Perkembangan teknologi digital saat ini telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya pada remaja. Media sosial kini menjadi bagian dari aktivitas kehidupan sehari-hari, baik digunakan untuk komunikasi, mencari informasi, maupun mengekspresikan diri. Laman yang sering digunakan seperti Instagram, TikTok, dan X tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruangan sosial yang baru. Namun, dibalik manfaat tersebut, muncul berbagai pertanyaan mengenai dampak dari media sosial tersebut terhadap kesehatan mental remaja.
Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada dalam tahap pencarian jati diri dan perkembangan identitas. Pada tahap ini, individu itu jadi cenderung lebih sensitif terhadap penilaian sosial dan juga pengaruh lingkungan (Santrock, 2019). Dalam kondisi Tersebut, penggunaan media sosial yang intens pada remaja dapat menimbulkan pengaruh positif maupun negatif terhadap kondisi psikologis remaja. Oleh karena itu, Penting untuk memahami bagaimana media sosial dapat memengaruhi kesejahteraan mental pada remaja.
Pembahasan
Media Sosial memiliki beberapa manfaat pada psikologis. Salah satunya adalah memperluas pertemanan dan juga memberikan dukungan sosial. Remaja dapat berbagi cerita dan juga pengalaman dengan disertai rasa diterima dalam kelompok sosial tertentu. Dukungan sosial diketahui dapat berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis individu (Taylor, 2018).
Selain itu, media sosial juga menjadi sarana ekspresi diri. Remaja dapat menampilkan minat dan juga pandangan mereka melalui unggahan foto, video, ataupun tulisan. Proses ini dapat membantu pembentukan identitas diri karena individu dapat memperoleh umpan balik dari lingkungan sosialnya (Valkenburg & Peter, 2011). Akses informasi yang luas juga memungkinkan remaja untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan.
Namun demikian, penggunaan media sosial yang berlebihan juga menimbulkan dampak negatif. Salah satunya yang paling sering terjadi yaitu social comparison atau biasa disebut perbandingan sosial. Remaja cenderung membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih menarik atau bahkan lebih berhasil, sehingga hal itu dapat memicu adanya ketidakpuasan diri dan dapat menurunkan harga diri (Fardouly et al., 2015). Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kecemasan dan juga depresi pada remaja.
Ujaran komentar negatif atau bahkan perundungan siber (cyberbullying) juga berdampak serius pada kesehatan mental. Korban perundungan pada media sosial berisiko mengalami stress, depresi, hingga penarikan diri dari lingkungan sosial (Kowalski et al., 2014). Dampak tersebut dapat memengaruhi hubungan interpersonal maupun prestasi pada akademik.
Durasi penggunaan pada media sosial menjadi faktor penting lainnya. Penggunaan media sosial dalam waktu yang lama dapat mengganggu pola tidur dan juga dapat mengurangi interaksi tatap muka, yang pada akhirnya dapat menurunkan kesejahteraan psikologis (Twenge et al., 2018). Oleh karena itu, cara penggunaan media sosial lebih menentukan daripada sekedar keberadaanya saja. Dampak media sosial ini tidak bersifat mutlak. Penggunaan yang bijak, seperti membatasi waktu akses, mengikuti konten yang positif, dan juga menjaga privasi, dapat meminimalkan risiko negatif pada sosial media. Peran orang tua dan pendidik juga penting dalam memberikan edukasi literasi digital pada remaja, agar remaja memiliki pertumbuhan yang terarah dan terkendali.
Penutup
Media sosial merupakan bagian penting dari kehidupan remaja pada era modern ini. Media sosial juga dapat memberikan manfaat berupa dukungan sosial, sarana ekspresi diri, dan akses informasi. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat memicu adanya kecemasan, perbandingan sosial, serta gangguan tidur pada remaja.
Oleh karena itu, diperlukan adanya kesadaran dalam penggunaan media sosial secara imbang. Remaja perlu menanamkan control diri dan kemampuan menyaring informasi agar media sosial dapat menjadi sarana yang mendukung perkembangan psikologis, bukan sebaliknya.
Daftar Pustaka
Fardouly, J., Diedrichs, P. C., Vartanian, L. R., & Halliwell, E. (2015). Social comparisons on social media: The impact on body image concerns. Body Image, 13, 38–45.
Kowalski, R. M., Giumetti, G. W., Schroeder, A. N., & Lattanner, M. R. (2014). Bullying in the digital age: A critical review and meta-analysis of cyberbullying research. Psychological Bulletin, 140(4), 1073–1137.
Santrock, J. W. (2019). Adolescence (17th ed.). McGraw-Hill Education.
Taylor, S. E. (2018). Health psychology (10th ed.). McGraw-Hill Education.
Twenge, J. M., Joiner, T. E., Rogers, M. L., & Martin, G. N. (2018). Increases in depressive symptoms among adolescents with increased new media screen time. Clinical Psychological Science, 6(1), 3–17.
Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2011). Online communication and adolescent well-being: Testing the stimulation versus displacement hypothesis. Journal of Computer-Mediated Communication, 16(2), 200–209.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































