Di era modern, informasi dapat tersebar dengan mudah dan cepat, termasuk dengan maraknya klaim suplemen otak atau biasa disebut “brain boosters” di masyarakat yang terdengar tidak masuk akal. Banyak produk yang mengaku dapat meningkatkan IQ, fokus, daya ingat, dan performa belajar secara cepat jika rajin dikonsumsi. Hal ini menunjukkan keinginan manusia modern untuk memperoleh segala hal secara instan, termasuk dengan kecerdasan. Produk tersebut tersedia dalam berbagai bentuk dan sering kali dipasarkan dengan kata-kata yang menarik dan terkesan ilmiah, seperti “meningkatkan konsentrasi dalam 20 menit” atau “dapat menguatkan ingatan dan meningkatkan IQ”. Dalam konteks remaja, penggunaannya sering diasosiasikan dengan upaya meningkatkan prestasi akademik, sementara pada orang dewasa dan lansia dipandang sebagai cara untuk mencegah penurunan kognitif. Namun, apakah hal tersebut benar dan bisa terbukti secara ilmiah?
Apa Itu Suplemen Otak dan Pseudosains?
Suplemen otak atau sering dipasarkan sebagai vitamin otak atau peningkat kognitif, adalah produk yang dirancang untuk mendukung daya ingat, fokus, suasana hati, dan stamina mental secara keseluruhan (Deiss, 2025). Ada banyak sekali merk yang tersebar baik di apotek ataupun di e-commerce. Suplemen kecerdasan biasanya mengandung vitamin (misalnya B kompleks, C, D), asam lemak omega-3, kolin, mineral (seng, magnesium, dan asam folat), serta herbal nootropik (misal Bacopa monnieri dan Ginkgo biloba).
Pseudosains sendiri merupakan pengetahuan yang diklaim bersifat ilmiah dan aktual tetapi pada kenyataannya tidak bisa dibuktikan dengan landasan teori ilmiah yang ada. Indikator dari pseudosains yaitu :
1. Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, klaim yang diberikan terdengar instan dan tidak realistis sehingga secara ilmiah rasanya sulit untuk dibuktikan.
2. Satu untuk semua, artinya suatu hal ini mengklaim bisa memperbaiki banyak masalah sekaligus.
3. Mengandalkan pada kesaksian (efek placebo), suatu hal ini lebih banyak didukung oleh testimonial dari seseorang bukan dari data ilmiah. Efek placebo sendiri berarti perbaikan kondisi yang muncul bukan karena kandungan aktif suatu intervensi, tetapi karena keyakinan individu bahwa intervensi tersebut akan bekerja (Finniss et al., 2010).
4. Cocoklogi dengan otak, yang mana penjelasan ilmiahnya dilebih-lebihkan.
5. Temuan yang valid ditambah “mumbo jumbo” (elemen yang seolah-olah baru namun tidak signifikan), maksudnya memiliki sedikit fakta ilmiah yang benar tapi dicampur dengan klaim besar yang tidak bisa dibuktikan.
Hubungannya dengan Biopsikologi?
Menurut biopsikologi, fungsi kognitif dikendalikan oleh berbagai mekanisme biologis yang kompleks. Diawali dengan neurotransmiter, bertanggung jawab dalam mentransmisikan sinyal antar neuron dan mendukung proses belajar mulai dari memori, perhatian dan pengambilan keputusan. Lalu koneksi sinaptik yang membangun jaringan kompleks di mana informasi diproses, dibentuk, dan disimpan. Hingga neuroplastisitas yang memungkinkan otak untuk beradaptasi, belajar, dan berkembang.
Dalam proses tersebut dibutuhkan juga nutrisi yang tepat sehingga mengonsumsi suplemen dapat memberikan nutrisi tambahan. Namun, pemenuhan nutrisi melalui sumplemen tidak berarti dapat meningkatkan IQ atau kecerdasan secara instan karena prosesnya tidak semudah itu. Kecerdasan juga dibentuk melalui lingkungan seperti belajar hal baru, latihan secara rutin, rajin membaca sehingga mendapat insight, dan sebagainya.
