JAKARTA – Belum genap 24 jam setelah dilantik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung dihadapkan pada protes keras dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Demonstrasi yang menuntut pencopotan sang menteri ini memicu perdebatan sengit: apakah langkah cepat BEM UI adalah peringatan yang penting bagi pejabat baru, atau justru kontraproduktif dan menambah ketidakpastian di tengah transisi kekuasaan?
Gejolak ini dipicu oleh pernyataan Purbaya yang dinilai meremehkan masalah rakyat dan gerakan mahasiswa. Ia menganggap tuntutan sebagai sesuatu yang datang dari “sebagian kecil rakyat”, serta menyinggung bahwa demo tidak akan terjadi jika “sudah makan enak”.
Pernyataan ini langsung menyulut amarah di kalangan mahasiswa. BEM UI menegaskan bahwa protes mereka bukan soal urusan perut, melainkan wujud idealisme dan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Bagi BEM UI, sikap Purbaya menunjukkan kurangnya empati dan arogansi yang tidak pantas dimiliki oleh seorang pejabat publik, terutama di posisi sepenting Menteri Keuangan.
Aksi BEM UI, yang begitu cepat dan vokal, membelah opini publik.
Di satu sisi, kelompok yang mendukung BEM UI melihatnya sebagai sebuah peringatan. Mereka berpendapat bahwa pejabat baru harus segera menyadari bahwa setiap kata dan tindakan mereka akan diawasi ketat oleh publik. Aksi ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memastikan pejabat tidak mengulangi kesalahan serupa dan tetap fokus pada masalah rakyat.
Namun, di sisi lain, banyak yang menganggapnya kontraproduktif. Pergantian menteri, terutama setelah kepergian sosok kredibel seperti Sri Mulyani Indrawati, sudah cukup memicu ketidakpastian di pasar. Desakan untuk mencopot menteri yang baru sehari menjabat dikhawatirkan akan memperburuk situasi.
Bagi investor internasional, yang membutuhkan stabilitas dan sinyal positif, gejolak politik ini bisa menjadi alasan untuk menahan investasi. Media asing cenderung menyoroti isu ketidakstabilan, yang dapat merusak citra Indonesia sebagai tujuan investasi yang aman.
Pada akhirnya, “drama awal masa jabatan” ini menjadi cerminan dari tantangan besar yang dihadapi kabinet baru. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk memenuhi tuntutan publik akan empati dan kebijakan yang pro-rakyat. Di sisi lain, ada keharusan untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi agar tidak mengganggu kepercayaan investor.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































