Kasus peledakan bom rakitan oleh seorang pelajar SMAN 72 Jakarta menjadi tamparan keras bagi masyarakat, mengungkap kerentanan kondisi psikologis remaja masa kini. Peristiwa ini bukan sekadar tindakan kriminal, melainkan cerminan nyata dari masalah perkembangan emosional dan sosial yang krusial pada fase remaja. Masa remaja adalah periode krusial yang diwarnai perubahan fisik, kognitif, dan emosional yang sangat cepat.
Ketidakstabilan emosi memang lumrah, namun tanpa arahan dan dukungan yang tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi perilaku berisiko tinggi. Kasus pelaku bom SMAN 72 menyoroti bagaimana kegagalan dalam meregulasi emosi bisa mendorong individu pada tindakan ekstrem yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Secara neurobiologis, menurut Jaoqin perilaku manusia diatur oleh dua sistem utama: Prefrontal Cortex (PFC) yang bertanggung jawab atas kontrol diri dan berpikir tingkat tinggi, serta Sistem Limbik yang mengelola emosi, memori, dan motivasi. Menurutnya, yang terjadi pada remaja, sistem emosional (Limbik) sering kali aktif lebih dulu, sementara sistem kontrol diri (PFC) masih dalam tahap pematangan. Kondisi ini membuat remaja rentan menjadi impulsif, mudah terprovokasi, dan gemar mengambil risiko. Emosi negatif yang tidak terkelola—seperti kemarahan, frustrasi, dan krisis identitas—dapat menjadi pemicu utama perilaku agresif. Remaja yang minim pengalaman dan kemampuan meregulasi emosi sering kali beralih pada perilaku menyimpang seperti perkelahian, perusakan, hingga tindakan berbahaya seperti yang terjadi di sekolah tersebut. Penelitian itu menunjukkan korelasi kuat antara ketidakstabilan emosi dengan tindakan impulsif dan agresif. Tanpa bimbingan, ekspresi emosi negatif mereka berujung pada kerugian.
Lingkungan Eksternal: Pemicu Stres dari Rumah dan Sekolah
Dampak psikologis internal diperparah oleh faktor lingkungan. Muh. Daud dan Dian Novita menjelaskan, lingkungan eksternal memiliki kontribusi signifikan terhadap pembentukan perilaku. Lingkungan Rumah dengan pola asuh permisif, kurangnya komunikasi, atau tekanan tinggi di rumah dapat menghilangkan kontrol dan bimbingan emosional yang dibutuhkan remaja. Lingkungan Sekolah yang gagal menciptakan safe space, relasi sosial yang sehat, dan sistem pemantauan yang baik, berpotensi membuat remaja merasa terasing. Isu seperti bullying, tekanan akademik, dan kompetisi sosial menjadi pemicu stres emosional yang masif.
Kasus ledakan di SMAN 72 adalah alarm darurat bagi semua pihak—pendidik, orang tua, dan masyarakat—untuk memprioritaskan kesehatan emosional remaja. Kunci pencegahannya dengan intervensi psikologis, pendidikan regulasi emosi, peningkatan komunikasi keluarga, dan lingkungan sekolah yang suportif. Remaja tidak hanya butuh pengawasan, tetapi pemahaman dan pendampingan yang tepat agar mereka mampu mengekspresikan emosi secara sehat dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