Bukti Ilmiah dan Pseudosains dibalik Klaimnya
Suplemen otak seringkali dipasarkan secara berlebihan dengan klaim instannya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa asupan mikronutrien seperti vitamin B dan omega‑3 berhubungan dengan fungsi kognitif pada lansia, tetapi efeknya terbatas dan memerlukan waktu jangka panjang (Rahmawati et al., 2020). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kecerdasan bukan dari hasil instan meminum suplemen otak tetapi melalui sebuah proses yang dipengaruhi oleh nutrisi tubuh, pola makan, serta gaya hidup.
Selain itu, nootropik herbal seperti Bacopa monnieri dapat meningkatkan daya ingat, tetapi efeknya biasanya muncul setelah suplementasi berkelanjutan dan terbatas pada beberapa aspek kognitif (Valotto Neto et al., 2024). Mekanisme kerja Bacopa monnieri melibatkan perubahan pada neurotransmiter, perlindungan terhadap kerusakan akibat stres oksidatif, serta penurunan inflamasi atau peradangan di otak. Proses ini memerlukan banyak waktu untuk memberikan dampak nyata pada fungsi kognitif. Oleh karena itu, klaim peningkatan kognitif yang diberitakan pun sebagian besar disebabkan oleh efek placebo bukan karena kandungan bahan aktifnya. Jadi suplemen pada dasarnya dapat memberikan manfaat bagi individu dengan kekurangan nutrisi tertentu atau melalui mekanisme jangka panjang, tapi konsumsi suplemen otak tidak dapat dijadikan jalan pintas untuk meningkatkan kecerdasan secara instan.
Dampaknya bagi Masyarakat
Pemasaran suplemen otak secara pseudosains (overclaim) dapat memberikan dampak negatif pada masyarakat, yaitu :
1. Penyebaran pseudosains dapat membuat masyarakat menjadi ketergantungan pada solusi instan dibandingkan dengan pendekatan yang sudah terbukti meningkatkan fungsi kognitif, seperti tidur yang cukup, sering berlatih, manajemen stress yang baik, dan lainnya.
2. Mendorong penyebaran hoax akibat dari iklan yang dilebih-lebihkan (overclaim).
3. Beberapa merk suplemen bisa saja mengandung stimulan atau bahan aktif yang tidak dilaporkan sehingga dapat berpengaruh pada kesehatan diri. Jadi diharapkan masyarakat dapat melihat label komposisi terlebih dahulu.
Kesimpulan
Suplemen otak atau “brainbooster” dapat menjadi pseudosains ketika pemasarannya overclaim, seperti menjanjikan akan meningkatkan IQ atau kecerdasan, meningkatkan fokus, dan sebagainya. Karena efek sebenarnya hanya sebatas menambah nutrisi bagi tubuh. Literasi sains penting agar masyarakat dapat membedakan klaim pemasaran dan bukti ilmiah, serta memilih cara yang efektif untuk meningkatkan fungsi otak secara sehat. Diharapkan masyarakat dapat lebih berhati-hati, tidak mudah termakan iklan, dan dapat meningkatkan literasinya agar bisa membedakan klaim pemasaran dan bukti ilmiah yang ada.
Daftar Pustaka
Deiss, M. (2025, September 11). Do brain supplements actually increase IQ? Myths vs facts. Graymatter Labs. https://trygraymatter.com/blogs/science/do-brain-supplements-actually-increase-iq-myths-vs-facts?srsltid=AfmBOoozb8e2sfdGAvT8HV0XAgMHNzvgj6lbTyp_8SVWSD75yLUUJdQ
Finniss, D. G., Kaptchuk, T. J., Miller, F., & Benedetti, F. (2010). Biological, clinical, and ethical advances of placebo effects. The Lancet, 375(9715), 686–695.
Rahmawati, A., Pramantara, I. D. P., & Purba, M. (2012). Asupan zat gizi mikro dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 8(4), 195–201. https://doi.org/10.22146/ijcn.18218
Valotto Neto, L. J., Reverete de Araujo, M., Moretti Junior, R. C., Mendes Machado, N., Joshi, R. K., dos Santos Buglio, D., Barbalho Lamas, C., Direito, R., Fornari Laurindo, L., Tanaka, M., & Barbalho, S. M. (2024). Investigating the neuroprotective and cognitive‑enhancing effects of Bacopa monnieri: A systematic review focused on inflammation, oxidative stress, mitochondrial dysfunction, and apoptosis. Antioxidants, 13(4), 393.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































