Purwokerto – Siaran Berita – Tren investasi kini tak lagi didominasi oleh pria berjas di gedung perkantoran. Kalangan anak muda, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga pun kini mulai melek finansial dan ingin mengembangkan aset mereka. Berdasarkan data internal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat posisi investor muda (dibawah 30 tahun) per September 2025 mencapai 54,20%, untuk kelompok usia 31-40 tahun sebesar 24,85%, dan untuk kelompok usia 41-50 tahun mencapai 12,31%.
Namun, banyaknya pilihan instrumen investasi seringkali membuat pemula bingung. Harus beli emas, reksa dana, atau langsung terjun ke saham? Ketidaktahuan ini tak jarang justru menjerumuskan masyarakat ke dalam investasi bodong atau kerugian besar akibat salah strategi.

Agar tidak salah langkah, berikut adalah panduan dasar berinvestasi yang aman dan mudah dipahami bagi pemula:
1. Kapan Waktu Terbaik untuk Memulai?
Jawabannya klise namun valid yaitu secepat mungkin, tapi dengan syarat. Syarat utamanya adalah kondisi keuangan dasar sudah sehat. Artinya, Anda tidak boleh berinvestasi jika masih memiliki utang konsumtif yang menumpuk atau belum memiliki Dana Darurat.
Bagi mahasiswa, mulailah saat sudah bisa menyisihkan uang jajan, walau hanya Rp100 ribu per bulan. Bagi ibu rumah tangga, investasi bisa dimulai ketika pos belanja bulanan sudah aman dan ada sisa dana “dingin” (uang yang tidak dipakai dalam waktu dekat).
2. Cara Menentukan Aset: Kenali Tujuan dan Durasi
Kesalahan terbesar pemula adalah ikut-ikutan tren tanpa tahu tujuannya. Menentukan aset harus berbasis durasi waktu:
a. Jangka Pendek (< 1 Tahun): Jika uangnya akan dipakai untuk bayar semesteran atau belanja kebutuhan lebaran tahun depan, pilih aset berisiko rendah dan mudah dicairkan.
Rekomendasi: Deposito Bank atau Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Nilainya stabil dan cenderung naik perlahan.
b. Jangka Menengah (1–5 Tahun): Untuk tujuan seperti dana menikah atau DP rumah.
Rekomendasi: Reksa Dana Pendapatan Tetap (Obligasi) atau Emas. Emas sangat cocok bagi ibu rumah tangga karena fisiknya nyata dan nilainya menjaga daya beli dari inflasi.
Catatan: Para Perencana Keuangan Bersertifikat (CFP) sering mengingatkan bahwa emas sejatinya berfungsi sebagai pelindung nilai (hedging) agar uang Anda tidak tergerus inflasi, bukan untuk melipatgandakan kekayaan secara drastis.
c. Jangka Panjang (> 5 Tahun): Untuk dana pensiun atau biaya kuliah anak yang masih bayi.
Rekomendasi: Saham (pilih saham perusahaan besar/Blue Chip) atau Reksa Dana Saham. Meski fluktuatif (naik-turun) dalam jangka pendek, potensinya paling tinggi dalam jangka panjang.
3. Sesuaikan dengan Profil Risiko
Anak muda biasanya memiliki profil risiko agresif karena waktu mereka masih panjang. Jika rugi hari ini, mereka masih punya waktu bertahun-tahun untuk recovery. Sebaliknya, ibu rumah tangga biasanya lebih konservatif karena uang yang dikelola menyangkut stabilitas dapur keluarga. Jangan memaksakan diri masuk ke aset berisiko tinggi (seperti kripto atau saham gorengan) jika mental belum siap melihat grafik merah.

4. Kapan Harus Berhenti atau Menjual Aset?
Banyak pemula panik menjual saat harga turun, padahal itu keliru. Ada dua waktu yang tepat untuk menjual investasi Anda:
a. Saat Tujuan Tercapai: Jika target dana liburan sudah terkumpul dari hasil reksa dana, segera cairkan dan nikmati. Jangan serakah menunggu naik lagi.
b. Saat Kinerja Aset Memburuk: Jika fundamental perusahaan yang sahamnya Anda beli menuju kehancuran, atau kinerja manajer investasi terus merosot dibanding rata-rata pasar, itulah saatnya Anda cut untuk menyelamatkan sisa modal dan memindahkannya ke aset yang lebih produktif.
Investasi bukanlah jalan pintas untuk cepat kaya, melainkan sebagai ‘kendaraan’ untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan. Mulailah dari nominal berapapun, pilih yang legalitasnya jelas, dan lakukan secara konsisten. Pastikan lembaga investasi yang Anda pilih sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar terhindar dari penipuan.
Penulis: Nurwendah Alya Putri Nugraheni
Mahasiswa Program Magister Ilmu Manajemen Unsoed
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































