Generasi digital tumbuh di tengah lingkungan yang dipenuhi rangsangan cepat, mulai dari notifikasi, video berdurasi singkat, hingga gim interaktif. Kondisi ini tidak hanya membentuk kebiasaan sehari-hari, tetapi juga cara otak merespons proses belajar. Salah satu mekanisme penting yang terlibat adalah dopamin, zat kimia otak yang berperan dalam sistem motivasi dan penghargaan. Memahami hubungan antara dopamin dan pola belajar generasi digital menjadi penting agar proses pendidikan tetap efektif di era yang penuh distraksi ini.
Dopamin sering disalahartikan sebagai “pemicu rasa senang”, padahal fungsinya lebih kompleks. Dopamin bertugas memperkuat perilaku yang membawa hasil positif dan mendorong seseorang untuk mengulangi tindakan tersebut. Saat siswa memahami materi, menyelesaikan tugas, atau mendapatkan apresiasi, otak melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa puas. Hal ini menjadi dasar terbentuknya motivasi yang berkelanjutan.
Namun, dopamin juga dapat dipicu oleh sumber lain yang bersifat instan, seperti notifikasi media sosial atau pencapaian kecil dalam gim. Rangsangan cepat seperti ini dapat menggeser sensitivitas otak, sehingga proses belajar yang memerlukan fokus jangka panjang terasa kurang menarik dibandingkan “reward” digital.
Bagi pelajar generasi digital, tantangan terbesar bukan sekadar mengatur waktu, tetapi mengelola perhatian. Konten digital yang sangat mudah diakses membuat otak terbiasa menerima rangsangan singkat dan berulang. Akibatnya, tugas akademik yang membutuhkan konsentrasi mendalam dapat terasa lebih melelahkan dan kurang memberi kepuasan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan gawai yang berlebihan berkaitan dengan penurunan motivasi belajar serta meningkatnya kecenderungan menunda pekerjaan akademik. Fenomena ini bukan hanya persoalan disiplin, tetapi juga berkaitan dengan adaptasi biologis otak terhadap pola stimulasi digital.
Walaupun dopamin dapat menjadi sumber distraksi, zat ini tetap dapat dimanfaatkan untuk memperkuat motivasi belajar jika dikelola dengan tepat. Beberapa strategi yang disarankan antara lain:
1. Membuat target belajar jangka pendek.
Setiap target kecil yang berhasil dicapai menghasilkan dorongan dopamin alami yang mendukung ketekunan belajar.
2. Mengatur sistem penghargaan pribadi.
Misalnya, memberikan waktu istirahat singkat atau akses terbatas ke media sosial setelah menyelesaikan bagian materi tertentu.
3. Menerapkan metode belajar yang aktif.
Diskusi, rangkuman visual, latihan soal, atau pembelajaran berbasis proyek dapat mempertahankan keterlibatan otak.
4. Mengurangi distraksi digital.
Menempatkan ponsel di luar jangkauan atau menggunakan mode fokus dapat membantu menstabilkan perhatian.
5. Mengembangkan motivasi intrinsik.
Menemukan makna dari proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya, dapat memperkuat ketahanan motivasi.
Dopamin memainkan peran penting dalam membentuk motivasi dan perilaku belajar. Namun pada generasi digital, pola stimulasi yang terlalu cepat dan berulang dapat memengaruhi cara otak merespons aktivitas akademik. Dengan memahami dinamika ini, pelajar dapat mengatur penggunaan teknologi secara lebih bijak dan memanfaatkan dopamin untuk memperkuat, bukan melemahkan, motivasi belajar. Pendekatan yang tepat dapat membantu generasi digital membangun kebiasaan belajar yang lebih disiplin, fokus, dan berkelanjutan.
SITASI
Berke, J. D. (2018). What does dopamine mean? Nature Neuroscience, 21(6), 787–793. https://doi.org/10.1038/s41593-018-0152-y
Cools, R. (2008). Role of dopamine in the motivational and cognitive control of behavior. The Neuroscientist, 14(4), 381–395. https://doi.org/10.1177/1073858408317009
Wise, R. A. (2004). Dopamine, learning and motivation. Nature Reviews Neuroscience, 5, 483–494.
https://doi.org/10.1038/nrn1406
Muhasim, M. (2017). Pengaruh Tehnologi Digital terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik. PALAPA: Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan, 5(2), 53–77. https://doi.org/10.36088/palapa.v5i2.46 (ejournal.stitpn.ac.id)
Phillips, A. G. (2008). A top-down perspective on dopamine, motivation and reward. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 32(1), 76–91. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2007.06.005(ScienceDirect)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































