Memasuki semester tujuh, mahasiswa menghadapi fase kritis yang kerap disebut sebagai “masa-masa paling berat” dalam perjalanan akademik mereka. Di tengah tekanan menyelesaikan skripsi, mencari peluang kerja, dan berbagai tuntutan lainnya, kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir menjadi perhatian serius kalangan pendidikan. Menurut hasil observasi di beberapa kampus di Aceh, mahasiswa semester tujuh menunjukkan gejala stres yang signifikan karena harus menyelesaikan tugas akhir, menghadiri bimbingan berkala, sambil mempersiapkan diri memasuki dunia kerja yang penuh kompetisi.
“Tekanan datang dari berbagai arah. Dosen menuntut progress skripsi, orang tua bertanya kapan lulus, teman-teman sudah ada yang bekerja. Rasanya seperti berlomba dengan waktu,” ungkap Riska (23), mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Langsa. Penelitian menunjukkan bahwa academic burnout cenderung lebih tinggi pada mahasiswa semester 7 dibandingkan semester lainnya. Data menunjukkan bahwa 73,3% mahasiswa mengalami academic burnout pada kategori sedang, dengan 14,3% berada di kategori tinggi.
Beberapa faktor berkontribusi terhadap kondisi mental mahasiswa semester tujuh. Pertama, deadline skripsi yang ketat membuat mereka bekerja dalam tekanan tinggi dengan tingkat kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stres berkelanjutan. Kedua, ketidakpastian masa depan pasca kelulusan menimbulkan kecemasan berlebih dan penurunan minat dalam belajar. Ketiga, isolasi sosial akibat fokus pada penulisan tugas akhir mengurangi dukungan emosional dari lingkungan. Gejala yang muncul meliputi kelelahan, lari dari kenyataan, kebosanan dan sinisme, emosional, merasa tidak dihargai, hingga curiga terhadap lingkungan sekitar.
Kondisi burnout yang tidak teratasi berdampak langsung pada produktivitas akademik. Banyak mahasiswa mengalami writer’s block, kehilangan motivasi untuk mencapai impian, kesulitan fokus, dan penurunan performa kuliah. Pola tidur yang tidak teratur, nafsu makan menurun, dan gejala depresi ringan hingga sedang kerap muncul pada mahasiswa tingkat akhir. Hubungan sosial juga terdampak akibat merasa terlalu lelah untuk berinteraksi dengan lingkungan. Mahasiswa dengan sindrom academic burnout menunjukkan penurunan minat dan motivasi dalam belajar, serta meningkatnya emosi negatif seperti kecemasan, depresi, kelelahan dan frustasi.
Pihak kampus mulai menyadari urgensi masalah ini. Beberapa perguruan tinggi telah mengaktifkan layanan konseling dan membentuk support group untuk mahasiswa tingkat akhir sebagai bentuk dukungan sosial yang berpengaruh terhadap academic burnout. Program peer counseling dan workshop manajemen stres juga diselenggarakan sebagai upaya preventif. Para ahli menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa.
Strategi yang dapat digunakan mahasiswa untuk mengatasi burnout meliputi pengelolaan prioritas, motivasi diri, serta manajemen waktu yang efektif. Menurut penelitian, semakin tinggi self-efficacy maka burnout pada mahasiswa rendah, begitu pun sebaliknya. Pengelolaan stres, apresiasi diri sendiri, dan dukungan sosial akan sangat membantu mahasiswa dalam mengatasi beban emosional akibat burnout. Universitas perlu menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, dosen pembimbing harus lebih empati terhadap kondisi mahasiswa, dan keluarga perlu memberikan dukungan tanpa tekanan berlebih untuk mengurangi risiko burnout pada mahasiswa tingkat akhir.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































