Perubahan panduan gizi dari konsep 4 Sehat 5 Sempurna menuju Isi Piringku merupakan langkah penting dalam menyesuaikan pola makan masyarakat Indonesia dengan perkembangan ilmu gizi modern. Konsep lama 4 Sehat 5 Sempurna yang diperkenalkan sejak 1952 oleh Bapak Gizi Indonesia yaitu Prof. Purwo Soedarmo telah memberikan dasar pengenalan gizi, namun seiring berjalannya waktu, konsep tersebut dianggap tidak lagi mampu menggambarkan kebutuhan gizi masyarakat secara komprehensif. Pesan 4 Sehat 5 Sempurna yang diperkenalkan terinspirasi dari Basic Four yang dimiliki oleh Amerika Serikat pada era 1940an. Menurut Aisyah et al. (2022), Basic Four terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah-buahan serta susu sebagai penyempurna dalam menu. Konsep susu menjadi penyempurna dianggap menyebabkan munculnya permasalahan obesitas/kegemukan.
Kekurangan dalam konsep 4 sehat 5 sempurna
1. Ketiadaan pengaturan porsi
Meskipun 4 Sehat 5 Sempurna dikenal luas dan mudah diingat sebagai pedoman gizi, ada beberapa kekurangan yang dimilikinya. Salah satu masalah utamanya adalah tidak adanya aturan mengenai porsi. Konsep ini hanya menyebutkan jenis-jenis makanan, tetapi tidak memberikan petunjuk tentang seberapa banyak setiap jenis makanan seharusnya dimakan. Hal ini mengakibatkan beberapa orang beranggapan bahwa selama makanan tersebut lengkap, yakni mencakup nasi, lauk, sayur, dan buah, sudah dianggap sehat, meskipun proporsinya tidak seimbang. Pola makan semacam ini tidak mampu mengatasi tantangan kesehatan saat ini, di mana konsumsi karbohidrat yang berlebihan dan kurangnya asupan sayur serta buah masih menjadi masalah utama.
2. Susu dianggap “penyempurna”
Jika susu dianggap sebagai “komponen yang menyempurnakan,” maka apakah keberadaan makanan pokok, lauk, buah, sayur, dan mineral sebelumnya masih dianggap kurang sempurna jika susu tidak ditambahkan? Pandangan ini sebenarnya dapat menimbulkan beberapa masalah. Banyak orang mengalami intoleransi laktosa atau alergi terhadap susu, sehingga mengonsumsi susu dapat memicu gangguan pencernaan, dan tidak semua orang memerlukan susu setiap harinya. Anggapan bahwa susu adalah “komponen penyempurna” juga dapat mendorong masyarakat untuk mengonsumsi susu secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan energinya. Hal ini dapat menyebabkan risiko kelebihan kalori, yang pada gilirannya dapat menyebabkan obesitas dan kelebihan berat badan, terutama jika susu yang dikonsumsi mengandung banyak gula dan lemak.
Itulah mengapa kita harus perlu beralih ke konsep “Isi Piringku”. Berdasarkan Sulistyorini et al. (2022), Program “Isi Piringku” adalah Upaya pemerintah Indonesia untuk memberikan panduan yang mudah dipahami bagi masyarakat dalam menjalankan pola makan yang sehat dan seimbang. Program ini diluncurkan sebagai pembaruan dari konsep lama “4 Sehat 5 Sempurna”, yang dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan ilmu gizi saat ini. Konsep “Isi piringku” lebih menekankan pada distribusi porsi makanan dalam sekali makan. Menurut arahan dari Kementerian Kesehatan, dalam satu porsi makan, program ini menyarankan agar separuh piring diisi dengan makanan pokok dan lauk, sementara separuh sisanya diisi dengan sayuran dan buah. Panduan ini juga menekankan pentingnya mengonsumsi air sebanyak 8 gelas setiap hari, melakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit setiap hari, serta mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan.
Pembagian makanan dalam “Isi Piringku”
1. 2/3 dari 1/2 diisi dengan makanan pokok yang dipenuhi dengan sumber karbohidrat. Contohnya nasi, jagung, biji gandung, singkong, kentang dan lain-lain.
2. 1/3 dari 1/2 diisi dengan sumber protein. Contohnya untuk protein hewani yaitu ikan, telur, ayam, daging dan untuk protein nabati yaitu tempe, tahu, kacang-kacangan.
3. 1/3 dari 1/2 diisi dengan buah-buahan
4. 2/3 dari 1/2 diisi dengan sayuran
Selain itu, Isi Piringku memiliki kelebihan dalam menggabungkan elemen kebiasaan sehat seperti berolahraga, cukup minum air, menjaga kebersihan tangan, serta mengatur pola makan yang teratur. Semua hal ini menunjukkan bahwa kesehatan dipengaruhi bukan hanya oleh makanan, tetapi juga oleh cara hidup secara menyeluruh. Ide ini jelas tidak ada dalam “4 Sehat 5 Sempurna” yang hanya menekankan pada konsumsi makanan tanpa melihat faktor-faktor lain yang mendukung.
Dengan berbagai kelebihannya, Isi Piringku menjadi paradigma baru gizi yang lebih relevan dalam menjawab tantangan zaman. Panduan ini bukan sekadar revisi, tetapi transformasi besar menuju pemahaman gizi yang lebih holistik, terukur, dan sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat modern. Melalui visualisasi yang jelas dan pesan yang mudah dipahami, Isi Piringku diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola makan sehat demi mencegah masalah gizi sekaligus mempromosikan kesehatan jangka panjang.
Dengan segala keuntungan yang dimilikinya, “Isi Piringku” muncul sebagai pendekatan baru dalam gizi yang lebih sesuai untuk menghadapi tantangan zaman sekarang. Panduan ini bukan hanya sekedar pembaruan, melainkan perubahan signifikan menuju pengertian gizi yang lebih menyeluruh, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern. Dengan visual yang jelas dan informasi yang mudah diterima, “Isi Piringku” diharapkan bisa meningkatkan kesadaran publik untuk menerapkan pola makan yang sehat demi mencegah masalah gizi serta mendukung kesehatan jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistyorini, A., Rahmawati, W. C., Paramita, F., Leilina, A. N., Putriningdyah, Q., Nuradela, N., dan Ayu, C. K. 2022. Perilaku hidup sehat di era pandemi covid-19 melalui latihan fisik low-impact dan asupan gizi seimbang pada siswa SMA. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. 2(1): 21–35.
Aisyah, I. S., Kamaruddin, I., Siburian, U. D., Wahyuni, L. E. T., Amanda, E., Agustina, M., Astuti, I. D., Rahmawati, dan Kartikasari, M. N. D. 2022. Gizi Kesehatan. Padang: PT Global Eksekutif Teknologi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































