Banyak mahasiswa yang masih beranggapan bahwa organisasi kemahasiswaan (ormawa) hanyalah wadah untuk mengisi waktu luang atau sekadar menggugurkan kewajiban poin keaktifan. Padahal, jika dikelola dengan strategi yang tepat, ormawa adalah inkubator paling efektif untuk membangun personal branding sebelum terjun ke dunia profesional. Personal branding bukan sekadar tentang pencitraan, melainkan tentang bagaimana memproyeksikan nilai, keterampilan, dan integritas diri kepada orang lain.
Organisasi sebagai Laboratorium Kompetensi
Langkah pertama dalam membentuk branding adalah memiliki “produk” yang berkualitas, yaitu kompetensi diri. Tom Peters, yang mempopulerkan istilah ini dalam artikelnya di majalah Fast Company berjudul “The Brand Called You”, menyebutkan bahwa kita adalah CEO dari perusahaan kita sendiri (Me Inc.). Dalam konteks mahasiswa, organisasi adalah pasar tempat menguji produk tersebut.
Ketika aktif berorganisasi, tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan soft skills seperti kepemimpinan, manajemen waktu, dan negosiasi. Menurut survei dari National Association of Colleges and Employers (NACE), atribut yang paling dicari pemberi kerja bukanlah sekadar IPK tinggi, melainkan kemampuan bekerja dalam tim dan komunikasi verbal. Dengan mengambil peran strategis di organisasi misalnya sebagai ketua pelaksana atau koordinator divisi sedang membangun narasi bahwa adalah seorang problem solver dan pemimpin yang andal. Narasi inilah inti dari brand.
Membangun Reputasi Melalui Jejaring
Personal branding sangat erat kaitannya dengan reputasi. Di dalam organisasi, reputasi dibangun berdasarkan konsistensi kinerja. Apakah orang yang tepat waktu? Apakah ide-ide solutif? Rekan sesama anggota organisasi adalah saksi mata dari etos kerja.
Melansir dari artikel di Forbes mengenai strategi karier, disebutkan bahwa networking yang autentik adalah kunci dari visibilitas karier. Teman organisasi hari ini adalah kolega, mitra bisnis, atau bahkan atasan di masa depan. Dengan menunjukkan dedikasi yang tinggi di organisasi, secara tidak langsung sedang menanam investasi jangka panjang. Mereka yang mengenal kinerja akan menjadi “promotor” alami yang akan merekomendasikan ketika peluang profesional terbuka.
Visibilitas dan Jejak Digital
Terakhir, personal branding di era modern menuntut integrasi antara aktivitas nyata dan dunia digital. Pengalaman yang dapatkan di organisasi—seperti keberhasilan menggelar seminar nasional atau keberhasilan melakukan penggalangan dana sosial—harus didokumentasikan dengan baik.
Ini sejalan dengan pandangan Harvard Business Review yang menekankan pentingnya “naratif karier”. Mahasiswa disarankan untuk menuangkan pengalaman organisasi mereka ke dalam platform profesional seperti LinkedIn. Bukan sekadar menyalin daftar tugas (job description), tetapi menceritakan dampak apa yang telah berikan bagi organisasi tersebut.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































