TANGSEL – Kebakaran yang sempat melanda salah satu Gudang bahan Kimia di Taman Tekno 2 beberapa waktu lalu memang telah berhasil dipadamkan.
Namun demikian, dampaknya belum sepenuhnya hilang. Hingga kini, bau tajam masih tercium di sekitar area kejadian dan memicu kekhawatiran warga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Bani Khosyatulloh memastikan, pihaknya telah melakukan langkah penanganan atas dugaan pencemaran sungai dengan menyemprotkan cairan Biosaka.
Upaya itu dilakukan untuk menetralisir air sekaligus mengurangi bau menyengat yang masih tercium di sekitar lokasi.
Menurut Bani, cairan yang digunakan adalah Biosaka N level 1. Selama ini, jenis tersebut biasa dipakai untuk menyemprot bau di TPS Cipeucang.
Namun, dalam kasus ini, cairan itu dimanfaatkan untuk menetralisir air yang terdampak pencemaran.
“Jumlah karbon saya enggak tahu jumlahnya. Tapi kita pakai yang tahu saya, Biosaka,” ujar Bani, Kamis 12 Februari 2026
Bani menegaskan, fungsi Biosaka bukan sekadar menghilangkan bau, melainkan juga untuk menetralisir air.
“Biosaka itu untuk menetralisir air. Bedanya N level 1 yang biasa kita gunakan untuk nyemprot bau TPS Cipeucang. Nah, itu rupanya buat nyemprot air pun menetralisir bisa. Biosaka N level 1,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai volume cairan yang digunakan, Bani mengaku tidak mengetahui secara rinci. Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah metode penyemprotan.
“Kalau itu banyaknya saya enggak tahu. Kan dia mah yang penting gelombang semprotan (spray), bukan masalah titik. Yang penting gelombangnya dilawan pakai spray itu. Udah,” katanya.
Meski demikian, bau menyengat di lokasi masih tercium. Terkait kemungkinan adanya partikel kimia berbahaya di udara, Bani menyebut pihaknya belum dapat memastikan sebelum hasil uji laboratorium keluar.
“Saya enggak tahu masalah baunya karena enggak tahu ilmu tentang itu ya. Tapi tadi dengan pakai cairan semprotan Biosaka tadi dalam rangka menghilangkan baunya tadi, termasuk menetralisir partikel-partikel menurut si Pak Ansar tadi,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi sementara, DLH telah mengimbau masyarakat sekitar untuk menggunakan masker.
“Sementara ini kan sudah kita himbau untuk pakai masker. Tapi untuk lebih jelas mendingan ke Pak Ansar nih kalau mau wawancara terkait,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bani memastikan DLH telah mengambil tiga jenis sampel untuk diuji di laboratorium, yakni udara, air, dan lumpur dari lokasi terdampak.
“Kita ambil sampelnya. Ambil sampel udaranya. Udara, air, dan lumpur. Iya, hasilnya belum. Nanti saya belum tahu berapa hari hasilnya, nanti kan nunggu di lab,” jelasnya.
Hingga kini, hasil uji laboratorium tersebut masih dinantikan. DLH menyatakan akan menentukan langkah lanjutan setelah data ilmiah keluar dan tingkat pencemaran dapat dipastikan secara menyeluruh.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































