Bayangkan sebuah produk baru diluncurkan. Brosurnya mewah, janjinya selangit: “Bergabunglah dengan kami, dapatkan pengalaman, relasi, dan masa depan!” Ribuan “calon konsumen”—kita sebut saja Generasi Z—tertarik dan mendaftar.
Tapi apa yang terjadi setelah mereka “membeli” produk itu (baca: bergabung dengan organisasi)?
Mereka menemukan “aplikasi” yang penuh bug. User interface-nya membingungkan. Tombol-tombol menu (struktur organisasi) tidak jelas fungsinya. Tidak ada tutorial (arahan) yang jelas. Mereka mencoba bertanya pada “Customer Service” (senior atau pengurus), tapi jawabannya lambat atau bahkan tidak ada.
Lebih buruk lagi, “CEO” produk ini (Ketua Organisasi) seolah tidak peduli. Ia tidak terlihat di forum, tidak merespons feedback, dan tidak memberikan update visi produk. Ia ada, tapi seperti bot—hanya nama di struktur.
Apa yang Anda lakukan jika Anda mengunduh aplikasi seperti ini? Anda akan frustrasi. Anda akan menekan satu tombol: Uninstall.
Selamat datang di realitas organisasi di era Gen Z.
Kita terlalu lama melihat organisasi sebagai kawah candradimuka, tempat suci untuk “berproses” dan “mengabdi”. Narasi lama ini—bahwa junior harus patuh, berkorban waktu, dan loyal tanpa syarat—sudah tidak laku.
Mengapa? Karena Gen Z bukanlah “anggota” dalam artian tradisional. Mereka adalah “konsumen” atau “pengguna” di pasar pengalaman. Waktu mereka adalah mata uang. Perhatian mereka adalah komoditas yang diperebutkan.
Di pasar ini, organisasi Anda yang “mati suri” itu sedang bersaing langsung dengan Netflix, game online, dan ajakan ngopi di kafe estetik.
Ketika sebuah organisasi dengan kepemimpinan yang lemah dan struktur yang amburadul meminta Gen Z untuk hadir rapat di Sabtu malam, organisasi itu sebenarnya sedang berkata: “Tolong tinggalkan pengalaman menyenangkan yang pasti (euforia bersama teman) untuk sesuatu yang tidak jelas, membosankan, dan tidak terorganisir (rapat).”
Tentu saja mereka menolak. Ini bukan soal mereka pemalas atau anti-sosial. Ini adalah pilihan konsumen yang cerdas.
“Euforia” yang mereka dapatkan saat bermain bersama teman, atau “healing” di alam, adalah sebuah value proposition (nilai jual) yang jelas dan instan. Mereka membayar dengan waktu mereka, dan mereka langsung mendapatkan imbalan: kebahagiaan, koneksi emosional yang erat, dan konten untuk media sosial.
Sekarang, apa value proposition yang ditawarkan oleh organisasi Anda?
Jika seorang anggota bertanya, “Apa yang saya dapatkan jika saya aktif di sini?” dan jawabannya adalah “Nanti kamu akan merasakan manfaatnya 5 tahun lagi,” maka organisasi itu telah kalah.
Gen Z terbiasa dengan efisiensi. Jika mereka bisa belajar public speaking dari YouTube dalam 10 menit, mengapa mereka harus ikut rapat koordinasi yang berlangsung 3 jam hanya untuk membahas hal yang sama berulang-ulang?
Keanggotaan yang pasif bukanlah sebuah penyakit; itu adalah gejala churn rate yang tinggi. “Churn rate” adalah istilah bisnis untuk pelanggan yang berhenti menggunakan layanan Anda. Anggota Anda tidak “pasif”, mereka telah “berhenti” secara mental. Mereka hanya belum menghapus nama mereka dari grup WhatsApp.
Organisasi modern tidak bisa lagi dijalankan dengan mentalitas “senioritas” atau “warisan”. Ia harus dijalankan seperti startup yang gesit.
Ketua organisasi harus berperan sebagai Product Manager yang obsesif: Apa yang diinginkan user kami? Bagaimana kami membuat pengalaman ini lebih baik? Apa bug (masalah struktural) yang harus segera kami perbaiki?
Jika organisasi tidak bisa memberikan experience yang sepadan, jangan salahkan Gen Z jika mereka lebih memilih “main”. Mereka tidak meninggalkan organisasi; mereka hanya memilih produk lain yang menawarkan euforia yang lebih baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































