Jakarta — Skor Environmental, Social, and Governance (ESG) 71 yang dikantongi PT Wijaya Karya Beton Tbk dari S&P Global bukan sekadar deret angka di atas kertas. Capaian ini menyoroti jurang yang lebar antara produsen beton pracetak asal Indonesia tersebut dan mayoritas pelaku industri konstruksi global yang masih tertinggal dalam agenda keberlanjutan.
Data S&P Global untuk sektor Construction & Engineering menunjukkan rata-rata skor industri hanya 27 untuk dimensi lingkungan, 31 untuk tata kelola dan ekonomi, serta 28 untuk aspek sosial. Di atas landasan itu, skor WIKA Beton yang menembus 80 untuk pilar sosial, 70 untuk pilar lingkungan, dan 63 untuk tata kelola dan ekonomi menjadikannya anomali positif di sektor yang selama ini identik dengan emisi tinggi dan konsumsi sumber daya yang intensif.
Siapa S&P Global dan Apa Makna Skor ESG 71?
S&P Global sendiri dikenal sebagai salah satu lembaga pemeringkat dan penyedia data keuangan dan keberlanjutan terbesar di dunia. Melalui unit Sustainable1, lembaga ini mengembangkan S&P Global ESG Scores untuk mengukur kinerja keberlanjutan ribuan perusahaan lintas sektor dan negara. Skor ESG diposisikan sebagai referensi bagi investor, lembaga keuangan, dan pelaku pasar untuk menilai seberapa serius sebuah perusahaan mengelola risiko dan peluang terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Penilaian dilakukan melalui Corporate Sustainability Assessment (CSA), asesmen tahunan berbasis kuesioner yang dirancang spesifik per industri. Setiap perusahaan diuji dengan lebih dari seratus pertanyaan yang dipecah ke dalam berbagai kriteria material, mulai dari strategi iklim, efisiensi energi, keselamatan kerja, hingga struktur tata kelola dan transparansi pelaporan. Jawaban kemudian diolah menjadi skor 0–100 yang bersifat peer-relative, mencerminkan posisi perusahaan dibanding rekan se-industri, bukan sekadar kepatuhan minimal terhadap regulasi.
Dalam kerangka ini, skor 71 mengindikasikan bahwa praktik ESG WIKA Beton berada di kelompok atas dalam klaster industrinya, menempatkan WIKA Beton dalam kelompok Top Quintile, posisi eksklusif yang hanya diraih 13% perusahaan terbaik di sektor material konstruksi global. Konsistensi berkelanjutan dalam asesmen S&P Global sejak 2021 hingga 2025 menjadi kunci di balik lonjakan dramatis ini. Bagi pemodal dan mitra internasional yang menjadikan ESG sebagai prasyarat, angka ini terbaca sebagai sinyal bahwa risiko keberlanjutan relatif lebih terkelola dan tata kelola perusahaan telah melampaui standar dasar.
Fragmentasi Global Perketat Kompetisi
Lonjakan skor WIKA Beton dari 46 menjadi 71 dalam kurun setahun terjadi di tengah lanskap keberlanjutan global yang kian terfragmentasi. Dalam laporan tren keberlanjutan terkininya, S&P Global menyoroti bagaimana negara-negara besar mengembangkan standar, taksonomi hijau, dan kewajiban pelaporan yang berbeda-beda, sementara pemerintah juga dihadapkan pada dilema antara kebutuhan energi yang terjangkau dan tuntutan penurunan emisi. Fragmentasi ini membuat perusahaan multinasional, termasuk kontraktor dan pemasok material konstruksi, harus cermat memilih strategi agar tetap relevan di berbagai yurisdiksi.
Bagi WIKA Beton, skor 71 yang dikategorikan above average menjadi modal penting untuk bernavigasi di tengah peta regulasi yang tidak seragam tersebut. Perusahaan memilih jalur Survey Respondent dalam CSA, yakni berpartisipasi aktif dengan menyerahkan dokumen pendukung dan menjawab sekitar 130 pertanyaan mendalam, alih-alih hanya dinilai dari informasi publik. Langkah ini bukan hanya mengerek skor, tetapi juga memperkuat kredibilitas di mata investor dan pemberi kerja yang semakin selektif terhadap rekam jejak ESG.
Ke depan, tantangan utama bagi WIKA Beton adalah menjaga konsistensi implementasi di lapangan agar skor tinggi tidak berhenti sebagai pencapaian sesaat. Di tengah tekanan biaya, dinamika proyek infrastruktur, dan perubahan regulasi hijau, keberhasilan mempertahankan bahkan meningkatkan skor ESG akan menjadi pembeda antara perusahaan yang sekadar mengikuti tren dan mereka yang benar-benar memimpin transformasi keberlanjutan di industri material konstruksi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































