Banjir menjadi ironi besar di negeri yang setiap tahunnya menghadapi persoalan serupa, namun jarang beranjak dari siklus bencana yang sama. Ketika musim hujan datang, masyarakat mulai bersiap menghadapi luapan air, kemacetan, dan kerugian material. Namun pertanyaan utamanya bukan hanya mengapa banjir masih terjadi, melainkan mengapa kita seolah rela hidup berdampingan dengan bencana ini tanpa upaya serius untuk menghentikannya. Penyebabnya bukan semata karena curah hujan tinggi atau perubahan iklim global, tetapi karena minimnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menjalankan gaya hidup yang ramah ruang.
Banjir tidak pernah menjadi kejutan, tetapi respons kita selalu menunjukkan seolah persoalan ini datang tiba-tiba. Padahal penyebab utamanya sudah sangat jelas: kualitas lingkungan yang menurun akibat perilaku manusia dan minimnya kesadaran kolektif. Di banyak wilayah urban maupun desa, sungai dan selokan sering dipenuhi sampah rumah tangga, plastik, hingga limbah konstruksi. Selokan yang seharusnya menjadi jalur utama aliran air justru berubah menjadi “tempat sampah legal. mengakibatkan selokan butuh tidak ada aliran air dan mengakibatkan meluapi di jalan di lingkungan .
Fenomena membuang sampah sembarangan memang tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat serius. Banyak warga yang sadar bahwa membuang sampah ke sungai adalah tindakan yang salah, namun tetap melakukannya karena alasan praktis seperti lagi buru buru jadi langsug buang sembarangan. Di sini letak masalahnya: bukan hanya kesalahan individu, tetapi kegagalan kolektif. Selama masyarakat menganggap menjaga lingkungan bukan tanggung jawab bersama, selama itu pula banjir akan terus terjadi.
Contoh banjir yaitu di kota Samarinda adalah kombinasi faktor alam seperti curah hujan tinggi, topografi datar yang sejajar dengan permukaan laut, pasang surut air sungai, dan sedimentasi di muara sungai. Selain itu, faktor manusia seperti hilangnya area resapan air akibat alih fungsi lahan, sistem drainase yang buruk atau tersumbat sampah, serta pendangkalan sungai akibat aktivitas seperti pembuangan sampah dan penebangan pohon juga memperparah kondisi banjir.
Faktor alam
Curah Hujan Tinggi: Hujan dengan intensitas tinggi secara tiba-tiba dapat dengan cepat membuat sungai dan saluran drainase meluap.
Topografi Datar: Permukaan kota yang hampir sejajar dengan permukaan laut membuat air sulit mengalir keluar, terutama saat terjadi pasang.
Pasang Surut Air Sungai: Kombinasi antara hujan deras dan pasang air laut menyebabkan air tertahan dan genangan bertahan lama.
Sedimentasi Muara: Pendangkalan pada muara sungai menghambat aliran air yang lancar.
Faktor manusia
Berkurangnya Area Resapan: Pertumbuhan kota yang pesat menyebabkan banyak lahan hijau diubah menjadi perumahan dan jalan, mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air.
Drainase yang Buruk: Saluran air dan drainase yang tidak maksimal, sering tersumbat sampah dan lumpur, membuat aliran air terhambat.
Kesadaran kolektif adalah kunci. Banjir bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi persoalan budaya masyarakat. Selama pola pikir “asal sekarang tidak banjir, maka lingkungan tidak perlu dijaga” masih mengakar, perubahan tidak akan pernah terjadi. Kesadaran yang diperlukan adalah kesadaran bersama — di tingkat keluarga, RT, RW, sekolah, komunitas, hingga lembaga pemerintah. Perubahan perilaku yang dilakukan sebagian kecil masyarakat tidak akan signifikan jika tidak diikuti oleh mayoritas.
Padahal, solusi jangka panjang sebenarnya tidak rumit: membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan sungai, memperbanyak ruang terbuka hijau, memastikan pembangunan mematuhi analisis dampak lingkungan, serta melakukan edukasi publik secara konsisten. Kunci utamanya bukan teknologi mahal, melainkan kedisiplinan sosial. Negara-negara seperti Jepang, Singapura, dan Belanda sudah membuktikan bahwa pembangunan modern bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan melalui budaya kolektif warganya — bukan hanya kebijakan semata.
Kita harus keluar dari siklus pasrah terhadap banjir. Sudah saatnya masyarakat berhenti menganggap bencana sebagai “takdir alam” dan mulai mengakui bahwa sebagian penyebabnya berasal dari ulah manusia sendiri. Edukasi lingkungan tidak boleh hanya muncul saat banjir sedang terjadi, tetapi harus menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari. Pemerintah pun perlu memperkuat penegakan hukum, memastikan pembangunan mengikuti standar lingkungan, dan melibatkan masyarakat dalam setiap proses mitigasi bencana.
Pada akhirnya, banjir tahunan adalah cermin diri kita sendiri. Ia mencerminkan bagaimana kita memperlakukan lingkungan, bagaimana kita memprioritaskan pembangunan, dan bagaimana kita menjalankan peran sebagai warga negara. Jika kita ingin generasi mendatang hidup di lingkungan yang aman dan sehat, maka perubahan harus dimulai hari ini — mulai dari hal kecil, namun dilakukan secara konsisten dan bersama-sama. Jika kesadaran kolektif terbangun, maka banjir bukanlah nasib yang harus diterima, melainkan masalah yang bisa dicegah.
Penulis: Aulia rasna safitri
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Mulawarman
Dosen pengampu:Nia Novita Putri, S.Pd.,M.Pd.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































