Banjir bandang yang melanda Papua baru-baru ini bukan hanya sekadar bencana alam biasa. Fenomena air bah yang menghanyutkan kayu gelondongan dalam jumlah besar menjadi tanda tanya besar: dari mana asal kayu-kayu tersebut? Kehadiran kayu gelondongan di tengah arus banjir jelas menunjukkan adanya aktivitas penebangan hutan yang masif. Hal ini menegaskan bahwa bencana yang terjadi bukan semata-mata karena curah hujan tinggi, melainkan juga akibat ulah manusia yang merusak keseimbangan alam.
Hutan Papua dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia, menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Namun, eksploitasi yang dilakukan secara berlebihan membuat hutan kehilangan daya tahan alaminya. Ketika pohon-pohon ditebang tanpa kendali, tanah kehilangan penopang, dan aliran air hujan tidak lagi terserap dengan baik. Akibatnya, banjir bandang menjadi ancaman nyata. Kayu gelondongan yang terbawa arus hanyalah bukti fisik dari lemahnya pengawasan terhadap aktivitas logging, baik yang legal maupun ilegal.
Dampak dari banjir ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghantam kehidupan sosial masyarakat Papua. Rumah-rumah warga hancur, fasilitas umum lumpuh, dan korban jiwa berjatuhan. Lebih jauh lagi, masyarakat adat yang selama ini bergantung pada hutan untuk bertahan hidup kehilangan sumber daya penting. Ekosistem sungai dan hutan pun terganggu, satwa liar kehilangan habitat, dan rantai kehidupan yang selama ini terjaga menjadi kacau.
Sebagai mahasiswa, saya melihat peristiwa ini sebagai alarm keras yang harus kita dengar bersama. Generasi muda tidak boleh diam melihat eksploitasi alam yang merugikan masyarakat lokal dan merusak masa depan lingkungan. Pemerintah dan perusahaan harus bertanggung jawab, bukan hanya dengan memberikan bantuan darurat, tetapi juga dengan memperbaiki tata kelola hutan, menindak tegas pelaku illegal logging, serta memastikan pembangunan di Papua tidak mengorbankan kelestarian alam.
Banjir Papua yang menghanyutkan kayu gelondongan adalah simbol konflik antara alam dan keserakahan manusia. Jika eksploitasi terus dibiarkan tanpa kontrol, bencana serupa akan terus berulang. Mahasiswa dan masyarakat sipil harus bersatu, menuntut keadilan ekologis, dan menjaga Papua sebagai warisan alam yang tak ternilai. Karena pada akhirnya, menjaga hutan Papua berarti menjaga masa depan kita bersama.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































