Sekolah adalah tempat melakukan proses pembelajaran atau tempat untuk menuntut ilmu. Sekolah merupakan Lembaga Pendidikan resmi, yang ditugaskan untuk meningkatkan standar Pendidikan bagi siswa. Didalam lingkungan sekolah kita juga diharuskan untuk berteman dan menjalani kehidupan sosial. Sering kali siswa mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari beberapa siswa lain. Perundungan (bullying) seringkali terjadi dilingkungan sekolah biasanya siswa menjadi korban perundungan (bullying) dari siswa lain.
Pengertian perundungan (bullying) ini menekankan bahwa perilaku tersebut melibatkan tindakan agresif yang disengaja, berulang kali dilakukan, dan terjadi dalam hubungan interpersonal yang ditandai dengan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban CITATION Cha24 \l 1033 (Pradana, 2024). Menurut definisi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perundungan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban, serta niat untuk menyakiti. Dalam dunia Pendidikan perundungan (bullying) bukanlah sekedar konflik antar siswa tetapi ancaman yang serius didalam dunia Pendidikan. Siswa atau korban seringkali mendapat kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis yang berulang dari teman atau pelaku perundungan. Maka dari itu saya akan membahas penyebab perundungan (bullying) dampak perundungan, setrategi penanganan perundungan (bullying) dan contoh kasua yang terjadi.
1. Penyebab perundungan (bullying) di sekolah
Penyebab dari perundungan atau bullying tebagi menjadi beberapa faktor yaitu:
A. Faktor Indifidu Atau Kepribadian Siswa
Faktor dari kepribadian siswa dapat mempengaruhi apkah siswa melakukan bullying atau tidak CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024). Penelitian yang dilakukan oleh CITATION End15 \l 1033 (Endang Susilawati, 2015) menegaskan bahwa faktor dari kepribadian yang buruk adalah faktor utama dari bullying. Contohya, jika seseorang bersifat mudah marah, agresif, sombong, atau memicu konflik maka muking merekalah yang cenderung menjadi seorang pembully CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024).

B. Faktor Teman Sebaya
Teman disekitar siswa juga berpengaruh besar terhadap bullying CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024). Jika siswa cenderung memiliki perilaku agresif hal ini didapat dari meniru teman sebaya, seperti mengejek dengan kata-kata kasar atau memanggil dengan nama orang tua hal ini juga dibuktikan dengan adanya kelompok atau geng di lingkungan sekolah CITATION
Nov19 \l 1033 (Deharnita, 2019) CITATION Ros21 \l 1033 (Rosmin Ilham, 2021). Maka dari itu jika seseorang berteman dengan siswa yang suka melakukan bullying maka siswa tersebuat akan berpotensi menjadi seorang pembully CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024).
C. Faktor Lingkungan Sekolah
Lingkungan di sekolah juga menjadi fartor bullying CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024). Namun sekolah juga memiliki peraturan mengenai bullying, guru dan staf juga di diharuskan mengawasi siswa dengan baik, sekolah yang menerapkan hal ini memiliki Tingkat bullying yang randah CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024). Suasana disekolah juga memiliki pengaruh terhadap bullying CITATION End15 \l 1033 (Endang Susilawati, 2015). Suasana sekolah yang buruk ditandai dengan interaksi yang tikdak konsisten, serta adanya hukuman yang kurang tepat dapat mempercepat adanya perilaku intimidasi CITATION
Din24 \l 1033 (Dina Rasmita, 2024).
D. Faktor Keluarga
Faktor ini dipengaruhi jika hubungan keluarga tidaklah harmonis dan positif, dengan dukungakn dan perhatian dari keluarga maka anak siswa akan tumbuh dengan baik dan tidan kenjadi pelaku bullying CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024). Tidak hanya itu masalah ekonomi yang dialami keluarga juga dapat berpengaruh yang menyebabkan bullying CITATION
MMa20 \l 1033 (M. Mabrur Haslan, 2020). Pola asuh yang menekankan hukuman berlebih dan kurang mendengarkan, hal ini sering dikaitkan dengan perilaku bullying karena anak dapat membrontak dan dapat meniru perilaku yang dilihat dari orang tua CITATION Din24 \l 1033 (Dina Rasmita, 2024).

