. Akan tetapi setelah UU agraria, para kaum swasta yang memiliki uang untuk menanam modal menjadi algojo. Para rakyat pribumi sekarang tidak hanya di eksploitasi oleh kaum konservatif, akan tetapi para kaum swasta yang hanya melihat hasil keuntungan daripada berpikir terhadap penderitaan yang terjadi dalam prosesnya.
Perjalanan Humanisme dari Renaisans hingga Pencerahan menunjukkan bahwa ketika akal dilepaskan dari iman, kemanusiaan justru kehilangan arah. Ide yang awalnya dimaksudkan untuk mengangkat martabat manusia berubah menjadi alat penindasan, seperti terlihat pada masa Teror Revolusi Prancis dan kebijakan agraria di Hindia Belanda.
Humanisme tanpa dasar moral dan spiritual melahirkan kesombongan serta kekerasan atas nama rasionalitas dan kemajuan. Karena itu, akal dan iman seharusnya berjalan beriringan, akal memberi manusia kemampuan berpikir, sementara iman menuntun agar kemampuan itu tidak digunakan untuk menghancurkan. Kritik terhadap Humanisme modern bukanlah penolakan terhadap kemanusiaan, melainkan ajakan untuk mengembalikan keseimbangannya: agar akal tetap memiliki jiwa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































