Di zaman digital global yang luas hari ini, sebutan love language makin sering kita jumpai. Apa kalian pernah nemuin konten tentang love language di medsos kalian? Bahasa cinta memiliki lima pilar, yaitu act of service, quality time, receiving gifts, words of affirmation, dan physical touch yang jelas udah terkenal banget di telinga Gen Z.
Gary Chapman di buku bertajuk “The 5 Love Language” mengemukakan tentang bahasa cinta atau love language yang saat ini sedang naik daun. Beliau percaya bahwa bahasa cinta ini adalah lima metode utama seorang manusia mengekspresikan dan menerima kasih sayang. Ia pun mempercayai jikalau setiap orang itu memiliki satu atau mungkin dua cara yang paling menonjol untuk membuat mereka merasa paling dicintai. Dari kelima metode tadi, metode sentuhan fisik sedang menjamur menjadi bahan bincangan netizen karena metode ini dianggap dapat menghubungkan jiwa antara dua orang yang sedang jatuh cinta.
Physical Touch dalam Pandangan Emosi
Pada umumnya, physical touch selalu saja dianggap sebagai bentuk kedekatan atau keakraban antara dua orang saja. Pelukan yang dianggap menenangkan atau juga belaian lembut yang menunjukan kepedulian adalah anggapan yang benar meski belum sepenuhnya menjelaskan proses apa yang menciptakan rasa aman tentram ini. Menurut Feldman (2012), interaksi yang hangat, terutama sentuhan, dapat meningkatkan peluang pelepasan oksitosin atau yang sering kita sebut hormon cinta yang jelas berpengaruh pada rasa kedekatan atau keakraban. Respon tubuh itu membuktikan kalau sentuhan bukan hanya sekedar ekspresi diri, tetapi juga dapat menjadi sarana biologis untuk membangun sebuah hubungan.
Namun di sisi lain, kenyamanan dan kehangatan akan sentuhan ini tidak tentu dialami oleh semua orang. Memang ada yang merasakan kehangatan dan kenyamanan, namun ada pula yang merasakan rasa canggung, tidak nyaman, bahkahkan menghindari sentuhan. Untuk memahami fenomena ini, kita perlu mengulik lebih dalam lagi bagaimana penafsiran sentuhan hingga dapat menjadi sebuah sarana untuk merasakan rasa aman, nyaman, dan hangat.
Sensasi-Persepsi Physical Touch
Chapman pun menjelaskan kalau pemrosesan sensorik dibagi menjadi tiga fase, yaitu transduction (penerimaan), transmission (penyaluran), dan interpretation (penafsiran). Ketiga fase itu punya peran masing masing dalam pemrosesan sentuhan pada kulit sampai menjadi sebuah makna emosional bagi manusia. Dengan terusiknya salah satu fase tadi, makna dan rasa dari sentuhan pun bisa menghilang tertiup angin tanpa adanya penafsiran bermakna.
Yang pertama adalah transduction atau penerimaan. Di fase penerimaan, kulit akan menerima kontak awal lalu diubah menjadi sinyal saraf. Proses ini amatlah fatal karena kontak awal akan menjadi pondasi respon tubuh terhadap sentuhan. Sentuhan yang lembut kerap menghasilkan rasa nyaman daripada sentuhan yang cepat dan kasar. Menurut penelitian Walker (2017), pola sentuhan tertentu dapat mengurangi tekanan fisiologis yang menunjukkan sebagaimana pentingnya proses transduction ini.
Tahap yang kedua adalah tahap transmission yang merupakan tahap dimana sinyal saraf yang diterima kulit disalurkan menuju sumsum tulang belakang dan thalamus melalui saraf perifer. Namun tahapan ini bukan sekedar menyalurkan rangsangan, tetapi juga mempengaruhi bagaimana tubuh akan bereaksi secara fisiologis. Sentuhan yang lembut akan cenderung menurunkan aktivitas simpatis dan meningkatkan sistem saraf parasimpatis yang membantu tubuh untuk merasa rileks. Pada tahapan inilah yang menjelaskan mengapa sentuhan fisik terutama pelukan dapat membantu seseorang untuk merasa tenang bahkan dengan tanpa adanya latar belakang emosional yang rumit.
Tahapan yang terakhir adalah tahapan interpretation atau tahap penafsiran yang merupakan tahapan dimana sinyal saraf awal tadi telah sampai ke otak dan otak pun mulai memberikan makna kepada sinyal tersebut. Pada tahap penafsiran ini, konteks sosial, pengalaman masa lalu, serta hubungan interpersonal memainkan peran yang sangat besar. Sentuhan dari orang orang terdekat bisa kita terima sebagai rasa aman dan nyaman, namun tidak dengan sentuhan dari orang asing yang justru dapat membuat tubuh kita waspada. Pengalaman masa lalu pun dapat mempengaruhi penafsiran, contohnya jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang hangat dan rukun biasanya lebih menunjukkan respon positif terhadap sentuhan, sedangkan untuk seseorang yang tumbuh di lingkungan yang kaku atau mungkin kasar mungkin dapat menafsirkan sentuhan ini sebagai sebuah kecanggungan atau bahkan menunjukan respon waspada.
Dengan teori Chapman ini, kita dapat memahami bahwa physical touch bukan hanya sekedar sebuah preferensi emosional, namun merupakan hasil dari pemrosesan berlapis tubuh dan pengalaman personal yang rumit.
Dimensi Biologis Physical Touch
Melalui sisi pandang biologis, kenyamanan terhadap sentuhan sudah sering dibahas melalui peran besar oksitosin yang merupakan hormon cinta atau hormon yang mengatur kedekatan sosial dan interpersonal. Saarinen (2022), membahas bagaimana sentuhan yang lembut terutama dalam suatu hubungan dekat dapat memicu pelepasan hormon cinta ini yang dapat menurunkan rasa stres, meningkatkan rasa aman, bahkan memperkuat hubungan itu sendiri. Walau demikian, oksitosin juga bekerja sama dengan sistem saraf otonom yang menurunkan aktivitas fisiologis yang terhubung dengan rasa waspada dan membuat sentuhan terasa menenangkan.
Kesimpulan
Dengan berbagai sudut pandang tadi, anggapan bahwa physical touch sebagai love language tidaklah salah, namun baru mencakup bagian psikologisnya. Sedangkan dalam pandangan biologis, penafsiran sentuhan ini telah melalui proses sensasi-persepsi rumit dan berlapis yang melibatkan ketiga tahapan transduction, transmission, sampai interpretation. Secara keseluruhan, physical touch dapat dipahami sebagai sebuah bahasa cinta yang memadukan pengalaman sensorik, interpretasi sosial, pengalaman masa lalu, serta mekanisme biologis.
Referensi
Chapman, G. (1992). The five love languages: How to express heartfelt commitment to your mate. Northfield Publishing.
Feldman, R. (2012). Oxytocin and social affiliation in humans. Science Direct.
Saarinen, A., et al. (2022). Affective touch in the context of development, oxytocin signaling, and autism. Frontiers in Psychology.
Penulis: Glenn Matthew Hasian Silitonga (Mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