2. Dampak Bullying
Dampak yang akan terjadi jika siswa menjadi pelaku maupun korban bullying akan mencakup beberapa aspek seperti aspek sosial, psikologis dan aspek fisik yang mungkin terjadi. Berikut adalah dampak ynag terjadi kepada korban dan pelaku perundungan atau bullying:
A. Dampak pada korban perundungan atau bullying
Pada aspek psikologis korban biasanya akan ketakutan, stress dan juga dapat mengalami gejala PTSD. Korban yang sering mengalami bullying akan menjadi takut kepada lingkungannya dan takut akan intimidasi dan ancaman dari pelaku bullying. Bahkan beberapa korban yang mengalami perundungan atau bullying yang parah memiliki respon untuk melakukan Tindakan bunuh diri yang tinggi. Aspek fisik pada korban yang biasanya muncul seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, hal ini di dapat dari aspek psikologis stress dan gangguan kecemasan hal ini mengakibatkan menurunya daya tahan tubuh. Dan insomnia juga dapat menjadi salah satu aspek dari dampak bullying. Hal lain seperti aspek sosial juga di dapat dari perilaku bullying, aspek sosial yang dimaksud seperi semangat sekolah yang menurun, siswa yang mengisolasi diri sendiri, lemahnya motivasi untuk memperbaiki diri CITATION
Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024).
B. Dampak pada pelaku perundungan atau bullying
Pada aspek psikologis pelaku bullying memiliki perasaan bersalah, penyesalan dan pada jangka panjang biasanya terjadi masalah pada psikologis siswa. Dan aspek sosial pelaku mendapat sangsi sosial, rendahnya harga didri, dan pelaku kesulitan untuk Kembali berinteraksi sosial CITATION Riz24 \l 1033 (Rizka Febrianti, 2024).
3. Setrategi Penanganan
Setrategi yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani bullying CITATION Yud23 \l 1033 (Yuda Syahfitra, 2023):
Pertama pendekatan dan mencarai faktor penyebab bullying. Setrategi awal yang paling penting adalah mencari faktor dan penyebab bullying. Hal ini dilakukan karena penanganan harus sesuai dengan faktor dan penyebab dari bullying agar dapat melakukan penanganan secara tepat. Dan penyebab yang menjadikan siswa melakukan bullying juga harus diatasi dengan benar. Serta guru harus bisa melakukan pendekatan dengan baik karena siswa masih masih terus berkembang jangan sampai perbaikan yang dilakukan menimbulkan sesuatu yang tidak semestinya. Kedua memberikan Edukasi Tentang Bahaya Bullying
Guru memberikan edukasi tentang bahaya dan dampak negatif dari bullying. Edukasi ini bertujuan untuk membentuk sifat siswa, memperluas wawasan siswa dan membantu siswa membedakan hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Hal ini juga bertujuan supaya siswa dapat mengkontrol diri dan berfikir positif.
Yang ketiga memberi Nasehat, Pemberian nasehat kepada siswa dilakukan secara rutin, tidak hanya saat ada kasus bullying hal ini dilakukan untuk pencegahan dan penguatan karakter. Hal ini berfokus pada pentingnya menghargai dan menjaga kerukunan dan tidak saling menyakiti sesame siswa. Nasehat ini dilakukan dengan menekankan nilai-nilai kebaikan agar siswa dapat meninggalkan sikap bullying. Yang keempat memberikan program keagamaan, setrategi ini berfokus pada pengetahuan pondasi agama siswa melalui ibadah rutin. Pembiasaan ini diyakini akan menumbuhkan kekuatan hati, sehingga siswa akan merasa enggan melakukan tindakan bullying dan agar siswa menjaga lisan serta tindakan mereka. Dan yang terakhir memberikan teladan yang baik, guru harus memberikan contoh yang baik bagi siswa. Dengan melihat guru yang berakhlak baik siswa menjadi termotifasi untuk menaati peraturan, bersikap baik, dan secara alami menjauhi perilaku bullying karena menganggap sebagai kebiasaan buruk.
Adapun setrategi penanganan dan pencegahan bullying berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh CITATION Gen24 \l 1033 (Genta Aulia Putri Bagaskara, 2024):
SMA IT Mentari Ilmu Karawang menerapkan setrategi pencegahan bullying yang komprehensif dan melibatkan seluruh elemen sekolah menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. Penetapan kebijakan anti bullying yang tegas dan jelas mengenai segala bentuk dan tindakan bullying. Sekolah juga memberikan edukasi melalui seminar dan workshop. Guru dan staf juga mengambil peran aktif dalam memantau kegiatan siswa. sekolah juga melibatkan orang tua dan Masyarakat dalam kampanye anti bullying. Untuk mengetahui efektivitas sekolah melakukan survey berkala dan menyediakan saluran yang aman dan bersifat rahasia.
4. Contoh Kasus Bullying
A. Di lansir dari ABC News, Salah satu kasus perundungan Amanda Todd, seorang siswi Kanada berusia 15 tahun yang meninggal dunia pada 2012 akibat bunuh diri setelah mengalami cyberbullying berat. Amanda Todd menjadi korban pemerasan seksual melalui media sosial, di mana foto pribadinya disebarkan oleh pelaku. Kasus ini viral melalui video YouTube yang dia buat sebelum kematiannya, yang telah ditonton lebih dari 20 juta kali, menyoroti bagaimana cyberbullying dapat menyebabkan isolasi sosial dan trauma mendalam. Kasus ini memicu gerakan global untuk melawan cyberbullying, termasuk kampanye di Kanada dan internasional.
