Kalau ngomongin organisasi mahasiswa, yang sering muncul di pikiran biasanya rapat yang lama, dikerjar deadline acara, revisi proposal berkali-kali, dan perjuangan membagi waktu antara kuliah, tugas, dan kegiatan kampus. Tapi dari semua pengalaman itu, ada satu hal sederhana yang kadang justru hilang yaitu apresiasi. Padahal, dari sudut pandang mahasiswa yang aktif berorganisasi, apresiasi bukan sekadar formalitas. Ia adalah energi kecil yang membuat anggota tetap semangat, merasa dihargai, dan mau terus berkontribusi.
Sebagai mahasiswa, tentu kita masuk organisasi dengan harapan belajar banyak hal baik itu mengenai kepemimpinan, komunikasi, manajemen konflik, bahkan cara menghadapi tekanan. Namun dalam praktiknya, tidak jarang anggota merasa kerja kerasnya dianggap biasa saja. Misalnya, sudah begadang mengurus acara, tapi yang diingat malah kesalahan kecil. Pengalaman seperti ini bukan hanya terjadi pada satu dua orang tetapi hampir setiap mahasiswa organisasi pasti pernah merasakannya. Dari sini mulai sadar bahwa budaya apresiasi bukan sesuatu yang mewah, tapi kebutuhan dasar dalam kerja tim.
Kalau melihat dunia kerja profesional, masalah kurangnya apresiasi ternyata memang nyata. Berdasarkan laporan Gallup dan Workhuman, karyawan yang mendapatkan pengakuan berkualitas tinggi bahkan 45% lebih kecil kemungkinan untuk meninggalkan organisasinya dibandingkan mereka yang jarang mendapat apresiasi. Yang artinya, rasa dihargai punya pengaruh besar terhadap loyalitas seseorang terhadap tim atau organisasi. Meskipun data tersebut berasal dari dunia kerja, relevansinya terasa banget di organisasi mahasiswa. Ketika anggota merasa dihargai, mereka cenderung bertahan dan mau terus terlibat.
Selain loyalitas, apresiasi juga punya dampak langsung pada produktivitas. Berdasarkan laporan Gallup dan Workhuman 2023, peningkatan budaya apresiasi di organisasi dapat meningkatkan produktivitas hingga sekitar 9% serta menurunkan absensi dan insiden kerja secara signifikan. Kalau ditarik ke lingkungan kampus, logikanya sama yaitu anggota yang merasa dihargai biasanya lebih aktif, lebih bertanggung jawab, dan lebih mau membantu tim tanpa harus disuruh.
Sayangnya, dalam realita organisasi mahasiswa, apresiasi sering dianggap tidak penting. Fokus nya lebih banyak pada hasil akhir apakah acara sukses atau tidak tanpa melihat proses panjang yang dilalui oleh para anggota. Menurut laporan Achievers Workforce Institute, 90% individu mengaku akan lebih produktif jika merasa dihargai, namun hanya sekitar 23% yang benar-benar merasa mendapat pengakuan yang bermakna. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, sesuatu yang juga sering terlihat di lingkungan organisasi kampus. Dari pengalaman saya sendiri, bentuk apresiasi sebenarnya tidak harus besar. Ucapan terima kasih di grup setelah acara selesai, menyebut nama anggota saat evaluasi, atau memberi kesempatan anggota menyampaikan ide tanpa takut disalahkan sudah cukup memberi dampak emosional yang kuat.
Dari sini kita juga belajar bahwa apresiasi berhubungan erat dengan rasa memiliki terhadap organisasi. Ketika seseorang merasa diakui, muncul perasaan bahwa dirinya penting dalam tim. Perasaan ini membuat anggota lebih berani mengemukakan ide, lebih terbuka terhadap kritik, dan lebih siap bekerja sama. Sebaliknya, anggota yang merasa tidak dihargai biasanya memilih diam atau bahkan menarik diri dari kegiatan organisasi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan kualitas kerja tim dan menghambat regenerasi kepemimpinan di organisasi mahasiswa.
Dari sudut pandang mahasiswa sebagai calon tenaga kerja, pengalaman organisasi menjadi latihan awal sebelum masuk dunia profesional. Jika sejak sekarang sudah terbiasa bekerja dalam lingkungan yang menghargai proses, kemungkinan besar nilai tersebut akan terbawa ke dunia kerja nanti. Sebaliknya, jika budaya organisasi kampus dipenuhi sikap saling mengabaikan kontribusi, ada risiko pola tersebut terbawa hingga lingkungan kerja profesional.
Namun, penting juga dipahami bahwa apresiasi bukan berarti memuji tanpa kritik. Dalam organisasi mahasiswa, apresiasi harus berjalan seimbang dengan evaluasi yang saling membangun. Tujuannya bukan membuat anggota merasa selalu benar, tetapi menciptakan suasana di mana anggota merasa aman untuk berkembang. Apresiasi yang tulus justru membantu anggota menerima kritik dengan lebih terbuka karena mereka tahu usahanya tetap dihargai.
Sebagai mahasiswa, kita punya kesempatan besar menjadikan organisasi kampus sebagai laboratorium sosial untuk mempraktikkan kepemimpinan yang manusiawi. Mulai dari kebiasaan kecil seperti mengucapkan terima kasih, mengakui usaha teman, atau memberikan ruang refleksi setelah kegiatan, semua itu membentuk budaya yang lebih sehat. Ketika kebiasaan ini terus dipraktikkan, organisasi mahasiswa bukan hanya tempat belajar teknis, tetapi juga tempat membangun empati dan solidaritas.
Pada akhirnya, budaya apresiasi memang terlihat sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Ia menjaga semangat anggota, meningkatkan produktivitas, memperkuat rasa memiliki, dan mempersiapkan mahasiswa menjadi tenaga kerja yang lebih manusiawi di masa depan. Menurut saya, kita bisa mulai dari hal kecil seperti saling menghargai usaha teman, tidak hanya menuntut hasil, dan mengingat bahwa di balik setiap tugas ada individu yang ingin diakui keberadaannya. Jika kebiasaan ini terus dibangun, maka organisasi tersebut tidak hanya menghasilkan acara yang sukses, tetapi juga generasi calon pekerja yang loyal, suportif, dan siap menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat di masa depan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































