Pernah nggak sih, kita merasa ada yang berat dalam diri kita tapi refleks pertama kita justru bukan menghadapinya, melainkan lari menjauh? Setelah putus cinta, misalnya, beberapa orang memilih untuk menyibukkan diri dengan menekuni hobi baru, olahraga tiap hari, atau mengikuti kegiatan sosial seperti volunteer seolah kesibukan bisa menambal luka. Bukan karena semuanya terasa menyenangkan, tapi kerena kesibukan itu terasa lebih aman daripada duduk sendirian dengan perasaan galau ditinggal mantan. Atau ketika ada deadline tugas yang sebentar lagi harus dikumpulkan, tapi malah scroll Tiktok berjam-jam. Tahu ada yang harus diselesaikan, namun tetap memilih untuk tenggelam diantara video-video pendek itu. Bahkan ketika sedang cemas, ada yang memilih untuk tidur seharian, menghilang dari grup chat, atau bercanda terus agar tidak ada yang menyadari bahwa sebenarnya hatinya sedang berantakan.
Hal-hal kecil seperti ini yang sering kita anggap sepele. Namun, ketika sudah mulai memengaruhi keseharian kita, sebenarnya itu bisa menjadi tanda bahwa kita sedang melakukan emotional avoidance, yaitu kecenderungan untuk menghindari emosi tertentu. Seringkali kita nggak sadar sedang melakukannya, karena bentuk menghindari emosi itu muncul dalam perilaku-perilaku yang dianggap wajar.
Apa sih yang sebenarnya kita hindari?
Jika kita perhatikan lagi, yang kita jauhi selama ini bukanlah aktivitas atau situasinya. Bukan momennya, bukan tugasnya, apalagi bukan orang yang sudah ninggalin kita. Yang kita hindari adalah emosi yang muncul dari dalam diri kita ketika berhadapan dengan hal itu. Emosi yang tidak menyenangkan ini bukan berarti emosi yang buruk. Mereka adalah sinyal penting bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang perlu di perhatikan. Hanya saja, karena rasanya terasa berat, kita sering memilih untuk menghindarinya.
Darimana datangnya emosi tidak nyaman?
Menurut Jaak Panksepp, otak bagian bawah manusia memiliki sistem emosi bawaan yang sudah ada sejak lahir. Dari tujuh emosi dasar yang ia temukan, tiga yang paling sering memicu ketidaknyamanan adalah FEAR (takut), RAGE (marah), dan PANIC/GRIEF (panik atau kesedihan sosial). Emosi-emosi ini bekerja sangat cepat karena berasal dari struktur otak yang lebih tua, sehingga tubuh bereaksi lebih dulu sebelum kita sempat berpikir.
Ketika sistem ini aktif, tubuh memberikan sinyal kuat seperti jantung berdebar, dada sesak, atau perut melilit. Sensasi inilah yang sering mendorong kita untuk menghindari situasinya. Padahal, yang sebenarnya kita jauhi bukan peristiwanya, melainkan reaksi tubuh dan emosi yang tidak nyaman. Jadi, emosi tidak menyenangkan bukan muncul karena kita “berpikir negatif” melainkan karena sistem biologis tubuh sedang berusaha melindungi kita. Karena reaksinya cepat dan intens, menghindar terasa seperti strategi paling mudah.
Apa yang sebenarnya terjadi di otak saat kita menghindari emosi tidak nyaman?

Limbic system adalah inti dari pemrosesan emosi, jaringan kompleks struktur otak
yang memainkan peran penting dalam pemrosesan emosi. Ada tiga bagian otak yang bekerja saling berkaitan, yaitu amygdala, hippocampus, dan prefontal cortex.
Amygdala sangat peka terhadap stimulus yang berkaitan dengan ancaman yang memicu respons fight or flight tubuh ketika merasakan bahaya. Ketika pernah mengalami suatu pengalaman yang menyakitkan, amygdala akan mengingat pengalaman itu melalui proses fear conditioning. Begitu ingatan itu muncul lagi, amygdala memicu rasa takut sehingga kita terdorong untuk menghindar. Karena penghindaran memberi rasa lega sesaat, otak akan mengulanginya terus-menerus.
Hippocampus membentuk ingatan emosional yang bergantung pada konteksnya. Meskipun tugas utamanya berkaitan dengan memori, hippocampus juga berperan dalam regulasi emosi, memungkinkan kita mengingat pengalaman masa lalu dan mengaitkan emosi dengannya. Kalau bagian otak ini bekerja dengan baik, kita bisa membedakan mana emosi masa lalu dan mana yang sedang terjadi. Tapi ketika fungsi hippocampus melemah karena stres berat, trauma, atau tekanan emosional yang berlangsung lama, otak jadi sulit membedakan masa lalu dan masa kini. Emosi lama terasa seperti ancaman baru. Saat itu terjadi, tubuh memilih jalan pintas, yaitu menghindari emosi supaya tidak perlu merasakan ketidaknyamanan tersebut. Karena itu, masalah pada hippocampus dapat membuat seseorang lebih mudah memakai penghindaran sebagai cara menghadapi emosi yang tidak menyenangkan.
Sementara itu, prefrontal cortex adalah bagian otak yang membuat kita bisa berpikir jernih dan mengatur emosi. Tapi ketika emosi terasa terlalu tidak nyaman, prefrontal cortex sering berubah strategi. Alih-alih membantu kita memproses perasaan, ia justru berusaha mematikan atau menekan emosi. Dari sinilah muncul perilaku seperti mengalihkan perhatian, menyibukkan diri, atau menjauh dari situasi yang tidak menyenangkan.
Dengan belajar menerima emosi dengan keberanian dan kasih sayang, kita bisa melatih ketahanan emosional dan menjalani hidup yang lebih memuaskan. Mengakui perasaan yang kita rasakan bukanlah tanda bahwa kita lemah, tapi hal ini menunjukkan bahwa kita kuat dan siap berkembang.
REFRENSI
Neuroscience: Decoding the neurologic basis of emotions. (2025, November 3). MedLink Neurology. https://pascale-nakhle.com/what-is-emotional-avoidance-and-how-to-deal-with-it/
Panksepp, J. (2011). Cross-species affective neuroscience decoding of the primal affective experiences of humans and related animals. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0021236
Pascale.Nakhle, & Pascale.Nakhle. (2022, December 25). What Is Emotional Avoidance, And How to Deal with It? – Pascale E. Nakhlé. Pascale E. Nakhlé – Clinical Psychologist. https://pascale-nakhle.com/what-is-emotional-avoidance-and-how-to-deal-with-it/
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