B. Dilansir dari BBC NEWS Indonesia, Perundungan terhadap siswa di sekolah menengah di Indonesia, seperti yang terjadi pada siswi bernama Nadia di Jakarta pada 2023. Nadia menjadi korban perundungan fisik dan verbal dari teman sekelasnya, yang direkam dan disebarkan di TikTok. Video tersebut viral dengan jutaan penonton, memicu diskusi tentang kurangnya pengawasan di sekolah Indonesia. Kasus ini menunjukkan bagaimana media sosial memperburuk perundungan, karena rekaman dapat menyebar cepat dan memperpanjang trauma korban.
C. Dilansir dari artikel detiknews, “Siswa Garut Diduga Tewas Bunuh Diri Usai Di-bully, Pemkab Buka Suara” Salah satu kasus perundungan , seorang siswa di garut berusia 16 tahun yang meninggal dunia pada 14 juli 2025 dengan kondisi yang tidak wajar setelah mengalami perundungan. Kematian korban diduga dipicu oleh tekanan bullying di sekolah.
D. Dilansir dari CNN Indonesia, siswa Banyuwangi meningeal bunuh diri akibat sering diolok karena anak yatim. MR berusia 11 tahun, seorang siswa SD di Banyuwangi. Korban dikabarkan sering mengeluh dan menangis setiap pulang dari sekolah korban ditemukan bunuh diri pada 27 februari 2023.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, Bullying di sekolah merupakan masalah serius yang melibatkan tindakan agresif berulang dengan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban, dipicu oleh faktor individu seperti kepribadian agresif, pengaruh teman sebaya dan kelompok, lingkungan sekolah yang kurang pengawasan, serta keluarga yang tidak harmonis, yang dapat menimbulkan dampak psikologis, fisik, dan sosial seperti stres, isolasi, hingga bunuh diri pada korban, serta penyesalan dan stigma sosial pada pelaku, sebagaimana terlihat dalam kasus-kasus nyata seperti Amanda Todd, Nadia di Jakarta, siswa Garut, dan MR di Banyuwangi, oleh karena itu, diperlukan strategi pencegahan dan penanganan komprehensif melalui pendekatan faktor penyebab, edukasi bahaya bullying, nasehat rutin, program keagamaan, teladan guru, serta kebijakan sekolah yang melibatkan semua pihak termasuk orang tua dan masyarakat, dengan pemantauan berkala dan saluran pelaporan rahasia, untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung pengembangan karakter positif siswa.
Daftar Pustaka
BIBLIOGRAPHY Deharnita, N. H. (2019). Gambaran Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Perilaku Bullying pada Anak: Overview of Factors Causing the Occurrence of Bullying Behavior in Children. NERS Jurnal keperawatan, 60-66.
Dina Rasmita, Y. P. (2024). Studi Literatur Faktor-Faktor Terjadinya Perilaku Perundungan Pada Remaja di Indonesia. Journal Of Social Science Research , 3-14.
Endang Susilawati, S. Z. (2015). FACTORS INFLUENCE THE BEHAVIOR OF BULLYING AT THE STUDENTS OF SMK PGRI 8 MEDAN IN 2015 . Jurusan Keperawatan Kemenkes Medan , 1- 6.
Genta Aulia Putri Bagaskara, S. S. (2024). Strategi Penanganan dan Pencegahan Bullying di SMA IT Mentari ilmu karawang. Indonesia research Journal On Education, 2-6.
M. Mabrur Haslan, D. Y. (2020). ERILAKU PERUNDUNGAN (PERILAKU PERUNDUNGAN (BULLYING) DAN DAMPAKNYABAGI ANAK USIA SEKOLAH(Studi Kasus Pada Siswa SMP Negeri Se-Kecamatan Kediri Lombok Barat). jurnal pendidikan sosial keberagaman , 5-14.
Pradana, C. D. (2024). Pengertian Tindakan Bullying, Penyebab, Efek, Pencegahan dan Solusi . jurnal syntax admiration, 4.
Rizka Febrianti, Y. D. (2024). BANTENDinamika Bullying DiSekolah: Faktor dan Dampak. INDONESIAN JOURNAL OF EDUCATIONAL COUNSELING, 7-9.
Rosmin Ilham, R. D. (2021). Kejadian Bullyng Pada Remaja dan Faktor yang Berhubungan. jambura nursing jurnal, 1-9.
Yuda Syahfitra, S. A. (2023). Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Masalah Bullying . Rayah Al-Islam, 7-14.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































