Bagaikan Jalan dari Batu ke Malang : Tingkat Baca Kritis Mahasiswa Menurun sebagai Akibat Penggunaan AI
“Din, kamu gak mau kerjakan tugas Bahasa Indonesia kah? Deadline nya besok nih.”
“Santai aja, kan ada AI.”
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan Artificial Intelligence (AI) meningkat tajam di kalangan mahasiswa. Hubungan antara AI dengan manusia bak tubuh dan gula. AI menawarkan kemudahan, terutama dalam mengerjakan tugas akademik secara cepat. Namun, di balik kemudahan itu muncul kekhawatiran bahwa kemampuan baca kritis mahasiswa semakin menurun sebagai akibat dari ketergantungan. Fenomena ini bukan sekadar asumsi sejumlah penelitian menunjukkan tanda-tanda penurunan kemampuan memahami teks secara mendalam.
Apa Itu Membaca Kritis?
Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih dalam, kita harus mengenal apa itu membaca kritis. Membaca kritis merupakan keterampilan kognitif penting yang memungkinkan individu untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menafsirkan teks secara mendalam dan objektif (Siti dkk.2025). Terdapat tantangan yang yang besar dalam era digital sekarang. Kemudahan mendapat informasi membuat ketergantungan pada manusia terhadap internet. Bahkan, kehadiran AI mulai memengaruhi sistem belajar dimana mahasiswa menjadi ketergantungan.
Apa Itu Artificial Intelligence (AI)?
Menurut Muhammad Afdan Rojabi dalam Jurnal yang berjudul Pengantar Artificial Intelligence (AI), AI adalah kemampuan mesin atau komputer untuk meniru kemampuan kognitif manusia seperti belajar, berpikir, bernalar, dan menyelesaikan masalah. Dari sini kita bisa melihat betapa AI menawarkan kemudahan untuk mengakses pendidikan. Terdapat beberapa aplikasi yang berbasis AI seperti gemini, chatGPT, copilotAI, dan metaAI. Layaknya bulan dan bumi yang berdampingan, manusia di era sekarang sebagai bumi akan selalu didampingi AI (diibaratkan sebagai bulan). Namun ada satu pertanyaan, apakah suatu saat posisi bumi bisa digantikan oleh bulan?
Hubungan AI terhadap kemampuan baca kritis mahasiswa
Masalah membaca kritis mahasiswa Indonesia telah lama disorot. Abidin (2017) mencatat bahwa “kemampuan literasi akademik mahasiswa masih berada pada kategori rendah, terutama dalam aspek membaca dan memahami teks ilmiah secara kritis”. Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan sebelum perkembangan AI, kemampuan baca kritis sudah menjadi tantangan. Penurunan baca kritis mahasiswa menjadi lebih rumit karena kehadiran AI. Ketergantungan yang berlebihan pada AI berpotensi menghambat proses berpikir kritis mahasiswa. Mahasiswa seringkali hanya menerima olahan mentah dari AI tanpa melakukan pengecekan ulang. Ini berarti AI bukan hanya mengurangi intensitas membaca, tetapi juga menurunkan kemampuan menilai kualitas informasi.
Faktor – Faktor Penyebab
Pertanyaan yang umum muncul dalam sebuah masalah adalah “apa faktor penyebab masalah tersebut terjadi?” Pertama, adanya pengaruh budaya instan. Generasi saat ini terbiasa dengan informasi cepat sehingga sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Internet dan media sosial membentuk perilaku yang melemahkan kemampuan membaca mendalam (deep reading). Pada kalangan mahasiswa, dominasi konten instan seperti TikTok, Instagram Reels, dan video pendek membuat mereka jarang terlibat dalam aktivitas membaca panjang yang memerlukan konsentrasi, sehingga kemampuan membaca kritis menurun secara signifikan. Kemudahan itu memperbudak mahasiswa untuk tidak melakukan pengecekan ulang.
Kedua, kurangnya kebiasaan membaca yang berasal dari kemauan diri sendiri. Ketika mahasiswa membaca hanya untuk menyelesaikan tugas, bukan sebagai kebutuhan intelektual, motivasi dari dalam diri menjadi rendah. Minimnya lingkungan yang mendukung kegiatan literasi, seperti komunitas membaca atau perpustakaan yang aktif membuat kemampuan mereka menganalisis, mengevaluasi, dan menafsirkan bacaan menjadi tidak terlatih, sehingga kualitas membaca kritis cenderung menurun.
AI menyediakan informasi dalam bentuk ringkas, cepat, dan siap pakai, sehingga mahasiswa cenderung melewati proses membaca yang mendalam. Padahal, membaca kritis membutuhkan aktivitas kognitif yang aktif seperti mengevaluasi argumen, menilai bukti, dan memahami konteks secara mendalam. Ketika AI memberikan jawaban instan, mahasiswa tidak lagi menjalani proses analisis tersebut, sehingga kebiasaan membaca kritis berkurang.
