TANGSEL — Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, memuji langkah Provinsi Banten, khususnya wilayah Tangerang Raya, yang dinilai berhasil mempercepat upaya eliminasi tuberkulosis (TBC) melalui kolaborasi lintas sektor dan kerja lapangan yang nyata.
Benjamin mengatakan, penanganan TBC di Banten sudah berjalan sangat baik, mulai dari deteksi dini, skrining, hingga pendampingan pasien. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya di fasilitas kesehatan, tapi juga pada keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah.
“Banten ini sudah bergerak cepat. Pemerintah daerah, kader, dan masyarakatnya aktif. Ini contoh nyata bahwa eliminasi TBC bisa dicapai kalau semua pihak punya komitmen,” ujar Benjamin saat kunjungan kerja di Kota Tangerang, Selasa 11 November 2025.
Maka itu, Benjamin menjelaskan, Kementerian Kesehatan menargetkan eliminasi TBC nasional pada tahun 2030, dan wilayah Tangerang Raya menjadi salah satu contoh penerapan terbaik di tingkat daerah.
Lebih lanjut Benjamin juga menekankan, pentingnya pemenuhan obat dan pendampingan pasien agar pengobatan tuntas.
“Kita tidak boleh berhenti di tengah jalan. Obat memang tersedia gratis, tapi disiplin minum obat adalah kunci. Kalau berhenti, bukan sembuh yang didapat, malah bisa resisten obat,” tegasnya.
Selain itu, Benjamin menyoroti, pentingnya kolaborasi lintas dinas, mulai dari sektor pendidikan, sosial, hingga permukiman.
Menurutnya, penanganan TBC tidak bisa berdiri sendiri karena faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap tingkat penularan penyakit.
“Rumah lembab, ventilasi buruk, pencahayaan kurang itu semua mempercepat penularan. Karena itu, program seperti bedah rumah sehat juga sangat penting dalam mendukung upaya pencegahan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan(Tangsel), Pilar Saga Ichsan memastikan, pihaknya terus menindaklanjuti arahan Kementerian Kesehatan untuk mempercepat eliminasi TBC di wilayahnya.
Pilar menyebut, Tangsel sudah melampaui target nasional dengan capaian skrining mencapai 103 persen dari total sasaran sekitar 4.900 warga.
“Kami sudah melakukan lebih dari 5.000 skrining. Dari hasil itu, 95 persen sensitif obat dan sisanya resisten. Sekarang kami fokus memastikan semua pasien disiplin minum obat sampai tuntas,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pilar menambahkan, Pemerintah Kota Tangsel juga menggandeng berbagai dinas lain untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung pemulihan pasien.
“Penanganan TBC nggak bisa cuma dari sisi kesehatan. Dinas Perkim misalnya, lewat program Bedah Rumah sudah memperbaiki ribuan rumah warga agar lebih layak huni dan sehat. Jadi semuanya saling nyambung,” ujarnya.
Dukungan penuh juga datang dari Gubernur Banten Andra Soni, yang menegaskan bahwa Pemprov siap memperkuat koordinasi lintas daerah untuk mempercepat penanganan TBC di kawasan aglomerasi Tangerang Raya.
“Pemerintah Provinsi berkomitmen memperkuat fasilitas kesehatan dan memastikan akses pelayanan lebih mudah bagi masyarakat. Banten harus jadi contoh daerah yang berhasil menekan angka TBC,” tutur Andra.
Dengan semangat kolaborasi yang solid, Banten kini menunjukkan bahwa eliminasi TBC bukan sekadar slogan, tapi kerja nyata yang bisa jadi contoh bagi daerah lain termasuk Jakarta.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































