Dalam dunia pendidikan, sering kali kita menitikberatkan pada penguasaan ilmu pengetahuan tanpa menyadari bahwa adab, atau tata krama, memiliki peran yang tak kalah penting. Ilmu yang tinggi tanpa disertai adab hanya akan menciptakan individu yang cerdas secara intelektual tetapi tidak bermoral. Misalnya, seorang ahli teknologi yang menggunakan kemampuannya untuk meretas data orang lain menunjukkan betapa pentingnya adab dalam memanfaatkan ilmu (Al-Ghazali, 2015). Oleh karena itu, penting untuk menempatkan adab di atas ilmu, karena adab adalah fondasi yang menuntun penggunaan ilmu secara benar dan bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan yang hanya berfokus pada aspek kognitif tanpa mempertimbangkan karakter akan menghasilkan generasi yang kurang beretika dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan (Naquib al-Attas, 1993).
Baik guru maupun murid seharusnya memiliki adab. Bagi murid, adab berarti memberikan rasa hormat, bersikap sopan, mengikuti arahan dengan bijaksana, dan memiliki tanggung jawab terhadap ilmu yang dipelajari. Sedangkan bagi Guru dalam Islam tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai penjaga moral dan spiritual peserta didik. Guru disebut sebagai pewaris para nabi karena tugasnya bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga mendidik jiwa. Oleh karena itu, adab guru menjadi kunci utama dalam keberhasilan pendidikan. Guru yang memiliki keteladanan, keikhlasan, dan kasih sayang akan mampu menghidupkan ruh pendidikan, bukan hanya sekadar menjalankan fungsi administratif di ruang kelas.
Menurut pandangan saya, yang perlu beradab lebih dahulu adalah guru. Guru adalah pusat dalam dunia pendidikan karena mereka yang mentransfer ilmu dan karakter kepada murid. Karena sedikitnya adab bisa menutupi kurangnya ilmu, tapi tidak ada ilmu sebanyak apapun yang bisa menutupi sedikitnya adab. Adab itu bagaimana cara kita bisa menampilkan diri ke orang tetapi ilmu hanya menyelesaikan masalah kehidupan, menjadi orang yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain tidak harus menggunakan ilmu tetapi bisa menggunakan adab.
Sebagaimana dijelaskan oleh Hadratusyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul Allim wal Mutaallim, alasan Hadratusyaikh menuliskan alim (guru) dulu baru mutaallim (murid). Hal ini menunjukan bahwa yang harus ber adab itu guru dulu baru murid, saya sangat sepakat dengan pandangan ini. Alim adalah figur utama dalam proses pembentukan ilmu dan karakter. Jika guru tidak beradab, maka murid tidak akan memiliki figur untuk diteladani. Kasus kasus kekerasan seksual dan fisik yang melibatkan guru, menunjukkan bahwa banyak pendidik gagal menjadi teladan moral, padahal keteladanan moral merupakan bagian yang sangat penting dalam ajaran yang ditulis oleh Hadratusyaikh. Pendidikan tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan, tetapi juga transfer nilai dan moral.
Isi dari kitab Adabul Alim wa al Mutaallim menunjukkan alasan mengapa guru harus beradab terlebih dahulu. Pada Bab I Hadratusyaikh menjelaskan keutamaan ilmu dan ulama serta keutamaan mengajar dan belajar. Bab II membahas akhlak pribadi seorang murid. Bab III berisi akhlak murid terhadap gurunya. Bab IV memuat akhlak murid terhadap pelajaran yang sedang di pelajari. Bab V membahas akhlak pribadi seorang guru. Bab VI berisi akhlak guru ketika mengajar. Bab VII berisi tentang akhlak guru terhadap murid. Terakhir Bab VIII membahas adab murid terhadap buku dan cara memperolehnya.
KH Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya posisi alim terlebih dahulu sebelum mutaallim bukan tanpa sebab. Seorang pendidik yang tidak memiliki akhlak yang baik akan mengalami kesulitan dalam menerapkan nilai-nilai etika kepada murid. Sebaliknya, jika seorang guru memiliki tingkah laku yang baik dan terjaga, murid tidak hanya akan mendapatkan ilmu pengetahuan tetapi juga menyerap nilai-nilai moral yang akan menjadi bekal dalam kehidupan. Dalam realitas pendidikan di Indonesia saat ini, yang sering diwarnai oleh berbagai masalah moral yang melibatkan tenaga pengajar dan murid, pemikiran Hadratusyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam tulisan ini terbukti sangat relevan dan perlu untuk ditelaah kembali sebagai pedoman bagi pendidik dan murid di Indonesia.
Sumber: kitab Adabul Alim wal Mutaalim (karya Hadratusyaikh KH. Muhammad Hasyim
Asy’ari)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































