Siklus Banjir di Samarinda yang Tidak Berakhir, Ini Bencana atau Lalai?
Banjir merupakan bencana alam yang sering melanda berbagai daerah di Indonesia, terutama saat musim hujan tiba. Di Kota Samarinda, banjir bukan lagi kejadian langka hampir setiap musim hujan, beberapa kawasan tergenang air, mengganggu kehidupan masyarakat. Sebagai mahasiswa Pendidikan Pancasila, saya berpendapat bahwa banjir di Samarinda bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan juga hasil dari kurangnya kepedulian manusia terhadap lingkungan dan pengelolaan kota yang buruk. Penumpukan sampah di sungai dan saluran air menjadi faktor utama penyumbatan aliran, sehingga air meluap ke permukiman warga.
Penyebab utama banjir di Samarinda melibatkan kombinasi faktor alam dan manusia. Curah hujan yang tinggi memang memicu genangan, tetapi ulah masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke sungai dan parit memperburuk situasi. Pengelolaan lingkungan yang tidak tepat, perencanaan kota yang kurang mempertimbangkan risiko banjir, serta kesadaran warga yang rendah dalam menjaga kebersihan sekitar turut berkontribusi. Di daerah hulu, deforestasi dan erosi tanah akibat pembangunan liar mempercepat pengendapan sungai, sehingga kapasitas aliran air berkurang. Tanpa intervensi serius, siklus ini akan terus berlanjut, menjadikan banjir sebagai masalah kronis yang mencerminkan kegagalan manusia dalam mengelola Samarinda kembali menampilkan kondisi yang serupa setiap kali musim hujan tiba jalan-jalan dan area pemukiman terendam air, perekonomian lokal terganggu, dan banyak warga terkena dampaknya. Data menunjukkan bahwa pada awal 2025, puluhan hingga ribuan keluarga terpengaruh, dengan laporan BPBD setempat mencatat 952 kepala keluarga atau 2. 980 orang terdampak, sementara laporan lainnya menyebutkan 1. 235 keluarga atau 4. 414 individu pada saat kejadian tertentu.
Penyebabnya beragam dan saling terkait. Dari sisi meteorologi, BMKG mencatat adanya hujan yang sangat deras dengan intensitas lebih dari 100 mm per hari, yang menambah volume air dan menyebabkan luapan. Namun, hujan yang ekstrem hanya memperburuk masalah, sementara akar dari persoalan ini adalah kelemahan dalam sistem perkotaan, termasuk penyempitan saluran sungai, penumpukan sedimen, tata ruang yang memungkinkan pembangunan di area rawan, serta sistem drainase yang tidak memadai. Tanpa perbaikan pada struktur-struktur ini, setiap hujan deras akan terus berujung pada bencana. Secara ekonomi, kerugian besar timbul dari kerusakan rumah, kendaraan, dan infrastruktur, yang membebani warga dan pemerintah. Dari segi kesehatan, genangan air menjadi sarang penyakit seperti demam berdarah dan infeksi kulit, meningkatkan risiko epidemi. Lebih dari itu, banjir memperlebar ketimpangan sosial, karena kelompok miskin yang tinggal di daerah rawan banjir paling terdampak, sementara mereka yang mampu lebih mudah pulih.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah setempat harus menerapkan solusi jangka panjang dengan lebih serius. Langkah pertama adalah membersihkan sungai secara rutin dan membangun infrastruktur pengendali banjir, seperti bendungan dan saluran air yang lebih efektif. Aturan ketat terhadap pembangunan di daerah rawan banjir juga diperlukan untuk mencegah pengembangan liar. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan itu sampah dan perlindungan hutan di daerah hulu sangat penting, agar erosi dan pengendapan tanah dapat diminimalisir. Penanaman pohon hijau di sekitar sungai dapat membantu menyerap air hujan dan memperkuat ekosistem. Namun, solusi ini tidak bisa bergantung pada pemerintah saja harus kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama.
Kesimpulannya, banjir di Samarinda adalah persoalan kompleks yang mencerminkan kurangnya tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan. Jika tidak segera ditangani dengan solusi terintegrasi, banjir akan terus terjadi, memperparah kerugian ekonomi, kesehatan, dan sosial. Sebagai mahasiswa Pendidikan Pancasila, saya menekankan bahwa pendidikan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian lingkungan harus menjadi fondasi untuk perubahan. Dengan komitmen bersama, kita dapat mencegah banjir berulang dan membangun Samarinda yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan alam.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































