Media sosial saat ini semakin akrab dengan kehidupan anak-anak. Hampir setiap hari mereka terpapar berbagai jenis konten digital yang muncul di layar ponsel atau tablet. Salah satu jenis konten yang banyak dibicarakan adalah konten brainrot. Istilah brainrot merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten digital yang dangkal, repetitif, dan minim nilai edukatif sehingga dapat memengaruhi cara berpikir. Pada anak-anak, fenomena ini menjadi persoalan serius karena masa perkembangan mereka masih sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, termasuk dari media digital yang mereka konsumsi setiap hari.
Media sosial seperti TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels menyajikan video singkat yang dirancang untuk menarik perhatian dalam waktu yang sangat cepat. Konten-konten tersebut sering kali dibuat dengan visual mencolok, suara keras, dan alur yang tidak beraturan. Sayangnya, tidak sedikit di antaranya berisi humor absurd, tantangan yang tidak masuk akal, bahasa kasar, atau adegan berlebihan tanpa pesan yang mendidik. Ketika anak-anak terus-menerus terpapar konten seperti ini, mereka berisiko mengalami penurunan daya konsentrasi, kemampuan berpikir kritis, serta kepekaan sosial. Salah satu dampak yang paling mudah terlihat dari konten brainrot adalah menurunnya kemampuan fokus anak. Anak yang terbiasa menonton video berdurasi sangat singkat, sekitar 10–30 detik, cenderung kesulitan untuk membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, atau mengerjakan tugas yang membutuhkan perhatian lebih lama. Otak mereka terbiasa dengan rangsangan instan, sehingga aktivitas yang memerlukan kesabaran dianggap membosankan. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, bukan tidak mungkin prestasi akademik anak akan menurun dan proses belajar menjadi tidak optimal.
Selain itu, brainrot juga berpengaruh terhadap pola bahasa dan perilaku anak. Banyak konten viral yang menggunakan kata-kata kasar, ejekan, atau candaan berlebihan yang sebenarnya tidak pantas ditiru. Anak-anak yang masih berada dalam tahap meniru sering kali menganggap apa yang mereka lihat di layar sebagai sesuatu yang normal dan wajar. Akibatnya, mereka mulai meniru gaya bicara, ekspresi, bahkan perilaku negatif tanpa memahami konteks maupun dampaknya. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan guru dalam membentuk karakter anak yang santun dan beretika. Brainrot juga berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis anak. Konten dangkal yang dikonsumsi secara pasif membuat anak terbiasa menerima informasi tanpa mempertanyakan makna dan kebenarannya. Mereka lebih fokus pada hiburan sesaat dibandingkan proses memahami, menganalisis, atau merefleksikan sesuatu. Jika dibiarkan, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mudah terpengaruh, kurang mandiri dalam berpikir, dan sulit membedakan antara informasi yang bermanfaat dan yang merugikan.
Dampak psikologis dari konten brainrot juga tidak bisa diabaikan. Anak yang terlalu sering terpapar konten semacam ini berisiko mengalami kecanduan gawai, mudah gelisah saat tidak memegang ponsel, serta mengalami perubahan emosi yang tidak stabil. Beberapa anak menjadi lebih impulsif, cepat bosan, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Interaksi sosial secara langsung pun semakin berkurang, padahal interaksi tersebut sangat penting untuk melatih empati, kerja sama, dan kemampuan berkomunikasi sejak dini. Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa teknologi dan media sosial tidak sepenuhnya membawa dampak buruk. Teknologi tetap memiliki manfaat besar jika digunakan dengan bijak dan sesuai kebutuhan. Permasalahan utamanya terletak pada jenis konten yang dikonsumsi serta kurangnya pengawasan. Oleh karena itu, peran orang tua, guru, dan lingkungan sekitar sangat penting dalam membimbing anak. Orang tua perlu mengawasi konten yang ditonton anak, membatasi waktu penggunaan gawai, serta mengajak anak berdiskusi agar mereka tidak hanya menjadi penonton pasif. Guru juga dapat berperan dengan menanamkan literasi digital sejak dini agar anak mampu menggunakan media secara cerdas dan bertanggung jawab.
Sebagai penutup, brainrot merupakan ancaman nyata bagi perkembangan mental dan intelektual anak jika tidak disikapi dengan serius. Dampaknya tidak hanya terlihat dari sisi akademik, tetapi juga pada karakter, emosi, dan pola pikir anak. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat. Anak-anak tidak hanya perlu dilindungi dari konten yang merusak, tetapi juga diarahkan agar mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berkembang, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































