Nama-nama yang tak lagi tercantum dalam daftar kerja diarahkan untuk kembali mengikuti proses rekrutmen tahun 2026. Secara konsep, ini terdengar adil, demokratis, dan penuh harapan. Semua diberi kesempatan yang sama. Di atas kertas, ya. Di lapangan, kita sudah cukup matang untuk tidak berpura-pura masih baru lulus orientasi.
Jangan terlalu percaya diri hanya karena merasa kompeten. Skill, sertifikat, dan pengalaman bertahun-tahun memang tersusun rapi di CV. Tapi dalam dunia rekrutmen, itu sering kali cuma berfungsi sebagai aksesoris. Yang benar-benar menentukan biasanya selembar kertas sakti bernama surat rekomendasi—semakin dekat ke pusat kuasa, semakin cepat dibaca, semakin ringan jalannya.
Seleksi selalu diklaim terbuka, objektif, dan berbasis sistem daring. Formulir diisi lengkap, dokumen diunggah sesuai format, sistem pun berjalan dengan sangat patuh. Sayangnya, banyak nama sudah mengantre sejak jauh hari. Proses seleksi tinggal ritual administratif agar terlihat prosedural. Sistem bergerak, tapi arah tujuannya sudah ditentukan sejak awal.
Bagi mereka yang datang tanpa relasi, posisinya kurang lebih seperti peserta undian berhadiah. Kalau lolos, anggap saja rezeki nomplok. Kalau tidak, jangan terlalu kecewa—karena sejak awal memang bukan kita yang dipesan. Ini bukan semata adu kapasitas, tapi juga adu jaringan dan nasib baik.
Rekrutmen lalu dipoles dengan narasi manis: transparan, profesional, dan akuntabel. Dari luar tampak lurus dan bersih, sementara di balik layar ada tikungan-tikungan kecil yang dianggap lumrah. Jalur resmi tetap dipasang rambu-rambu, tapi jalur belakang sering kali berubah jadi jalan tol bebas hambatan.
Meski begitu, harapan tetap layak dipelihara. Semoga mereka yang akhirnya mengisi posisi di tahun 2026 benar-benar hadir untuk bekerja, bukan sekadar mengisi daftar hadir. Bukan figur yang rajin unggah dokumentasi rapat dan ngopi, lalu menghilang saat pekerjaan nyata menunggu.
Sebab dunia kerja tidak membutuhkan orang yang sekadar “ada namanya”. Yang dibutuhkan adalah mereka yang mau turun tangan, berpikir bersama, dan menyelesaikan masalah. Jangan sampai logika kerja terbalik: orang yang direkrut justru lebih sering “dibantu” oleh mereka yang seharusnya didampingi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































