Pernah nggak sih, pas pertama kali nyicip matcha, reaksinya langsung, “Kok rasanya kayak rumput, ya?” Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak orang mengalami hal yang sama, terutama yang baru pertama kali berkenalan dengan minuman hijau dari Jepang ini.
Tapi faktanya, rasa “rumput” pada matcha bukan karena bahannya aneh atau kualitasnya buruk. Justru, rasa itulah yang jadi ciri khas matcha asli dan berhubungan erat dengan flavor alami yang terbentuk sejak daun teh masih di kebun.
Sebelum itu mari kenalan dengan falvor, apa itu flavor?
Flavor, atau cita rasa, merupakan pengalaman menyeluruh yang dihasilkan dari gabungan keseluruhan indra ketika mengonsumsi suatu makanan. Ia bukan sekadar rasa yang ditangkap lidah, melainkan perpaduan antara rasa dasar (seperti manis dan pahit), aroma yang ditangkap hidung, serta sensasi fisik seperti tekstur dan suhu di dalam mulut. Faktanya, hampir 80% dari apa yang kita anggap sebagai “rasa” sebenarnya berasal dari indera penciuman. Inilah yang membuat flavor menjadi jauh lebih kaya dan kompleks dibandingkan sekadar kategori rasa dasar.
Matcha berasal dari daun teh hijau (Camellia sinensis) yang ditanam dengan metode shading atau penutupan dari sinar matahari langsung sebelum panen. Teknik ini membuat daun menghasilkan lebih banyak klorofil. Klorofil inilah yang memunculkan aroma green, grassy, dan fresh yang langsung terasa begitu matcha diseduh. Senyawa inilah yang memberikan warna hijau pekat dan rasa tumbuhan yang kuat. Ditambah dengan aroma khas senyawa organik seperti hexenal yang juga dilepaskan saat rumput segar dipotong, otak kita secara alami menyimpulkan keseluruhan flavor ini dengan kesan “hijau” dan segar seperti rerumputan.
Dalam dunia flavor, karakter ini dikenal sebagai green notes, yaitu sensasi rasa dan aroma yang mirip daun segar, rumput basah, atau sayuran hijau. Selain klorofil, matcha juga kaya akan L-theanine, asam amino yang memberi rasa umami dan sedikit manis alami. L-theanine berperan besar dalam membentuk flavor matcha yang kompleks: tidak sekadar pahit, tapi “bulat” dan lembut di mulut.
Inilah alasan mengapa matcha berkualitas tinggi sering dideskripsikan memiliki flavor creamy, vegetal, dan savory, bukan pahit tajam. Kalau salah satu terlalu dominan misalnya pahit berlebihan rasa matcha jadi kurang seimbang. Biasanya ini terjadi pada matcha kualitas rendah atau akibat air terlalu panas saat penyeduhan.
Menariknya, karakter grassy dan umami ini justru bikin matcha mudah dipadukan. Saat dicampur susu atau plant-based milk, flavor hijau matcha berubah jadi lebih smooth, nutty, dan creamy. Lemak dalam susu membantu “menjinakkan” rasa pahit dan menonjolkan sisi manis alaminya.
Itulah kenapa matcha latte bisa dinikmati bahkan oleh orang yang awalnya nggak suka rasa rumput.
Tetapi, bagi sebgaian orang rasa matcha masih terlalu pahit sehingga membuat para produsen mengakali hal tersebut. Dalam produk matcha komersial yang banyak beredar, sering kali ditambahkan flavor sintetis untuk menyesuaikan rasa dengan selera pasar yang lebih luas. Matcha asli bisa terasa terlalu pahit atau kuat bagi sebagian orang. Untuk menyamarkan kepahitan dan menciptakan kesan yang lebih lembut, manis, dan creamy, produsen menambahkan senyawa seperti vanillin (peniru rasa vanila) atau ethyl maltol (pemberi rasa karamel). Penambahan ini membuat matcha versi komersial terasa lebih seperti makanan penutup dan berbeda jauh dari karakter herba dan earthy yang dimiliki matcha asli.
Jadi, rasa rumput pada matcha bukan sekadar sensasi aneh di lidah, tapi bagian dari identitas flavor yang terbentuk secara alami. Flavor ini yang membuat matcha berbeda dari teh hijau biasa dan jadi bahan favorit di dunia minuman, dessert, hingga pastry.
Kesimpulannya, kalau matcha terasa grassy, fresh, dan sedikit umami, itu bukan kesalahan. Justru di situlah letak cita rasa autentik matcha.
Penulis: Nadiyah Al Widad
Referensi:
Ohloff, G., Flament, I., & Pickenhagen, W. (1985). Flavor chemistry. Food Reviews International, 1(1), 99-148.
Somantri, R. 2014. The story in a cup of tea. TransMedia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