Dampak Negatif AI terhadap kemampuan baca kritis Mahasiswa
Penurunan kemampuan membaca kritis menimbulkan dampak yang merusak kualitas akademik dan proses berpikir mahasiswa, yaitu:
Penurunan kualitas berpikir tingkat tinggi: Mahasiswa kesulitan bergerak dari pemahaman dasar menuju pemikiran tingkat tinggi seperti analisis. Proses pembelajaran cenderung berubah menjadi sekadar menghafal informasi semata, yang menghambat tujuan deep learning perguruan tinggi.
Kualitas hasil akademik menurun: Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya literasi baca kritis mahasiswa berkorelasi dengan menurunnya mutu akademik. Misalnya, studi Hidayat dkk. (2024) melaporkan skor rata-rata kemampuan membaca mahasiswa hanya 71,29 (skala 0-100), dengan kemampuan menganalisis makna tersirat tergolong rendah. Kemampuan mengidentifikasi tema utama dan detail pendukung juga belum optimal, walaupun pemahaman makna tersurat masih cukup baik. Akibatnya, kualitas pemahaman mendalam materi perkuliahan melemah.
Penurunan keterlibatan dalam kelas: Ketika mahasiswa kurang terbiasa berpikir kritis, mereka cenderung datang ke kelas tanpa kesiapan untuk berdiskusi atau menyampaikan ide secara mendalam. Padahal, keterampilan membaca kritis sangat penting untuk membantu mahasiswa memahami, menganalisis, dan mengembangkan pandangan mereka secara lebih tajam.
Solusi untuk mengurangi ketergantungan AI
Terdapat cara agar ketergantungan AI di kalangan mahasiswa bisa berkurang. Kami mengusung konsep Prokus-AI (Problem-Based Learning, Diskusi Kritis, dan AI secukupnya).
Problem-Based Learning (PBL): Terdapat pepatah yang sering kita dengar, “pengalaman adalah guru terbaik”. PBL dirancang untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dengan menuntut mahasiswa memahami dan menemukan pemecahan masalah secara mandiri.
Diskusi Kritis: Metode ini mendorong mahasiswa untuk belajar lebih mandiri, mendorong mereka mencari dan menganalisis sumber (artikel) untuk memahami kasus. Diskusi adalah metode yang disukai dan efektif, asalkan dosen profesional dalam memfasilitasi dialog yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan kemampuan berpikir kritis.
AI Secukupnya: Di era digital ini, kita tidak bisa memungkiri bahwa kita akan selalu berdampingan dengan AI. AI harus digunakan untuk mendorong pemikiran kritis alih-alih menyediakan solusi instan. penerapan meliputi penggunaan fitur dialog interaktif seperti chatbot diskusi dan forum reflektif otomatis yang merespons dengan rujukan data valid. Mahasiswa menggunakan harus menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan aktif, bukan pasif.
Kesimpulan
Pada hakikatnya, manusia tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari kehadiran kecerdasan buatan (AI). Namun, yang paling penting bukanlah sekadar penggunaan AI itu sendiri, melainkan kebijaksanaan manusia dalam mengelola dan memanfaatkannya. AI tidak seharusnya menggantikan proses belajar mahasiswa, karena proses belajar adalah ruang tumbuh yang melibatkan pengalaman, refleksi, dan interaksi manusia.
AI dapat ditempatkan sebagai media pendukung pembelajaran yang membantu mahasiswa memperluas wawasan, mempercepat akses informasi, dan mempermudah analisis. Akan tetapi, mahasiswa tetap perlu menjaga kemampuan baca kritis agar tidak menurun. Membaca kritis adalah keterampilan manusia yang melibatkan empati, intuisi, dan penilaian moral hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
Dengan demikian, kemampuan baca kritis mahasiswa tidak akan tergeser oleh AI, melainkan justru diperkuat. AI menjadi mitra yang membantu, bukan pengganti. Mahasiswa tetap menjadi pusat dari proses belajar, dengan AI sebagai sarana yang mendukung tumbuhnya nalar, etika, dan kemanusiaan.
Daftar Pustaka
Abidin, dkk. (2017). Pembelajaran Literasi Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi
Matematika, Sains, membaca dan Menulis. Jakarta:Bumiaksara
A’isyah, Siti dkk (2025). Membaca Kritis: Bagaimana Mengidentifikasi Informasi yang Akurat. https://share.google/ewGZQjLaG2bANgd6c
Hidayat, Ahid dkk. (2024). Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Big Book Kelompok B di TK Negeri Labaraga. https://rgap.uho.ac.id/index.php/journal/article/view/484/86
Rojabi, M. Afdan. (2025). Pengantar Artificial Intelligence (AI). https://share.google/7VPwNfoK5Ig6m09RV
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































