Sejak pertama kali diturunkan, Al-Qur’an telah menjadi satu-satunya kitab suci yang menantang logika manusia. Ia tidak hanya dibaca sebagai teks suci, tetapi juga sebagai karya bahasa yang menaklukkan hati dan akal. Tantangan Al-Qur’an kepada manusia untuk “mendatangkan satu surat yang semisal dengannya” tidak pernah terpenuhi hingga kini. Padahal, sejarah mencatat banyak penyair dan ahli bahasa Arab yang mencoba menandinginya, namun semua berakhir dengan pengakuan akan keunggulannya. Apa sebenarnya yang membuat Al-Qur’an tidak tertandingi? Apakah karena keindahan bahasanya, atau kedalaman maknanya, atau bisa saja karena Al-Qur’an berbicara dari sumber yang melampaui nalar manusia?
Banyak kitab suci yang bisa dibaca, dikaji, bahkan dihafal. Namun tidak ada teks yang menandingi Al-Qur’an dalam kekuatan bahasa dan daya pengaruhnya. Ia hadir dalam struktur bahasa Arab yang tampak sederhana, tapi justru di situlah letak keajaibannya, antara keindahan lafaz, keseimbangan irama dan juga kedalaman makna yang menggugah hati. Setiap ayat memiliki ritme dan logika yang membuatnya hidup diluar batas manusia. Para ahli bahasa Arab klasik pun mengakui, tidak ada karya sastra, puisi, atau pidato yang mampu menandingi keseimbangan itu.
Keunikan Al-Qur’an tidak hanya pada susunan katanya, tetapi juga pada pesannya yang lintas zaman. Ayat-ayatnya berbicara dengan cara yang sama relevan di abad ke-7 maupun di abad ke-21. Ia bisa menjadi bahan renungan bagi seorang filsuf, panduan moral bagi pemimpin, atau sumber ketenangan hati bagi mereka yang gelisah. Inilah dimensi mukjizat yang membuat Al-Qur’an tidak sekadar teks, tetapi kalam yang hidup dan berdialog dengan setiap jiwa yang membacanya.
Keajaiban itu terasa lebih kuat bila kita menelusuri konteks sejarahnya. Ketika wahyu pertama turun, masyarakat Arab dikenal memiliki kemampuan berbahasa dan bersyair yang luar biasa. Puisi adalah kebanggaan, bahkan simbol kehormatan kabilah. Namun, kehadiran Al-Qur’an membuat seluruh keindahan itu terasa redup. Susunan katanya bukan syair, bukan pula prosa, tetapi sesuatu yang di luar kategori bahasa manusia.
Penyair-penyair Arab legendaris seperti Labid bin Rabi‘ah saja pernah mengakui, tidak ada satupun kata yang bisa menandingi kekuatan ungkapan Al-Qur’an. Seorang ulama besar dari kalangan Asy‘ariyah, Syekh al-Baqillani, bahkan pernah meneliti struktur bahasanya dan membandingkannya dengan puisi, pidato, dan karya para sastrawan besar pada zamannya termasuk dengan pidato Rasulullah SAW sendiri. Hasilnya mencengangkan: tidak ada gaya bahasa yang mampu menyamai keindahan, keutuhan, dan daya pukau Al-Qur’an. Dari situlah al-Baqillani menegaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an justru terletak pada bahasanya yang tidak mungkin ditiru manusia.
Sebagian teolog mencoba menjelaskan fenomena itu secara rasional. Kaum Mu‘tazilah, misalnya, berpendapat bahwa mukjizat Al-Qur’an bukan terletak pada teksnya, melainkan pada kehendak Allah yang mencegah manusia menandinginya sebuah konsep yang dikenal sebagai Sarfah. Mereka berusaha menempatkan mukjizat dalam kerangka logika bahwa manusia sebenarnya mampu membuat yang serupa, tetapi kemampuan itu “ditahan” oleh kehendak Ilahi.
Meski pandangan ini memperlihatkan upaya rasionalisasi iman, banyak ulama seperti Abdul Qodir Al-Jurjani, Yusuf Al-Qordhowi dan Al-Jahiz yang merupakan murid dari Nazzam yaitu salah satu tokoh yang mempopulerkan paham as-sarfah menilai bahwa keunggulan Al-Qur’an justru melekat pada dirinya sendiri yaitu pada keutuhan bahasanya, keselarasan maknanya, dan kemampuannya menggerakkan akal sekaligus perasaan.
Dalam perspektif ini, i‘jāz al-Qur’an bukanlah keajaiban yang pasif, tetapi aktif dan dinamis. Ia menantang manusia untuk berpikir dan merenung. Mukjizatnya tidak berhenti pada bentuk atau bunyi, melainkan pada daya hidupnya yang terus menginspirasi peradaban. Tidak sedikit ilmuwan, sastrawan, dan pemikir menemukan inspirasi dari Al-Qur’an baik dalam ilmu pengetahuan, etika, maupun estetika. Setiap kali dibaca, ayat-ayatnya selalu membuka makna baru, seakan menyesuaikan diri dengan kondisi zaman tanpa kehilangan keaslian pesannya.
Keistimewaan ini menunjukkan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an mencakup tiga dimensi yaitu bahasa, makna, dan pengaruh spiritual. Dari sisi bahasa, ia menampilkan struktur yang padat, indah, dan bermakna dalam setiap kata. Dari sisi makna, ia menyuguhkan kedalaman refleksi yang melampaui konteks historis. Dan dari sisi spiritual, ia mampu menembus hati manusia, bahkan mereka yang tidak memahami bahasa Arab sekalipun dapat merasakan getarannya.
Di tengah derasnya arus wacana dan karya manusia modern dari puisi, filsafat, hingga teknologi Al-Qur’an tetap berdiri kokoh sebagai teks yang tak pernah kehilangan daya hidupnya. Mukjizatnya tidak menua bersama waktu namun justru semakin tampak ketika manusia berusaha memahami maknanya dengan ilmu, logika, dan hati sekaligus. Ia tidak berhenti menjadi bacaan, tetapi terus menjadi sumber nilai, arah moral, dan panduan eksistensial bagi manusia modern yang sering kehilangan makna di tengah kemajuan.
Keunggulan Al-Qur’an bukan hanya karena ia tidak bisa ditiru, melainkan karena ia terus menantang manusia untuk berpikir, beriman, dan berbuat. Setiap kali kita membacanya, selalu ada makna baru yang terbuka seakan-akan ia hidup, berinteraksi dengan zaman, dan berbicara sesuai kebutuhan hati manusia.
Maka, ketidakmampuan manusia menandingi Al-Qur’an bukanlah bentuk kelemahan, melainkan pengakuan. Pengakuan bahwa ada sesuatu yang melampaui batas bahasa dan nalar sebuah kalam yang menjadi jembatan antara langit dan bumi dan disitulah letak keajaiban sejatinya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































