Di era digital saat sekarang ini, media sosial menjadi tempat untuk mencari hiburan, informasi, atau bahkan proses pembentukan identitas diri seseorang. Setiap hari, lebih dari jutaan pengguna menggulir layar ponsel mereka tanpa menyadari bahwa setiap konten yang ditampilkan itu telah dipilih oleh sebuah sistem yang bernama algoritma. Algoritma bekerja dengan cara menyesuaikan konten atau berita yang sesuai dengan minat pengguna. Tetapi Apakah penyesuaian konten tersebut benar-benar menguntungkan? Atau perlahan mengurangi kebebasan berfikir? kemudian ketika konten telah disesuaikan berdasarkan data, apakah masih bisa dikatakan bahwa pikiran masih sepenuhnya milik kita?
Fenomena ini menjadi sesuatu yang harus diperhatikan, karena media sosial bukan lagi hal yang pasif namun aktif. Media sosial tidak hanya menampilkan konten, tetapi juga mengarahkan perhatian, membentuk persepsi, bahkan bisa mempengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan. Dimana, banyak pengguna media sosial yang sangat mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum jelas kebenarannya ( Hoaks). Hal ini tentunya menjadikan peran algoritma semakin krusial.
Bagaimana algoritma membentuk echo chamber yang bisa membatasi perspektif? Semakin sering seseorang mengklik, mencari, menonton atau bahkan menyukai suatu konten, maka semakin sering konten tersebut muncul di beranda si pengguna. Hal ini sekilas tampak menguntungkan, karena ia mendapatkan konten yang memang sesuai dengan minatnya. Namun dalam jangka waktu yang panjang, hal ini tentu bisa mengubah pola pikir seseorang yang hanya berfokus pada satu jenis perspektif. Misalnya ani sering menyukai konten tiktok tentang anime, beranda tiktok ani tentu akan dibanjiri oleh konten anime tanpa pernah melihat sudut pandang yang berbeda. Hal ini bisa membentuk persepsi “ wah ternyata semua orang berpandangan bahwa anime itu bagus” padahal kenyataannya hanya algoritma yang membuat lingkungan digital tampak homogen. Proses ini secara tidak langsung menjadikan pola pikir yang tertutup dan kurang kritis.
Kebebasan berfikir pada dasarnya tergantung dari kemampuan seseorang untuk melihat sesuatu dari berbagai perspektif. Ketika paparan informasi disaring oleh algoritma berdasarkan prefensi yang sempit, proses berfikir tentu menjadi terbatas. Alih-alih mencari sendiri informasi, kebanyakan pengguna hanya menerima informasi yang dianggap paling cocok, bukan apa yang paling perlu untuk dipertimbangkan.
Apakah algoritma bisa memengaruhi emosi atau perasaan sehingga membuat pengguna rentan terhadap hoaks? Konten yang mengandung emosi (kemarahan, ketakutan) jauh lebih banyak bermunculan daripada konten netral. Akibatnya, algoritma sering mengambil konten dengan tema tersebut. Jika konten ini sering dilihat, pengguna akan cendrung berpikir dengan perasaan, bukan dengan akal sehat. Ini yang memicu masyarakat semakin rentan terhadap hoaks. Banyak yang mempercayai suatu informasi bukan karena informasi itu benar, tetapi karena sering muncul dan sesuai dengan emosi yang dominan. Ketika logika kalah dari sensasi dari sinilah pikiran tidak lagi berjalan dengan semestinya. Jika hal ini terus dibiarkan pemikiran akan semakin mudah dibentuk, bukan lewat fakta melainkan oleh pola distribusi konten yang telah ditentukan oleh platform.
Sejauh mana algoritma dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari? Misalnya, rekomendasi produk, restoran, musik bahkan pasangan yang ada dalam aplikasi dating itu berbasis algoritma. Semakin sering kita mengikuti rekomendasi tersebut, semakin besar ketergantungan yang diciptakan oleh sistem. Algoritma diibaratkan sebagai asisten pribadi yang tentunya mengarahkan kita kepada keputusan yang paling cepat dan mudah. Namun kemudahan tersebut mengurangi kemampuan memilih. Dimana kita jarang mempertimbangkan apakah pilihan itu benar-benar sesuai kebutuhan atau hanya prediksi algoritma atas perilaku kita. Secara tidak langsung pengguna terjebak antara pilihan yang paling direkomendasikan dan kebebasan berfikir terkikis melalui kenyamanan yang ditawarkan oleh sistem.
Dari ketiga persoalan diatas, jelas bahwa algoritma media sosial mempengaruhi cara seseorang berfikir, namun bukan berarti teknologi sepenuhnya membawa dampak negatif. Algoritma juga dapat bermanfaat apabila digunakan dengan etika dan relugasi yang benar. Untuk menjaga kebebasan berfikir, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital dengan cara memahami cara kerja algoritma, membatasi konsumsi konten yang bersifat sensasional, memfilter terlebih dahulu suatu informasi sebelum mempercayainya, dan berhenti menerima rekomendasi algoritma secara pasif.
Pada akhirnya, kebebasan berfikir bukan sesuatu yang hilang secara tiba-tiba. Ia menghilang perlahan, setiap kali kita menyerahkan keputusan kepada layar tanpa mempertanyakan proses dibaliknya. Tantangan terbesar kita hari ini adalah bukan sekedar memahami algoritma tetapi juga memastikan bahwa bukan mesin yang mengendalikan pikiran kita.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































